GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 36



"Lain kali datanglah ke sini dengan orang tuamu! Aku sangat merindukan mereka!" ucap Kanaya.


"Tentu saja, Tante. Mommy dan Daddy juga sangat merindukan kalian!" Justin mengangguk menanggapi perkataan Kanaya.


Aqila hanya menjadi penonton pembicaraan mereka. Dia juga ingin keluarganya bertanya padanya. Seperti apakah kamu baik baik saja? Maaf telah meninggalkanmu sendirian. Tapi sepertinya dia terlalu berharap. Sekarang yang menjadi topik pembicaraan mereka adalah keluarga Alexander, tidak ada yang menanyakan kabarnya selama mereka berlibur. Dia sangat kecewa dengan hal itu.


"Sudah hampir waktunya makan malam. Mari makan bersama Justin!" ucap Alina mengajak putra dari Evana dan Kevin.


Tak terasa saking asiknya mereka berbicara, jam Sudak menunjukkan pukul enam.


"Padahal tadi masih sore, tak terasa bahwa sudah pukul enam saja!" ucap Justin sedikit terkejut.


"Tidak usah tante. Kalau begitu aku pulang saja, paman, tante!" ucap Justin yang ingin beranjak dari duduknya. Justin menatap tangannya yang genggam oleh Anna.


Justin mengangkat satu alisnya, "Sebaiknya kamu makan di sini saja. Masakan koki di sini sangat enak. Sebaiknya kamu mencobanya dulu sebelum pulangkan?"


Anna menatap Justin dengan binar harapan di matanya. Mendengar perkataan Anna membuat Justin sedikit berpikir. Dengan segera dia mengangguk, menyetujui perkataan Anna.


Anna terlihat tersenyum lebar. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Justin. Mereka berjalan menuju ruang makan.


Para orang tua keluarga Abraham hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri kesayangan mereka.


Mereka semua segera beranjak berdiri dan berjalan menyusul Justin dan Anna. Aqila menatap kecewa pada keluarganya. Apakah aku terlalu berharap pada mereka? Dia merasa sangat sakit. Tidak ada yang membuat ku terluka, aku hanya terluka, karena harapan ku sendiri. Ah, miris sekali.


Di ruang tamu hanya tinggal dirinya seorang. Dia menghela napas sejenak dan segera menyusul seluruh keluarganya menuju ruang makan.


Di ruang makan dia melihat Justin yang duduk di sebelah kursi Anna. Mereka terlihat sangat akrab. Terlihat Anna dan Justin yang selalu melempar candaan satu sama lain.


Aqila berlahan mendekati kursinya yang berada di depan Aiden dengan Aulia yang duduk di sampingnya.


Tak butuh waktu lama untuk para pelayan satu persatu keluar dari dapur dengan makanan di tangan mereka.


"Ini coba lah Justin. Udang asam manis ini sangat enak!" ucap Anna dengan menyendok beberapa udang asam manis untuk di berikan ke piring Justin.


"Baiklah, akan ku coba." Justin mengambil udang asam manis dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Bagaimana? Apakah enak?" ucap Anna dengan menatap Justin.


"Ya, tentu saja enak. Ini kan rekomendasi darimu!" Anna memerah mendengar perkataan Justin.


Justin terkekeh pelan melihat Anna tersipu. Anna yang mengerti jika Justin menertawakan pun membuat wajahnya semakin merah. Anna mengipasi wajahnya dengan tangan, entah kenapa wajahnya sangat panas sekarang.


"Kalau makan jangan berbicara!" ucap Aqila yang tak tahan melihat dua orang yang berada di depannya.


"Maaf kak, jika aku mengganggumu" balas Anna menurunkan pandangannya.


"Qila, jangan seperti itu pada saudaramu!" ucap Justin, dia merasa kasihan melihat Anna.


Aqila menghentikan gerakan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya. Dia meletakkan sendok itu di piringnya kembali.


"Saudaraku hanya Aulia dan Aiden! Dia hanya benalu di keluarga ku!" Justin terkejut dengan perkataan yang terlontar dari bibir tipis Aqila.


Justin merasa Aqila yang sekarang bukan seperti Aqila yang dia kenal dulu. Dulu Aqila sangat baik, bahkan dia yang mengajaknya berteman terlebih dahulu saat tidak ada yang ingin berteman dengannya. Padahal Aulia dan Aiden melarangnya, tapi dia sama sekali tak peduli. Dan lama kelamaan dia, Aqila, Aulia dan Aiden menjadi teman baik.


"Aqila!!" Nikolas menatap anak perempuannya tajam. Dia merasa perkataan Aqila sudah melewati batas.


"Apa?!! Daddy selalu saja membelanya!" ucap Aqila dengan tangan menunjuk Anna yang telah menangis di pelukan justin.


"Sejak ada dia kalian semua seperti mengabaikan ku. Kalian bahkan meninggalkanku sendirian di mansion ini!! Aku sangat membencinya Dad!!" ucap Aqila sedikit meninggikan suaranya.


"Cukup Qila!!! Kau membuat Anna menangis!" ucap Aiden menatap Aqila tajam.


"Lalu kenapa jika dia menangis?! Aku bahkan tak melakukan apapun padanya! Dianya saja yang cengeng! Di-"


Plak


Ucapan Aqila terhenti saat dia merasa panas di pipi kanannya. Aqila menatap tak percaya pada Kanaya yang sekarang berada di samping kursinya. Aqila beranjak dari duduknya. Sekarang dia berhadap hadapan dengan Kanaya.


"Hahaha. Lihat!! Mommy bahkan sekarang bisa menamparku!!" ucap Aqila dengan mata merah.


Kanaya yang merasa kurang puas dengan hanya menampar Aqila satu kali. Dia merasa itu adalah hukuman yang ringan untuk membuat Anna nya menangis.


Kanaya mengangkat tangannya lagi untuk menampar Aqila. Tapi tangannya segera di genggam oleh Alina. Alina merasa kakaknya ini kelewatan sekarang.


"Cukup kak!"


"Cukup?! Aku perlu menamparnya lagi Lina. Supaya dia tak pernah lagi membuat Anna ku menangis seperti itu!" balas Kanaya menatap Aqila dengan penuh amarah.


Aqila yang mendengar perkataan Mommy merasa hatinya tercabik cabik. Hatinya sangat sakit. Matanya mulai berkaca kaca.


Apakah bagi Mommy nya dia tidak lebih penting dari Anna? Kenapa? Padahal dia adalah anak kandung Kanaya, tapi kenapa Kanaya lebih peduli pada Anna dari pada dirinya? Anna hanya anak angkat!!


Kenapa kalian sepeduli itu pada Anna? Dipikiran kalian selalu Anna yang menjadi nomor satu di atas segalanya. Tapi kenapa?? Di pikiran Aqila terus berputar dengan kalimat kenapa!


"Qila!! Kembalilah ke kamarmu sekarang!!" perintah Nikolas yang sekarang sedang menggendong Anna.


Aqila menatap seluruh keluarganya yang menatapnya datar dan tajam. Bahkan Justin memalingkan mukanya saat bertatapan dengannya.


"Ini kan yang kamu mau?! Merebut semua yang aku miliki!" ucap Aqila menatap Anna yang berada di gendongan Nikolas.


"Cukup Qila! Papa bilang cukup!! Segera kembali ke kamarmu sekarang!!" ucap Felix yang tidak tahan dengan drama yang di mainkan Aqila.


Aqila terkekeh miris untuk dirinya sendiri. Anna dengan gampangnya mendapatkan empati dari keluarganya. Ah, sekarang dia seperti tokoh antagonis yang melukai sang putri. Uh, sungguh menjijikan.


Tanpa mengatakan apa apa lagi Aqila langsung berbalik untuk menuju kamarnya. Dia ingin menangis. Tapi dia tidak ingin menangis di hadapan Anna. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan keluarga, Justin dan Anna.


Saat sudah sedikit jauh,air matanya dengan perlahan tumpah. Dia menggigit bibirnya untuk meredam isak tangisnya. Dia menghapus setiap air mata yang jatuh di pipinya. Aqila mempercepat langkahnya untuk segera tiba di kamarnya. Dia tidak ingin siapapun melihatnya menangis menyedihkan ini, hanya karena Anna.