GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 52



Aqila sekarang sedang berjalan sendirian di perpustakaan sekolah tempat dia melakukan pertukaran pelajar. Dia mencari buku untuk menjadi referensi tugasnya.


Kalau kalian bertanya kenapa sendirian? Ya, karena Laura dan Daniel sekarang sedang makan di kafetaria. Sedangkan Vina..., entahlah! Dia langsung menghilang sejak bel istirahat terdengar.


Apa lagi tadi saat dia berjalan menuju ke arah perpustakaan, Aqila tanpa sengaja melihat Vina yang terlihat sedang bermesraan dengan seseorang. Bahkan Vina terlihat sangat intim berdekatan dengan orang itu. Tentu saja seseorang itu adalah laki laki. Jadi, kalian tidak boleh berpikiran macam macam.


Kalian jangan bertanya di mana Vincent!!! Dia sangat kesal dengan kekasihnya itu. Karena dia pun tidak tahu di mana kekasihnya itu sekarang. Vincent itu selalu menghilang, biasanya dia akan tiba tiba muncul saat mereka semua berkumpul. Memang benar benar aneh kekasihnya yang satu ini.


Di perpustakaan ini sangat sepi. Hanya ada sedikit orang orang yang berada di sana. Sehingga membuat suasana dalam perpustakaan itu tampak sepi dan nyaman untuk membaca. Sangat berbeda sekali jika kalian keluar dari perpustakaan. Itu seperti dua dunia yang berbeda, di lingkungan yang sama.


Aqila berjalan memutari rak rak buku itu untuk menemukan buku yang dia cari. Akhirnya dia pun menemukan buku yang dia inginkan. Tapi buku itu, terletak di rak yang tinggi.


Aqila berusaha menggapai buku itu, sampai dia harus berjinjit jinjit, tapi hal itu juga tak membuahkan hasil apa pun. Tiba tiba ada sebuah tangan dari belakangnya yang membantunya untuk mengambil buku itu.


Aqila membalikkan badannya menatap orang itu dengan wajah linglung. Orang yang membantunya ternyata adalah Vincent!! Yah, biasa klise novel romansa.


Vincent yang ada di depannya ini tampak sangat tampan dengan rambut yang sedikit berantakan dan kaca mata yang bertengger dengan manis di hidungnya. Hal itu benar benar membuat Aqila ingin menjerit di tempat, melihat ketampanan kekasihnya ini.


Vincent melambai lambai kan buku yang tadi dia ambil dari rak ke depan muka Aqila. Melihat kekasihnya ini yang masih bengong melihatnya, membuat Vincent menghela napas. Vincent lalu mengetuk kepala Aqila dengan buku yang ada di tangannya.


"Aww!! Kenapa kamu memukulku?!" ucap Aqila kesal menatap ke arah Vincent.


"Aku tahu, aku tampan!! Tapi kamu tidak perlu melihatnya sampai seperti itu. Lagian aku milikmu, jadi kamu bisa menatapku sepuasmu saat kita di vila!!"


Ucapan Vincent membuat muka Aqila memerah merona. "Idih. Aduh, tolong kurangi kepercayaan dirimu itu. Aku melihatmu seperti itu tadi karena aku kaget kamu berada di belakang ku!!"


Aqila menyangkal peryataan yang Vincent ucapkan dengan mengibaskan rambutnya ke belakang.


Vincent menarik sudut mulutnya, menyeringai. Dia merasa geli dengan tingkah Aqila yang menyangkal perkataannya tadi.


"Oh ya?! Benarkah?! Tapi matamu tadi seperti sangat mengagumi ku!!" ucapnya dengan mencondongkan badannya ke depan. Sehingga jarak wajah antara ke duanya semakin dekat dan sempit.


Aqila gelagapan sendiri melihat wajah Vincent yang sangat dekat dengannya. Aqila pun mendorong tubuh Vincen menjauh darinya.


Vincent tersenyum melihat tingkah Aqila yang seperti ini saat dia menggodanya. Hal itu juga yang membuat Vincent sangat senang menggoda aqila. Ah, kekasihnya benar benar menggemaskan sekali!!


Aqila yang melihat senyum Vincent merasa kesal, dia mengepalkan tangannya lalu balas memukul lengan Vincent.


Vincent sendiri hanya diam saja menerima pukulan dari Aqila. Lagi pula,pukulan kekasihnya ini tidak berada sama sekali kepadanya. Dia hanya merasa Aqila memukul pelan lengannya. Jadi, dia tidak menghentikannya.


Aqila menatap cemberut ke atas, ke arah wajah Vincent yang masih menampilkan wajah santai seperti biasanya tanpa meringis kesakitan sedikitpun.


Atau kah dia memukulnya kurang kencang?


Tidak, tidak mungkin!!! Dia sudah memukul kekasihnya ini sekuat tenaga. Bagaimana bisa Vincent tidak kesakitan?


"Apakah tidak sakit?"


"Benarkah?!" tanya Aqila dengan mengerutkan keningnya, tak yakin dengan ucapan Vincent.


Padahal dia sudah memukulnya dengan sekuat tenaga. Tidak mungkin Vincent tidak merasa kesakitan!! Mungkin dia menahannya, karena tidak ingin di kira cowok lemah. Ya, mungkin begitu. Aqila mengangguk kepalanya berulang kali saat dia menemukan alasan yang tepat kenapa Vincent tidak kesakitan.


Vincent sendiri hanya menatap heran Aqila yang terlihat menganggukkan kepalanya terus menerus. Dia juga merasa gemas dengan setiap perubahan ekspresi yang Aqila lakukan saat dia sedang berpikir. Itu benar benar tampak menggemaskan sehingga Vincent menggigit bibirnya.


"Ini!!" ucap Vincent membuyarkan lamunan Aqila.


Aqila menatap ke arah Vincent tak mengerti. Vincent pun memberikan isyarat untuk mengambil buku yang ada di tangannya.


"Apa kamu sudah tidak menginginkannya?!" tanya Vincent dengan melambai lambaikan buku yang Aqila inginkan tadi.


"Aku menginginkannya!!"


Aqila langsung merebut buku itu dari tangan Vincent. Tapi sayang sekali Vincent tidak memberikannya semudah itu pada Aqila. Vincent justru mengangkat tangannya sehingga Aqila tidak dapat menggapai buku itu.


Aqila menatap ke arah Vincent dengan wajah di tekuk. Vincent hanya menarik sudut bibirnya sedikit melihat ekspresi Aqila.


Aqila menggertakkan giginya pelan. "Apa yang kamu inginkan?!" tanya Aqila dengan suara tertahan.


Vincent masih mengambilkan wajah biasa walau telah melihat wajah Aqila yang sangat kesal padanya.


Vincent menatap Aqila dengan senyum tipis di bibirnya, "Bukankah kamu harus mengucapkan sesuatu saat ada orang yang menolong mu?!"


Aqila dengan terpaksa menarik bibirnya untuk tersenyum kepada Vincent. "Terima kasih telah membantuku!"


"Sudahkan?!! Sekarang berikan buku itu padaku!!" ucap Aqila dengan mengulurkan tangannya. Dia menatap tajam Vincent yang tidak segera memberikannya buku itu.


"Tidak, bukan begitu yang aku inginkan. Dari pada hanya perkataan lisan, aku lebih menyukai dengan sebuah tindakan."


Aqila makin mengerutkan keningnya mendengar perkataan yang Vincent ucapkan. "Lalu kamu ingin aku melakukan apa?!"


"Misalnya ciuman di pipi atau mungkin di bibir?!" Vincent menatap Aqila dengan tatapan nakal dan main main di matanya.


Aqila semakin jengkel setelah mendengar perkataan Vincent. Apa lagi saat dia melihat tatapan Vincent yang seperti mempermainkannya. Dasar, lihat saja nanti!!


"Baiklah, majukan sedikit badanmu!!"


Vincent segera memajukan badannya ke arah Aqila dengan patuh. Vincent benar benar mengantisipasi apa yang kekasihnya ini lakukan untuk berterima kasih padanya.


Aqila juga langsung mengecup bibir Vincent sekilas. Lalu saat Vincent sedang tertegun dengan ciuman itu, Aqila langsung merebut buku itu. Dan langsung menjaga jarak dan pergi dari sana untuk menghindari Vincent. Dia benar benar malu dengan tindakannya tadi. Dia ingin sekali membuat lubang untuk dia bersembunyi dari Vincent. Argh!!!


Vincent menatap kepergian Aqila dengan tangan yang memegang bibirnya sendiri. Ini pertama kalinya Aqila berinisiatif untuk menciumnya, ah, tidak tidak menciumnya tapi hanya sebuah kecupan. Walaupun begitu, itu tetap membuat Vincent senang.


Vincent terkekeh melihat kepergian Aqila yang terburu buru seperti di kejar hantu. Dia juga tahu bahwa Aqila sangat malu sekarang karena melakukan hal itu. Tapi apa pedulinya?! Yang penting dia merasa sangat senang karena mendapatkan kecupan, di bibir lagi dari Aqila.