
Di depan ruangan Anna. Terdapat seluruh anggota keluarga Abraham yang terlihat sangat cemas dan khawatir yang tampak jelas dari ekspresi wajah mereka.
Tadi tiba tiba saja Anna menangis kesakitan dengan memegangi dadanya. Seluruh anggota keluarga yang kebetulan sedang berkumpul bersama merasa panik. Nikolas pun langsung bergegas menuju ruangan dokter.
Dokter yang berada di ruangannya langsung berdiri saat ada orang yang membuka kasar pintunya. "Tuan, ada apa? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter itu dengan berjalan mendekat ke Nikolas.
"Cepat!! Cepat tolong anak ku!!" ucap Nikolas dengan napas yang memburu.
"Tuan tenanglah!! Ada apa sebenarnya?!" ucap dokter itu meminta penjelasan lebih lanjut pada Nikolas.
"Jantung anakku bermasalah. Cepat selamatkan dia!!" ucap Nikolas dengan panik dan cemas. Karena dokter ini yang terus saja bertanya. Bagaimana jika Anna kenapa kenapa hanya gara gara dokter ini terus bertanya?
"Baiklah tuan. Tenanglah!!" ucap dokter itu.
"Kalian berdua ikut saya!!" ucap dokter itu kepada dua orang perawat yang berada di dalam ruangan tadi.
Nikolas segera berjalan cepat menuju ke ruangan Anna bersama dokter dan dua perawat yang mengikutinya dari belakang.
Dokter itu segera memeriksa keadaan Anna. Sedangkan salah satu perawat menyuruh seluruh anggota keluarga Abraham untuk keluar ruangan terlebih dahulu.
Sudah satu jam lebih seluruh anggota keluarga Abraham menunggu di depan ruangan. Tapi dokter dan dua orang perawat tadi tidak segera keluar, sehingga membuat suasana makin tegang.
Mereka semua berdoa untuk kesehatan Anna yang ada di dalam ruangan. Kanaya meneteskan air matanya, dia sangat mencemaskan keadaan Anna. Nikolas hanya bisa memeluk Kanaya untuk menenangkannya.
Sekitar lima belas menit kemudian, dokter itu membuka pintu ruangan Anna.
Seluruh anggota keluarga Abraham langsung mengerumuninya dan membombardirnya dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana keadaan anakku?"
"Apakah dia baik baik saja?"
"Apakah dia sudah tidak kesakitan lagi sekarang?"
Pertanyaan pertanyaan dari anggota keluarga Abraham membuat dokter itu merasa pusing. Dokter itu sampai memijit keningnya mendengar pertanyaan pertanyaan yang mereka ajukan.
"Baiklah, saya akan menjelaskan keadaan dari nona Anna!" ucap dokter itu segera menyela pertanyaan lain yang akan di berikan kepadanya.
Seluruh anggota keluarga Abraham langsung diam dan menatap serius pada dokter itu. Mereka juga berusaha untuk mendengarkan dengan sebaik baiknya apa saja yang akan dokter itu katakan.
Melihat semua orang yang menatapnya serius membuat dokter itu juga mengubah ekspresinya menjadi serius.
"Sekarang nona Anna baik baik saja. Kami sudah menangani dan membagikan obat supaya jantungnya tidak berulah kembali!" ucapan dokter itu membuat seluruh anggota keluarga Abraham menghela napas lega sembari memegang dada mereka.
Dokter itu juga tersenyum tipis melihat kelegaan yang terlihat jelas dari raut wajah anggota keluarga yang berada di depannya ini. Tapi setelah memikirkan apa yang akan dia ucapkan selanjutnya membuat dokter itu sedikit merasa kasihan kepada mereka.
Nikolas yang melihat tatapan dokter itu merasa bahwa perkataan selanjutnya akan membuat mereka merasa sedih.
"Silakan di lanjut, dok!!" ucap Aulia mempersilakan dokter itu untuk melanjutkan perkataannya.
"Seperti yang saya katakan tadi bahwa nona Anna baik baik saja sekarang. Tapi kalian harus segera mencarikan jantung baru untuk nona Anna. Karena jantungnya yang sekarang sudah sangat parah. Sehingga jika nona Anna ingin sembuh, harus melakukan transplantasi jantung."
Perkataan dokter itu hampir membuat seluruh wanita keluarga Abraham pingsan. Mereka yang tadinya lega, sekarang justru terlihat sangat sedih dan cemas mendengar keadaan Anna.
"Baiklah dok, terima kasih!!" ucap David kepada dokter itu.
"Ini sudah tugas saya. Jika ada keadaan darurat tolong segera memanggil dokter." ucap dokter itu.
"Iya, baiklah. Sekali lagi terima kasih dok!!"
Dokter itu mengangguk dan pergi dari sana bersama ke dua perawat yang tadi datang bersamanya usai memberikan penjelasan tentang keadaan Anna kepada seluruh anggota keluarga Abraham.
"Hiks bagaimana ini Nik?" Isak tangis Kanaya pecah saat melihat tubuh Anna yang di penuhi alat alat untuk mendukung hidupnya.
Bukan hanya Kanaya saja yang menangis, tapi hampir seluruh anggota keluarga Abraham menangis saat melihat keadaan Anna yang sekarang.
Mereka benar benar tidak bisa melihat Anna yang terbaring lemah seperti ini di ranjang rumah sakit. Anna yang biasanya sangat lincah dan banyak bicara menjadi pendiam dan tidak bisa berpisah dari ranjangnya. Hal itu membuat keluarga Abraham merasa sangat tertekan.
"Tenanglah Kanaya! Aku akan mencoba sebaik mungkin untuk mendapatkan jantung yang cocok untuk anak kita!!" ucap Nikolas kepada istrinya.
"Tenang? Tenang bagaimana Nik? Hiks aku sangat tidak tega melihat Anna yang harus memakai alat alat itu hiks." ucap Kanaya dengan suara yang serak.
"Apakah tidak ada jantung yang cocok untuk Anna di rumah sakit ini?" tanya Felix kepada Nikolas.
Nikolas menggelengkan kepalanya. Dokter sudah memberitahunya bahwa jantung yang cocok dengan Anna tidak ada sekarang. Hal itulah yang membuat Nikolas harus mencari jantung yang cocok untuk Anna dari rumah sakit lain.
"Apakah kamu sudah menghubungi rumah sakit lainnya?!" tanya David dengan dahi yang berkerut.
"Sudah, tapi mereka mengatakan hal yang sama padaku, bahwa tidak ada jantung yang cocok untuk Anna sekarang!!" ucap Nikolas memijit pangkal hidungnya, pusing.
"Bagaimana dengan rumah sakit di luar negeri?" tanya Felix lagi. Dia juga meras tertekan saat mendengar tidak ada jantung yang cocok untuk Anna di rumah sakit sekitar.
"Aku telah melakukan hal itu. Saat aku ke sana, hasilnya juga sama, tidak ada. Jadi, aku memberikan nomor telepon ku jika ada jantung yang cocok untuk Anna. Tapi sampai sekarang belum ada kabar dari rumah sakit rumah sakit itu!!" ucap Nikolas yang merasa sangat frustasi dan tertekan.
Hening melanda ruangan Anna. Seluruh keluarga Abraham merasa sangat sedih mendengar percakapan yang di lakukan oleh Nikolas, David dan Felix.
Kanaya, Alina, Emily dan Mila bahkan telah meneteskan air mata mereka. Aiden dan Andra hanya termenung memikirkan apa yang akan terjadi pada Anna.
Tiba tiba Andra mengatakan hal gila. "Bagaimana jika kita juga memeriksa jantung kita? Mungkin saja ada yang cocok dengan Anna!!"
Perkataan Andra membuat seluruh keluarganya terkejut.
"Apa kau gila?!" Aulia segera berteriak setelah mendengar perkataan Andra.
"Terus bagaimana lagi? apa kamu mempunyai cara lain? Berbagai rumah sakit yang paman kunjungi tidak ada jantung yang cocok dengan Anna!!!"
"Sampai kapan kita akan menunggu? bukankah itu akan sangat terlambat untuk menyelamatkan Anna saat itu?!"
Andra terlihat sudah sangat frustasi. Dia benar benar terlihat sangat kelelahan. Bagaimana pun dia juga memikirkan untuk membantu menyembuhkan Anna!!
Felix segera menghampiri anaknya itu. Dia memeluknya erat. Andra yang mendapatkan pelukan dari ayahnya, menangis tertahan dan memeluk kembali ayahnya dengan erat.
"Tapi juga bukan begitu caranya!!" ucap Aulia lirih.
Dia juga tahu bahwa apa yang di katakan Andra ada benarnya. Tapi dia tidak ingin memberikan hidupnya pada siapa pun. Dia juga ingin hidup. dia takut jika nanti hasilnya menunjukkan bahwa jantung nya memiliki kecocokan dengan Anna dan keluarganya menyuruhnya untuk memberikan itu. Dia benar benar tidak bisa!!!
"Kita bisa mencobanya!!" ucap Kanaya tiba tiba.
Seluruh anggota keluarga Abraham menatap Kanaya dengan terkejut saat dia menyetujui ide gila dari Andra.
"Apa Mom?! Tidak!!!" tolak Aulia menentang keras.
"Kita hanya mencobanya Aulia!!" ucap Mila yang tiba tiba saja mendukung Kanaya.
"Apa? Nenek kamu menyetujui ide gila yang Mom dan Andra katakan?!" ucap Aulia tercengang, tak percaya.
"Tidak ada cara lain. Kita akan mengeceknya saja!!"
Aulia menatap kakeknya tak percaya. Karena jika kakeknya, David sudah berbicara berarti itu adalah keputusan akhir yang akan mereka lakukan.
Aulia menatap seluruh keluarganya yang tidak ada sama sekali dari mereka yang menolak ide gila itu. Dia pun hanya bisa pasrah dan berdoa agar jantungnya tidak cocok dengan Anna.