
"Kamu selalu saja membaca bukumu itu!!! Padahal aku sedang ada di sini. Apa pacarmu itu buku?!" ucap Aqila dengan cemberut.
"Tentu saja tidak! Bukankah pacarku kamu!?" ucap Vincent melirik sekilas ke arah Aqila, sebelum mengalihkan pandangannya pada buku yang ada di tangannya kembali.
Sekarang ke duanya ada di ruang keluarga dengan televisi yang menyala untuk membuat ruangan itu tampak ramai dan tidak terlalu sunyi.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah memperhatikanku? Kamu bahkan lebih sering menghabiskan waktu dengan buku bukumu itu!!" Aqila menghembuskan pipinya kesal.
"Aku selalu memperhatikanmu, tapi kamu nya saja yang tidak tahu. Dan lagi aku selalu menghabiskan waktu denganmu, seperti saat ini!?"
Memang di vila itu hanya ada mereka berdua, sedangkan Laura dan Daniel sudah pergi dari vila sejak pagi. Dia juga tidak tahu akan kemana ke dua orang itu akan pergi. Lagi pula itu bukan urusannya.
Aqila justru sangat senang saat melihat ke dua orang itu pergi sehingga tidak ada yang akan mengganggunya dan Vincent saat sedang berduaan.
Tapi dugaan Aqila salah karena ada pihak ketiga yang mengganggu hubungannya dan Vincent sekarang, yaitu si buku yang selalu ada di tangan Vincent itu. Ih, sungguh membuat orang frustasi. Aqila menatap dengan mata permusuhan pada buku itu.
Buku : apa salahku? Kenapa kamu menyalahkan ku dan bukannya pacarmu ini?
Mungkin itu yang akan buku itu utarakan jika saja dia bisa berbicara. Eh, tapi agak ngeri juga lihat buku bisa bicara, ya kan?! Jadi, mending gak usah.
Aqila memandang dengan kesal ke arah Vincent. Jika seperti ini, dia merasa bahwa dia adalah pihak ke tiga yang mengganggu hubungan Vincent dengan buku itu.
Aqila dengan paksa menolehkan wajah Vincent untuk menatap ke arahnya. Vincent menatap santai kekasihnya itu.
"Pacar kamu itu aku!!! Kamu harusnya lihatnya ke aku dong! Jangan ke buku itu terus yang kamu lihat!!" ucap Aqila kesal sampai matanya berkaca kaca dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Vincent menutup buku yang ada di tangannya, lalu meletakkannya di atas meja. Dia masih menatap Aqila tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun saat melakukan hal itu.
"Iya, aku akan terus melihatmu!" ucap Vincent mengelus pipi Aqila.
Aqila memejamkan matanya menikmati usapan yang di berikan oleh Vincent di pipinya. Dia merasa jauh lebih tenang saat Vincent melakukan hal itu saat dia sedang merasa marah ataupun kesal. Hal itu terbukti sangat ampuh saat Vincent melakukan hal itu padanya.
Entah kenapa hari ini kekasihnya itu sangat sensi dengan hal hal sepele. Seperti tadi contohnya!! Tiba tiba Vincent tersadar, mungkin saja ke kasihnya ini sedang mens sehingga emosinya sering berubah ubah.
"Apakah sakit?!" ucap Vincent dengan mengelus lembut perut Aqila dari luar pakaiannya.
Aqila mengangguk kepalanya. Dia mendekatkan dirinya ke arah Vincent untuk menjatuhkan kepalanya di pundak lebar Vincent. Jadi, tadi itu posisi ke duanya saling berhadapan hadapan.
Vincent mengelus rambut kekasihnya itu untuk menenangkannya. Vincent juga sesekali mencium dan menghirup rambut Aqila yang berbau sangat wangi. Tidak lupa juga tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk mengelus perut Aqila untuk membuatnya nyaman.
Sedangkan di sisi lain. Di Jakarta, Indonesia, di salah satu rumah sakit yang ada di sana.
Terlihat seluruh anggota keluarga Abraham yang sedang memegang sebuah amplop yang masih tertutup di tangan masing masing dari mereka semua.
Seluruh keluarga menatap amplop yang beradab di tangan mereka dengan gugup. Terutama Aulia yang memegang amplop nya dengan sangat erat seperti ingin merobeknya. Tangannya bahkan sudah mengeluarkan keringat dingin sebelum melihat hasil yang ada di amplop itu.
David menatap semua keluarganya yang sekarang berada di luar ruangan Anna. "Baiklah, kita akan membunuh bersama sama. Dalam hitungan ke tiga!!"
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Dengan segera seluruh keluarga membuka amplop itu. Bahkan saking kesalnya Aulia langsung merobek amplop itu untuk segera membaca surat yang berada di dalamnya.
"Hasil ku negatif. Bagaimana dengan kalian?" tanya Aulia yang tampak sangat bersemangat melihat hasilnya.
"Aku juga" ucap Aiden menunjukkan kertasnya.
"Yah, aku juga" ucap Andra.
Ke tiganya segera menatap para orang tua yang tetap diam menatap kertas di tangan mereka masing masing.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Nik? Semua hasilnya negatif!!" ucap Kanaya yang terdengar serak sembari menutup ke dua matanya.
"Tenanglah kak!! Kita akan berusaha untuk menemukan jantung baru untuk Anna, sehingga dia dapat ceria seperti dulu lagi" ucap Alina dengan memeluk kakaknya, Kanaya.
Alina bisa melihat betapa frustasi dan tertekannya Kanaya. Bagaimana pun juga bukan hanya Kanaya yang merasa seperti itu. Apa lagi Anna telah mereka besarkan seperti anak sendiri saat dia kecil. Sehingga hal itu menumbuhkan perasaan sayang kepadanya yang benar benar sulit di hapuskan.
"Kenapa kalian semua ada di luar" tiba tiba terdengar suara dari arah depan.
Ternyata dia adalah Justin. Dia terlihat membawa buah buahan yang kebanyakan adalah apel di sana.
"Kamu baru saja membuka pemeriksaannya di sini!" ucap Aiden menjawab pertanyaan yang Justin katakan.
"Oh, lalu bagaimana hasilnya?" Justin terlihat bersemangat dengan hasil pemeriksaan itu.
Tapi saat melihat seluruh anggota keluarga Abraham menggelengkan kepala mereka, seketika itu juga dia merasa kecewa.
"Bagaimana kamu ada di sini Justin? Apakah kamu tidak sekolah?" tanya Felix untuk mengalihkan perhatian saat merasa suasana yang akan kembali menjadi suasana yang sedih dan penuh dengan hawa tertekan.
"Ah, hari ini guru ada rapat. Jadi, kita di pulang kan lebih awal!! Dan ini ada buah untuk Anna " ucap Justin tersenyum sembari memberikan buah itu ke tangan Nikolas yang berada di sampingnya.
"Ayo masuk!!" ajak Kanaya membuka pintu ruangan Anna. Dia mempersilakan Justin untuk masuk. Di ikuti oleh seluruh keluarga Abraham yang ikut masuk ke dalam ruangan.
Saat masuk Justin langsung mengarahkan pandangan menghadap ke arah Anna yang terlihat sedang menutup matanya. Dia merasa kasihan dengan temannya ini.
Dia masih muda!? Tapi kenapa Allah memberikan cobaan sebesar ini padanya!! Justin berjalan ke arah brankar Anna. Dia berdiri di samping brankar itu sambil mengamati wajah Anna yang terlihat pucat.
Justin menatapnya sebentar, lalu berjalan kembali ke arah keluarga Abraham berada. Dia duduk di samping Aiden yang kosong.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya? Kalian juga tahu bahwa pemeriksaan itu berakhir sia sia." ucap Justin menatap kelurga Abraham.
"Mungkin kita akan meluaskan pencarian hingga ke negara negara yang sedikit jauh. Mungkin saja mereka memilikinya!!" ucap Nikolas ragu ragu.
"Itu akan memakan waktu yang sangat banyak. Lagi pula Anna tidak akan bisa bertahan jika kita hanya menunggu seperti ini!"
Aulia menatap tidak suka ke arah Justin, "Kamu enak hanya bicara saja. Memangnya gampang menjadi jantung yang cocok untuk Anna? Kami juga khawatir padanya, bukan hanya kamu saja"
Justin terdiam tanpa mengatakan apa pun usai mendapatkan teguran dari Aulia.
"Apakah kalian lupa bahwa masih ada satu anggota keluarga kalian yang belum melakukan pemeriksaan itu?!"
"Ha? Siapa?!" tanya Andra bingung.
Perasaan semua keluarganya telah melakukan hal itu. Atau dia punya saudara sepupu lain lagi? Ah, tidak tidak mungkin!. Jika itu terjadi pasti bibi Kanaya akan menendang paman Nikolas. Berarti bukan itu. Lalu siapa yang di maksud Justin ini?!
"Siapa maksudmu?!" tanya Aiden dengan mengerutkan keningnya dalam.
Melihat seluruh anggota keluarga Abraham yang memperhatikannya, membuat Justin segera membuka mulutnya untuk berbicara.
"Aqila!!!"
Satu nama yang terucap dari mulut Justin menyadarkan keluarga Abraham bahwa mereka memiliki anak dan cucu satu lagi.
Selama ini mereka selalu terfokus pada Anna sehingga mengabaikan dan melupakan salah satu anggota keluarga mereka.
"Iya benar!! Aqila!!" ucap Kanaya dengan senyum bahagianya. Terlihat dua sangat berharap bahwa pemeriksaan Aqila positif.
Mata seluruh keluarga Abraham juga berbinar. Mereka seperti memikirkan hal yang sama dengan yang Kanaya pikiran.
Tapi Aulia terlihat sedikit ragu. Dia ingin menolak saran keluarganya supaya Aqila terbebas dari hal itu. Tapi akhirnya dia hanya memilih diam tanpa mengatakan apa pun.