
Kala itu Zila sedang berniat untuk pergi ke toilet. Namun setelah menyelesaikan hajatnya, ia di cegat oleh seorang wanita di depannya.
" Siapa kau ?" tanya Zila namun tak berapa lama Zila langsung tidak sadarkan diri karna ada seorang pria yang membekapnya dari belakang.
" Cepat angkat dia." wanita itu memerintah pria yang membius Zila.
๐ท๐ท๐ท๐ท
Tempat itu terasa sangat pengap, udara disana sangat sedikit untuk dihirup.
Baru sejenak Zila sudah sadar karna merasa sesak kekurangan oksigen.
Zila membuka matanya. Tangannya terasa perih karna ikatan tangan yang begitu kuat seakan menggores pergelangannya.
Zila ingin sekali berteriak tapi tidak bisa karna mulutnya di lakban.
Zila hanya bisa menangis terisak. Ia baru saja bertemu dengan keluarga nya, apakah ia harus berpisah lagi dengan mereka?
Tidak. Ia tidak akan sanggup jika hal itu terjadi.
Isakan Zila mengganggu seorang pria yang di rantai juga di pasung.
" Hei wanita muda." ucap pria itu dengan lemah.
Zila menoleh mencari asal suara itu. Betapa kagetnya ia melihat orang lusuh kurus keriput dengan janggut yang panjang tidak terawat.
Tangan pria yang dirantai itu kemudian membuka lakban yang menutupi mulut Zila.
" Siapa kau ?" tanya Zila setelah bebas dari lakban itu.
Pria itu hanya tersenyum tipis melihat kewaspadaan wanita ini.
" Kau melakukan kesalahan, nak ?" tanya pria itu.
" Aku tidak tahu. Mereka menculik ku begitu saja." jujur Zila.
Pria itu menghela nafas nya pelan.
" Siapa namamu ?" tanyanya.
" Zila. Namaku Zila." jawab Zila.
" Anda siapa ?" tanya Zila pada pria itu.
" Arief."
" Maaf kan saya Tuan Arief." ucap Zila.
" Tidak perlu seformal itu pada ku." kata pria itu ramah walau pun tersirat keputusasaan dari tatapannya.
" Sudah sejak kapan bapak di sekap di sini?" tanya Zila lembut ia prihatin melihat keadaan pria ini.
" Bapak pasti sedih sekali." ucap Zila sedih.
Apakah ia akan mendapatkan nasib sama seperti bapak ini ?
" Ya, nak. Lelah. Bapak cuma berharap keluarga bapak baik-baik saja." kata pria paruh baya itu.
" Amien." ucap Zila.
Zila jadi khawatir dengan para anaknya, akankah Rafa bisa melindungi mereka dari orang jahat ?
Tanpa minta izin dulu, air mata Zila jatuh membasahi pipinya. Ia takut anaknya kenapa-napa.
" Mereka pasti punya dendam tertentu padamu nak." kata Arief.
" Tidak. Pasti suamiku." ucap Zila dengan suara bergetar.
" Berdoalah semoga suami mu bisa menemukan mu." ucap Arief yang di jawab Zila dengan menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya ingin ketiga anak ku baik-baik saja?" ucap Zila.
" Kau sudah punya anak ?" Arief tidak percaya, pasalnya wanita ini masih terlihat muda walau dengan dandanan kunonya.
Apalagi kaca matanya sudah retak sebelah. Zila jadi mirip kayak gembel dengan baju yang lusuh.
" Ya. Mereka kembar." Zila menangis tersedu.
" Aku baru saja berkumpul dengan keluarga ku, dan hubungan ku dengan suami ku baru saja di mulai. Tapi..." Zila tidak mampu lagi melanjutkan perkataannya.
Arief merasa prihatin mendengar cerita itu. Pasti sudah banyak hal yang di lalui oleh wanita yang terkurung bersama nya itu.
Tak lama setelah itu pintu terbuka dan terlihatlah dua orang pria dan wanita.
Zila kaget bukan main melihat mereka. Pasalnya Zila ingat wajah orang yang membicarakan Rafa di Cafe milik nya.
" Siapa kalian?" Teriak Zila.
" Ohh sayang, kau tidak mengenal siapa aku ?" ucap Lula kecewa.
Zila berfikir keras, perasaan ia baru bertemu dengan wanita ini saat di Cafe.
" Hei si burung hantu mengerikan." ucap wanita itu.
Zila ingat sekarang. Nama itu hanyalah satu orang yang berikan julukan itu padanya.
LULA, teman seangkatannya yang suka sekali membullynya.
-to be continued-