
Pagi ini sangat cerah, terdengar suara burung burung berkicau di dahan pohon, udara yang sejuk membuat orang orang tidak ingin bangun dari tidur mereka.
Terlihat dua orang anak yang masih menutup matanya dengan selimut yang menutupi tubuh mereka. Terlihat nyaman tanpa gangguan, walau sinar matahari yang masuk melalui celah celah gorden tidak membuat mereka merasa terganggu.
Aulia terlihat berjalan ke arah ruang keluarga dengan penampilan yang rapi, cantik, dan harum. Dia sangat cantik dan manis dengan dress biru muda yang sekarang dia kenakan.
Melihat sekeliling ruang keluarga yang sangat sepi, tidak ada siapa pun yang sekarang berada di sana. Dia lalu berjalan menuju taman, di sana juga tidak ada siapapun kecuali tukang kebun yang sedang menata tanaman Mommy-nya.
Dia berjalan lagi menuju perpustakaan pribadi milik keluarganya, tapi tetap tidak ada siapa pun kecuali pelayan yang sedang membersihkan buku supaya tidak berdebu dan rusak.
Kesal, akhirnya dia berjalan menuju dapur. Pagi ini dia melihat banyak pelayan yang berlalu lalang untuk melakukan perkejaan mereka masing masing dengan terburu buru. Setiap pelayan yang bertemu dengannya akan membungkukkan badan dan berjalan kembali dengan tergesa gesa.
Aulia bertanya tanya, apakah akan ada acara di rumahnya?. Aulia ingin bertanya ada apa pada para pelayan tapi karena mereka yang terburu buru, akhirnya dia hanya diam dan menganggukkan kepalanya saat para pelayan membukukan badan.
Saat ini, dia telah berada di dapur terlihat mereka sedang membuat makanan makanan yang sangat mewah. Tapi sekali lagi, dia tidak melihat orang yang sedang dia cari. Hanya ada para koki yang sedang sibuk memasak di dapur.
Menghela napas kesal, dia menghentakkan kakinya pergi dari sana kembali lagi berjalan menuju ruang keluarga yang sekarang ada Nikolas dan Kanaya.
Aulia segera duduk di sebelah Kanaya dengan mendengus dan melipat kedua tangannya di dada. Nikolas hanya fokus pada laptop tanpa mengalihkan pandangan sama sekali. Kanaya yang mengerti anaknya sedang kesal pun mengalihkan pandangan pada putrinya.
"Ada apa? Kenapa kamu sudah kesal pagi pagi begini?" Kanaya bertanya dengan mencubit pipi bulat anaknya.
Aulia menghindar dari cubitan Kanaya tapi tidak bisa, dan berakhir dia harus rela pipinya di cubit Mommy-nya. Kanaya tertawa pelan melihat anaknya menggosok bekas cubitannya tadi dengan bibi menggembung.
"Mommy rumah kita mau ngadain acara ya? Kok aku gak tau, sih?" Kanaya menepuk dahinya, dia lupa memberi tahu anak anaknya bahwa keluarganya akan datang hari ini. Nikolas hanya menggelengkan kepalanya, saat mendengar pertanyaan Aulia.
"Tidak, hari ini kakek dan nenek mu akan ke sini hari ini" Aulia terkejut mendengarnya. Sangat jarang kakek, nenek mereka berkunjung, bahkan kunjungan mereka ke sini bisa di hitung dengan jari.
"Kenapa kakek dan nenek ke sini?" Aulia bingung karena biasanya kakek dan nenek akan ke mari karena ada urusan penting saja.
"Hanya untuk kumpul keluarga bersama saja. Sekalian merayakan ulang tahun Andra di sini" Aulia mengerutkan keningnya tapi tetap menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Aulia melihat ke arah tangga menunggu seseorang turun dari sana, tapi yang di tunggu tunggu tak kunjung turun juga padahal ini sudah jam enam, yang artinya setengah jam lagi waktunya sarapan.
"Kenapa lagi sekarang?" Kanaya yang melihat Aulia kesal pun bertanya dengan mengerutkan keningnya.
Aulia menatap wajah Mommy-nya, dia berkata, "Kemana Aiden dan Aqila pergi? Biasanya mereka berdua yang paling awal sudah ada di sini!?"
Nikolas mengalihkan pandangannya sejenak dari laptop untuk melihat ke arah tangga sebentar dan menatap laptopnya kembali. Kanaya juga akhirnya menatap ke tangga.
"Mungkin mereka masih tidur" ucap Kanaya tidak yakin karena biasanya Aiden dan Aqila bangun lebih dulu dari mereka semua.
"Itu gak mungkin Mom, biasanya mereka bangun lebih dulu dari pada kita" Aulia menyangkal perkataan Kanaya.
"Apa kau sudah melihat taman dan perpustakaan? Biasanya mereka akan berada disana." Nikolas berkata tanpa mengalihkan pandangannya saat melihat anak dan istrinya bingung.
Karena taman dan perpustakaan adalah ruang favorit ke duanya jika ingin menyendiri atau saat mereka sedang stres akan sesuatu.
"Udah Dad, tapi tetap gak ada mereka nya" Aulia cemberut melihat kedua kembarannya yang tak kunjung datang.
"Berarti mereka masih tidur" Aulia hanya menghela napas kesal saat Mommy dan Daddy-nya tidak memberikan solusi apa pun tentang kebingungannya.
"Lebih baik kamu lihat saja di kamar mereka" saran Kanaya. Akhirnya Aulia mengangguk dan pergi ke kamar kembarannya.
Aulia membuka kamar Aiden terlebih dulu karena kamarnya lebih dekat dari pada kamar Aqila. Aulia melihat sekeliling kamar Aiden, tapi kamar itu kosong. Aulia mengecek kamar mandi, lemari pakaian hingga bahkan kolong tempat tidur.
Menutup pintu kamar Aiden kembali. Aulia akhirnya sampai di kamar Aqila, membuka pintu kamarnya yang tertutup. Dia memasuki kamar Aqila setelah menutup pintu kembali.
Di atas kasur dia melihat Aqila dan Aiden sedang tidur bersama dengan saling berpelukan. Dia berkacak pinggang melihat pemandangan ini. Dari tadi dia mencari mereka berdua, eh... ternyata ke duanya masih enak enakan tidur.
Tiba tiba Aulia tersenyum sepertinya dia mendapatkan ide, imajinernya mungkin memunculkan lampu. Aulia bersiap siap untuk melompat di atas tubuh saudara kembarnya.
Di dalam hati dia mulai menghitung mundur, satu... dua...tiga dan hap dia akhirnya melompat ke tempat tidur. Aiden dan Aqila langsung terbangun dengan perasaan terkejut saat merasa seseorang menindih tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan ha!!!?" ucap Aiden dengan suara dingin, menakutkan. Aulia yang mendengarnya melengkungkan bibirnya kebawah.
"Apa lagi, tentu saja membangunkan kalian lah" jawabnya. Aiden menggeram marah saat mendengar jawabannya.
"Lia minggir! Aku gak bisa napas ini!!" ucap Aqila memotong pembicara yang dilakukan saudaranya. Gak papa sih bicara, tapi ya setidaknya Lia turun dulu, ini sangat berat membuatnya sesak napas.
Aulia dan Aiden melihat ke arah Aqila yang sedang kesusahan bernapas. Aulia bergegas turus saat melihatnya.
"Kau baik baik saja? Apakah ada yang sakit?" tanya Aulia merasa bersalah dan khawatir. Aqila hanya menggelengkan kepalanya dan mengatur napasnya supaya tidak tersendat sendat.
"Apa kau tidak ada cara lain untuk membangunkan kami selain itu? Setidaknya harusnya kamu tau kamu itu berat!!" ucap Aiden yang masih kesal dengan kelakuan Aulia yang mengganggu tidur nyenyak nya.
"Apa?! Ih dasar kembaran jelek!!" balasnya. Aiden menyingkirkan selimutnya lalu turun dari kasur.
Dia menyeringai, mendengar perkataan Aulia yang di tunjukkan padanya. "Kalau aku jelek kamu juga jelek kan kita kembar."
Muka Aulia terlihat memerah marah dan kesal. Aqila yang melihat akan terjadi perkelahian antara ke duanya, akhirnya menyela. "Oke cukup! Lia ada apa kamu membangunkan kami sepagi ini?"
Aulia memutar matanya saat mendengar pertanyaan Aqila tapi masih tetap memandang ke arah Aiden tajam yang di balas tak kalah tajam oleh Aiden.
"Pagi? Lihat ini hampir waktunya sarapan! Aku sudah mencari kalian dari tadi, tapi ternyata kalian malah enak enakan tidur?!!"
Aiden dan Aqila segera melihat ke arah jam saat Aulia mengatakan sudah waktunya sarapan tanpa menghiraukan ucapannya selanjutnya. Terkejut Aqila segera bergegas ke kamar mandi di ikuti Aiden yang kembali ke kamarnya.
Aulia terbengong melihat kelakuan kembarannya. Mereka berdua jelas sekali tidak mendengarkan ucapannya dari tadi yang membuatnya sangat amat kesal. Sungguh hari ini sangat menjengkelkan baginya, sudah berapa kali dia di buat kesal hari ini.
Aulia duduk sambil menghela napas untuk menghilangkan kekesalannya pada mereka. Dia meninju bantal di kasur Aqila, lalu membaringkan badannya setelah merasa lebih baik.
Duduk kembali, dia melihat sekelilingnya yang rapi, bersih, dan harum bunga seperti bau badan Aqila. Kamar kembarannya ini di dominasi oleh warna biru muda yang terlihat sangat bagus.
Kamarnya sendiri di dominasi warna ungu dan putih terkesan mewah. Kamarnya juga harum, bersih dan rapi tapi tidak serapi kamar kembarannya ini. Dia berdecak sambil menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir, kenapa kamar Aqila bisa sebersih dan serapi ini.
"Kenapa?" Aulia terkejut, tiba tiba ada suara dari arah belakangnya. Spontan Aulia melihat ke belakang yang ternyata adalah Aqila. Dia terlihat lebih segar dan cantik sekarang.
"Maaf, apa aku membuatmu terkejut Lia?" ucap Aqila dengan tersenyum saat Aulia melihatnya.
"Tentu saja, ku pikir hantu" ucapnya.
"Maaf, lain kali gak aku ulangi" Aulia mengangguk menerima ucapan permintaan Aqila.
"Udah ayo, kita bisa terlambat untuk sarapan nanti!" Aulia dan Aqila segera keluar dari kamar bersamaan dengan Aiden yang juga sedang menutup pintu kamarnya sendiri.
Mereka segera berjalan menuju ruang makan untuk sarapan bersama, yang pastinya Kanaya dan Nikolas sedang menunggu di meja makan.