Hot Mother and Ceo

Hot Mother and Ceo
62. Arief Sarfaraz



Setelah mendapatkan kabar dari Thomas, Rafa tanpa babibu lagi langsung datang kerumah sakit.


Rafa miris melihat keadaannya yang memprihatinkan.


" Bagaimana kau menemukan papa ? apa yang terjadi? papa masih hidup?" Tanya Rafa bertubi-tubi.


Yang Rafa tau, papanya meninggal karna kecelakaan pesawat. Tanpa ia tau, ternyata papanya diculik.


Rafa merasa tidak berguna sama sekali.


" Aku rasa Tuan Arief telah dipasung. Pergelangan tangannya juga terdapat luka yang membengkak." Jelas Thomas pada Rafa.


" Kesehatannya memburuk juga kekurangan gizi. Sepertinya Tuan Arief jarang diberi makan." Tutur Thomas dengan sedih.


Rafa sangat terpukul mendengarnya. Selama ini ia merasa telah menjadi orang yang berhasil. Ia merasa sudah melakukan segalanya untuk keluarganya agar baik-baik saja.


Tapi...


Tapi ternyata ia telah membiarkan orang jahat membawa salah satu orang berharganya, papanya.


Rafa tidak bisa membiarkan hal ini terlalu lama.


" Akan ku balas kalian semua." Rafa mengepalkan tangannya kuat sampai semua nadinya kelihatan.


Kali ini ia tidak akan kalah lagi. Apalagi dia sudah kecolongan Zila juga kedua kembarnya.


๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘


Selama satu tahun penuh Rafa melatih para anggotanya juga dirinya.


Papanya, Arief. Sudah baik-baik saja, Susi sangat terpukul mendengar suaminya masih hidup dalam keadaan menyedihkan.


Susi selama ini merawatnya dengan telaten hingga sembuh.


Leo juga berubah. Dulunya Leo ceria, jahil, dan banyak bicanda.


Sekarang Leo menjadi sangat dingin. Bahkan lebih dingin dari kakaknya, Leon. Leo hanya akan berbicara satu dua kata saja.


Sekarang Rafa sudah menjadi kuat. Ia bekerja sama dengan salah satu Mafia yang terkenal diEropa.


" Wolf Wild." gumam Rafa yang saat itu sedang berada dimarkasnya.


Anggota Rafa sekarang sudah ribuan. Dan mereka adalah gelandangan dari berbagai belahan dunia.


Dimana pun Rafa berada, setiap melihat gelandangan, Rafa langsung membawanya pulang dan melatih mereka.


Sekarang Mark sudah meninggal setelah dikuliti. Karena kehabisan darah, Mark meregang nyawa beberapa saat setelah itu.


" Dad." Leo muncul dari pintu tempat ia berlatih dengan samsaknya.


" Ya boy, kau membutuhkan sesuatu?" Rafa bertanya masih dengan memukul samsaknya berkali-kali.


Leo tidak menjawab, tapi malah masuk dan mengambil dua buah pistol. Leo mengisi kedua pistol itu dan mendekati Rafa yang masih asik memukuli samsaknya.


" Dad." Rafa menghentikan tangannya ketika mendengar anaknya memanggil.


" Ya, boy." Jawab Rafa.


" Ayo berlatih." Ajak Leo sambil menyondorkan sebuah pistol untuk digunakan Daddynya.


" Lapangan ?" Tanya Rafa.


" Yeah..."


Mereka kemudian menuju ke arena. Beberapa titik sudah disiapkan oleh anak buah Rafa.


Kali ini target mereka dibuat sangat jauh.


" Kau sangat menyukai pistol." Ucap Rafa.


Leo hanya diam saja, tidak berniat menolak ataupun mengiyakan perkataan ayahnya.


Rafa menghela nafas berat melihat buah hatinya yang masih saja murung semenjak kehilangan saudaranya.


" Boy, mari taruhan." ajak Rafa.


Leo hanya melihat ayahnya sekilas, ia ingin mendengar apa yang akan ayahnya tawarkan kepadanya.


" Jika nanti daddy yang menang kau tidak boleh ikut bertarung kalau kita sudah menemukan dimana musuh kita." Kata Rafa.


Leo melihat ayahnya dengan sengit. Leo bakalan ingin ikut.


" Tidak mau." Ucap Leo tegas. Leo kemudian memposisikan dirinya untuk menembak.


" Ayolah.. Daddy tidak mau kehilangan kamu juga. Anak buah daddy sudah cukup untuk melumpuhkan mereka semua." Kata Rafa memberi pengertian.


Jika Leo ikut, Rafa hanya takut ia tidak bisa fokus tapi malah memikirkan anaknya yang bisa saja dalam bahaya.


-to be continued-