
" Kau ini banyak tanya." gerutu Zila.
" Ayolah, aku selama ini ingin tau kehebatan mereka. Kenapa aku sangat kesulitan menemukan mereka." Kata Rafa sedikit kesal.
" Mereka hanya anjing jalanan." Ucap Zila sambil tertawa.
" Okey fine. Ceritakan padaku, apa yang terjadi dengan mu disana?" Tanya Rafa.
Saat ini mereka sedang berada di atas sofa dengan posisi yang sangat intim. Rafa sepertinya sedang lupa kalau ia juga kehilangan kedua anak kembarnya.
" Apa yang terjadi di sana ?" Kata Zila sambil termenung.
Zila mengelus perutnya yang sudah rata. Air bening mengalir membasahi pipinya. Hatinya sesak mengingat ia telah kehilangan calon buah hatinya.
" Hei, kau menangis ? Apa yang terjadi? Apakah mereka menyiksamu ? Apa mereka melukaimu ?" Rafa menanyai Zila tanpa henti.
Zila semakin tidak berdaya mendengar pertanyaan itu.
" Maafkan aku... Aku minta maaf.." Kata Zila sambil terisak.
" Apa yang terjadi? Katakan padaku. Aku akan mendatangi penjara dan mencuri mereka dan memberi hukuman. Katakan padaku." Kata Rafa menggebu. Dia paling tidak suka melihat Zila menangis.
" Maafkan aku... Aku lalai. Aku... Aku keguguran." Kata Zila terbata.
Rafa sangat terpukul mendengarnya. Selama ini ia melewatkan masa bayi para anak kembarnya. Dan kini ia juga kehilangan calon buah hatinya, sebelum bisa melihatnya.
" Aku tidak tau kalau saat itu sedang mengandung." Kata Zila.
Rafa memang sedih kehilangan calon anaknya, tapi ia tau. Disini Zila lah yang paling merasa kehilangan.
Rafa mengelus punggung istrinya pelan.
" Bukan hanya kamu. Aku juga. Maafkan aku... Aku..." Nafas Rafa tercekat. Ia takut istrinya semakin terluka kalau tau Leon dan Leona juga dicuri.
" Aku tau..." Kata Zila saat suaminya terdiam dalam waktu yang lama.
" Hm ?" Rafa bingung.
" Kau pasti mau bilang kalau kedua kembar kita sedang tidak bersamamu, bukan ?" Tanya Zila yang mampu mengagetkan Rafa.
" Kau tau ? Kau bertemu mereka ?" Tanya Rafa.
Zila menggeleng tanda ia tidak tau.
" Aku tidak bertemu mereka." jujur Zila.
" Lalu, bagaimana kau bisa tau kalau mereka diculik ?" Tanya Rafa bingung. Apa yang sudah terjadi pada Zila ?
" Aku berbeda..." Kata Zila yang mampu membuat Rafa tambah bingung.
" Apa maksudmu?" Rafa bertanya karna memang ia tidak tau.
" Kau percaya cenayang?" Zila balik nanya.
" Kurang lebih seperti itu. Aku bisa melihat apa yang akan terjadi dikemudian hari. Aku berbeda, Rafa. Aku akan bersikap seperti orang gila saat mendapat firasat buruk." Kata Zila sedih.
Rafa tidak percaya mendengar itu, tapi ia tetap akan berusaha untuk memahaminya.
Kalau dicerna oleh logika memang tidak masuk akal bukan ?
Itulah mengapa Zila bisa stres karena kualahan menghadapi kelebihannya itu.
"Aku pernah bermimpi melihat Leon dan Leona. Mereka seakan terjebak oleh rasa kesepian." Ucap Zila sambil berderai air mata.
Rafa semakin mendekap erat tubuh istrinya yang terlihat rapuh juga kurus itu.
" Kau tidak pernah makan saat disana, hm?" Tanya Rafa prihatin.
" Aku lapar." Seru Zila.
Rafa menggendong Zila, memposisikan agar tidurannya lebih nyaman.
" Tubuh mu seringan kapas." Kata Rafa.
Kemudian Rafa memesan banyak makanan untuk Zila habiskan agar tubuhnya kembali berisi.
" Bagaimana keadaan Leo." Tanya Zila sambil menyembunyikan kepalanya di ketiak suaminya.
Ia menghirup aroma kecut dari tubuh suaminya yang seharian ini masih bekerja. Belum mandi.
" Sekarang sifatnya mirip dengan kakaknya, Leon. Leo menjadi sangat tidak tersentuh." Kata Rafa sedih.
" Kau bau." Celutuk Zila yang mampu membuat Rafa tergelak.
" Keringat ku baunya tidak beda jauh dengan aroma cinta. Bukankah kau juga menyukainya, sayangku." Kata Rafa yang mampu membuat Zila memukulnya pelan.
" Menyebalkan." Zila merajuk.
Zila kemudian berdiri dan berjalan menjauhi suaminya.
Rafa pun mengejarnya karena ia tidak tahan berjauhan lagi dengan istrinya.
" Sayang. Kau sudah meninggalkan ku dalam waktu yang lama. Maka mulai sekarang kau harus selalu ada dalam pelukanku. Setiap menit dan detik pokoknya." gerutu Rafa sepanjang perjalanan nya dalam menangkap Zila.
Malam itu mereka habiskan dengan penuh canda tawa.
-END-
Adegan romantisnya gak banyak ya, soalnya memang sengaja tak bikin dikit.
Nanti yang banyak adegan romantis di kisah Leon.
Mengecewakan gak sih ?
Semoga ngga, ya.