
Setelah mendengar penjelasan Kanaya, wajah Nikolas menjadi dingin. Dia sangat marah saat Kanaya justru tidak mempercayai ucapan Aqila, apa lagi dia juga tidak bertanya pada Aulia dan sekarang dia ingin membela dirinya? sungguh sangat keterlaluan.
"Jangan membela dirimu di depanku!. Saat kamu tidak mempercayainya dan membentaknya dia pasti sangat kecewa padamu. Setidaknya, jika kau tidak ingin mendengarkan penjelasannya, jangan bertanya padanya dan membentaknya. Tanya kan saja itu pada Lia, kau harus mendengarkan cerita dari dua sudut pandang bukan hanya dari sudut pandang mu!." ucap Nikolas tegas dengan intonasi yang tajam.
"Saat itu Lia sedang ketakutan, aku tidak tega untuk menanyakan apa yang terjadi padanya. Jadi aku hanya bisa menanyakannya pada Qila." ucap Kanaya yang telah berdiri di hadapan Nikolas.
Nikolas mendengus mendengar ucapan Kanaya. "Kamu menanyakan apa yang terjadi pada Qila tapi kamu juga tidak mempercayainya ucapannya, lalu untuk apa kamu bertanya padanya jika kamu tidak mempercayainya?" Nikolas mendongakkan kepalanya untuk menatap tajam Kanaya yang berdiri di depannya saat ini.
"Iya aku salah, tapi dia bereaksi sangat berlebihan hanya karena Lia membuat bajunya basah, dia langsung marah dan membalas membasahi baju Lia!." balas Kanaya tidak mau mengalah.
"Berlebihan? Berlebihan bagaimana? Apa kamu tak ingat? Qila tidak tahan dengan air dingin ataupun air yang tidak terlalu dingin bisa sangat membuat dirinya menggigil kedinginan!" Kanaya tertegun saat mendengar penjelasan Nikolas kenapa Qila bereaksi berlebihan saat bajunya basah.
"Kau melupakan nya, Nay?" tanya Nikolas melihat Kanaya yang terdiam. "Minta maaf lah nanti padanya" ucap Nikolas lagi, karena Kanaya tidak menanggapinya.
Kanaya sangat merasa bersalah pada putrinya. Bisa bisanya dia lupa hal penting seperti itu. Ibu macam apa dia yang tidak tau bagaimana keadaan anak anaknya. Pasti Aqila sangat kecewa padanya.
Nikolas berdiri di depan Kanaya yang sedang melamun. "Sayang" panggil Nikolas lembut saat melihat rasa bersalah yang berada di dalam mata Kanaya.
Tersadar dari lamunannya, Kanaya terkejut melihat Nikolas yang sudah berdiri di depannya dan memeluknya. Terdiam sejenak, Kanaya pun membalas pelukan Nikolas.
"Tidak papa, Aqila anak yang baik dan mudah memaafkan seseorang. Jadi minta maaflah padanya pasti dia akan memaafkan mu." Kanaya hanya menganggukkan kepalanya, mendengar perkataan Nikolas.
"Sudah larut malam, ayo kita tidur" tiba tiba menggendong Kanaya ala bridal style. Kanaya yang terkejut segera mengalungkan tangannya di leher Nikolas agar tidak terjatuh.
Nikolas menurunkan Kanaya ke kasur mereka dengan perlahan. Dia membaringkan tubuhnya di sebelah Kanaya memeluk pinggang istrinya. Mereka tidur dengan saling berhadapan, memandang satu sama lain.
Hening memenuhi kamar itu. Mereka hanya saling memandang tanpa berbicara sama sekali. Entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan.
Tanpa sadar Kanaya tertidur dengan sendirinya. Melihat istrinya tertidur Nikolas mendekatkan tubuh Kanaya ke arahnya, memeluknya erat, lalu menyusul istrinya tidur.
Di ruang keluarga mansion Abraham yang sunyi dengan kondisi ruangan gelap, ada seseorang yang sedang duduk di sofa ruangan itu.
Dia menggunakan sweater berwarna krem di tubuhnya untuk mencegah udara dingin menerpanya. Dia menggenggam erat sweater yang di kenakan nya, karena udara yang terlalu dingin membuat kuku kuku jarinya memutih. Memandang kosong ke depan, ke arah televisi yang mati, tidak menayangkan apa pun.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi, sudah dua jam dia hanya duduk di sana tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Hingga suara langkah kaki membuatnya memalingkan muka ke arah langkah kaki itu berasal.
Dari arah tangga terlihat seorang laki laki yang berjalan menuju dapur, dia hanya bisa melihat bayangan laki laki itu, tanpa melihat wajahnya. Dia mengikuti laki laki itu yang sudah ada di dapur.
Terdengar teriakan kesakitan lirih dari dapur, tapi saat dia melihat sekeliling tidak ada apa apa. Dia merasa merinding di seluruh tubuhnya, membalik badannya untuk segera naik ke kamarnya sendiri.
Ketika akan melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, dapur. Tiba tiba ada sebuah tangan yang memegang bahunya. Dia berdiri diam tanpa berani menengok kebelakang hanya untuk mengetahui siapa pemilik tangan yang sekarang ada di bahunya.
Menghela nafas pelan berkali kali untuk membuatnya mengurangi rasa takut yang sekarang dia rasakan. Dia dengan perlahan menengok kebelakang, hanya untuk melihat wajah yang sangat menakutkan.
"Aaaagrh" teriaknya terkejut dengan wajah pemilik tangan yang berada di bahunya. Bagaimana tidak terkejut saat satu sisi wajah orang itu di penuhi dengan darah?
Melihat itu membuat wajahnya memucat seputih kerta tanpa tinta. Dia ingin berlari menjauh tapi tidak bisa karena tangan itu mencengkram erat bahunya membuat matanya berkaca kaca, ingin menangis.
"T-tolong ja-ngan apa apakan aku" ucapnya lirih dengan posisi bersujud dan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Dia menutup matanya, tidak ingin melihat orang yang sekarang berada di atasnya.
"Ck, apa yang kau lakukan, bodoh. Berdiri!!" perintah orang itu. Kenapa suaranya mirip seseorang yang ku kenal pikirnya dengan mata masih tertutup sambil berpikir milik siapa suara itu.
"S-siapa kamu? K-kenapa ada di dapur r-rumahku?" tanyanya yang sudah berdiri dengan tetap menutup mata. Orang itu memutar matanya malas, dan berkata, "Buka matamu bodoh!"
Badannya bergetar ketakutan saat mendengar suara sarkasme yang mirip dengan saudaranya. Dengan keberanian yang tak seberapa dia membuka matanya yang langsung bertatapan dengan mata orang itu.
Mengamati beberapa menit kemudian dia tersadar, siapa pemilik suara itu, sedangkan yang ditatap hanya menatapnya dingin tanpa ekspresi. "Apa yang terjadi padamu Aiden?"
Ya, orang itu adalah Aiden saudara kembarnya. Aiden berdecak saat melihat kebodohan saudaranya itu.
Tanpa menghiraukan decakan Aiden, dia terus berkata, "Apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kamu seperti ini?."
"Diam lah Qila! Kau membuatku pusing!?" ucapnya Aiden dengan mengerutkan kening. Aqila terdiam sejenak, lalu dia perlahan mendekat untuk melihat luka yang ada di dahi Aiden.
"Kenapa dahimu bisa menjadi begini?" tanya Aqila dengan tangan yang ingin menyentuh luka itu, tapi sebelum dia menyentuhnya, Aiden sudah lebih dulu menepis tangannya.
"Lebih baik kau obati luka ku dari pada banyak bicara seperti ini!" ucap Aiden dengan berjalan ke arah ruang keluarga setelah membasuh darah yang mengalir di wajahnya, di wastafel dapur. Aqila segera mengikuti saudaranya, di sana Aiden sudah lebih dulu duduk di sofa panjang, membaringkan tubuhnya di sana.
Aqila segera mencari kotak P3K di sekitar ruang keluarga, tapi tak kunjung menemukannya. Aiden yang tadinya menutup mata sekarang melihat apa yang sedang saudaranya itu lakukan hingga membuat ruang keluarga kacau balau.
Aqila tengah mondar mandir mencari kotak P3K yang tak kunjung ia temukan. Aiden menatap datar kelakuan kembarannya. Tak tahan akhirnya dia berkata, "Apa yang kau cari, hingga membuat ruangan ini berantakan?" ucap Aiden menggeram tertahan.
Jangan di tanya ruangan yang semula rapi, bersih sekarang menjadi berantakan dengan bantal sofa yang sudah tak berada di tempatnya, laci meja televisi yang terbuka dan lupa ia tutup membuat pemandangan yang tidak menyenangkan di mata Aiden yang suka kebersihan.