
Di bandara internasional Soekarno-Hatta. Banyak sekali pengawal berpakaian hitam yang berjejer rapi di depan salah satu pesawat untuk menyambut kedatangan seseorang.
Banyaknya pengawal membuat orang orang yang berada di sana bertanya tanya. Orang orang itu terlihat sangat pucat dan khawatir. Mereka mengira orang orang itu ke sini untuk melakukan kejahatan. Tapi hal itu pikiran itu segera terbantahkan karena pengumuman yang terdengar di bandara.
Hal itu membuat orang orang merasa lega. Tapi mereka juga penasaran siapa orang yang datang hingga dapat mendatangkan pengawal pengawal itu?
Tak lama terlihat seorang pria yang mengenakan kemeja oxford tanpa dasi dengan bagian leher terbuka. Pria itu juga mengenakan jam tangan bermerek di tangan kirinya. Dan kaca mata hitam yang menutupi matanya yang tajam.
Dengan ekspresi datar dan mata yang memandang ke depan dengan tajam, pria itu berjalan menuruni pesawat dengan asisten pria yang mengikuti di belakangnya.
"Selamat datang, tuan" ucap para pengawal itu secara bersamaan dengan membungkukkan badan mereka.
Pria itu dengan sombongnya hanya menganggukkan kepalanya. Dia tetap berjalan menuju ke mobil Rolls-Royce Phantom yang terparkir di depannya.
Melihat dari mobilnya saja orang orang pasti tahu bahwa pria itu termasuk orang yang kaya. Karena hanya ada beberapa orang saja yang memiliki mobil itu di Indonesia.
Asisten yang di belakangnya berjalan maju untuk membukakan pintu mobil supaya pria itu dapat masuk ke dalamnya.
Asisten itu segera berjalan untuk duduk di samping pengemudi. Setelah itu mobil pun berjalan pergi dari bandara. Meninggalkan diskusi yang terjadi di antara orang orang yang menyaksikan hal itu.
Selama perjalanan, suasana hening menyelimuti mobil pria itu.
Tiba tiba sang asisten berkata, "Tuan, apakah kita akan langsung ke mansion?"
Asisten itu menoleh untuk melihat ke belakang, menunggu jawaban pria itu. Terlihat pria itu sedikit mengerutkan keningnya. Lalu meregangkannya kembali sembari menatap asistennya.
"Tidak, kita ke rumah sakit!!"
"Baik tuan!" jawabnya sembari menganggukkan kepalanya, mengerti.
Asisten itu tidak bertanya lagi dan langsung mengerti rumah sakit mana yang akan mereka tuju. Bagaimana pun dia sudah bersama tuannya ini selama bertahun tahun. Sehingga dia selalu tahu apa saja yang tuannya lakukan, karena tuannya akan memberikannya perintah untuk melakukan hal itu.
Setelahnya tidak ada yang berbicara lagi. Baik pria itu atau pun asistennya yang menimbulkan keheningan selama perjalanan.
.
.
.
Saat ini Aqila sedang duduk di ruang tamu bersama keluarganya yang lain. Dia menatap keluarganya satu persatu. Dia merasa senang bisa melihat wajah wajah keluarganya kembali. Padahal baru beberapa bulan dia pergi, tapi dia sudah sangat merindukan keluarganya yang mansionnya ini.
Tapi keluarganya tidak ada yang terlihat bahagia sama sekali dengan kepulangannya. Yah itu sudah dapat dia duga, tapi tetap saja hal itu membuatnya terluka dan sedikit kecewa.
Dia juga merasa aneh saat dia tak dapat menemukan Anna di antara keluarganya yang sedang ada di ruang keluarga sekarang.
Kenapa aneh? Ya tentu saja, karena setiap kali ada keluarganya yang berkumpul bersama seperti ini, pasti Anna juga akan ada di sana, karena dia adalah anak yang paling di sayang dan di perhatikan oleh keluarganya.
"Mommy, kenapa kamu menyuruhku untuk segera pulang kemari?" tanya Aqila saat di rasa semua keluarganya tidak ada yang ingin berbicara.
Keluarganya terlihat menatap satu sama lain. Melihat itu Aqila sedikit mengerutkan keningnya. Dia melihat keluarganya sedikit ragu ragu untuk mengatakan sesuatu padanya.
Melihat tidak ada yang berbicara, Kanaya yang sedari tadi tidak sabar segera berbicara.
"Anna masuk rumah sakit. Jantungnya memburuk, dia harus segera melakukan transplantasi jantung."
Aqila makin mengerutkan keningnya tak mengerti. Jika Anna membutuhkan jantung kenapa menghubunginya?
Dia berusaha menyanggah pikiran yang tidak masuk akal itu. Bagaimana pun dia adalah anak kandung keluarga Abraham, tidak mungkin keluarganya akan sekejam itu padanya, ya kan?!
"Terus? Apa hubungannya itu denganku? Kalau dia membutuhkan jantung, kalian seharusnya menghubungi rumah sakit yang dapat menyediakan itu!!"
"Ya tentu saja kamu sudah melakukan hal itu. Tapi tidak ada di antara jantung jantung itu yang cocok dengan Anna!" ucap Nikolas menatap putrinya dengan pandangan rumit.
"Jadi, apa yang kalian inginkan dari ku?!" tanya Aqila menatap keluarganya.
Usai Aqila mengatakan hal itu terjadi keheningan lagi di antara mereka. Sekali lagi melihat tidak ada yang berbicara Kanaya berdecak kesal.
"Kenapa kalian diam saja?! Apa kalian tidak ingin berbicara? Kalau begitu aku saja yang bicara!!" ucap Kanaya yang terlihat kesal.
"Tenanglah Kanaya!!" ucap Nikolas tidak dengan dengan tidak Kanaya yang tidak sabaran seperti ini.
"Tenang? Aku sudah tenang dari tadi. Tapi kalian terlalu bertele tele. Katakan saja langsung padanya! Kenapa kalian diam saja?!"
Kanaya mengerutkan dahinya tidak senang atas terguran yang Nikolas berikan padanya.
"Sudahlah, katakan saja apa yang kalian inginkan? kenapa kalian justru bertengkar?!" ucap Aqila yang tidak ingi melihat ke dua orang tuanya bertengkar.
"Karena tidak ada jantung yang cocok untuk Anna dari rumah sakit itu. kamu mengecek kan jantung kami sendiri. Tapi hasilnya semua jantung keluarga tidak ada yang cocok dengan Anna. Dan sekarang hanya kamu saja yang belum melakukan hal itu. Jadi, kami ingin kamu memeriksa apakah jantungmu cocok dengan Anna atau tidak!!?" ucap Kanaya.
"Kanaya!!!" teriak Nikolas yang merasa Kanaya sedikit tergesa gera menyampaikan tujuan mereka.
Bagaimana pun dia sadar bahwa kasih sayang yang dia berikan kepada putrinya ini sedikit kurang dari pada yang dia berikan kepada anaknya yang lainnya. Jadi, dia sedikit merasa tidak enak saat mengatakan tujuan mereka, termasuk keluarganya yang lain.
Aqila tidak mendengarkan keributan yang terjadi setelahnya. Dia merasa seperti tersambar petir. Meski pun dia sudah menebaknya, tapi dia tidak siap saat Mommy-nya sendiri mengatakan hal itu.
Aqila juga merasa terkejut saat mendengar semua keluarganya telah melakukan pemeriksaan itu. Dia merasa keluarga sudah sedikit tidak waras tentang hal ini. Apakah Anna sepenting itu? Bagaimana kalian rela memeriksa jantung kalian untuk Anna?
Aqila menatap kosong ke depan. Mulutnya terasa kelu hanya untuk sekedar berbicara. Hatinya juga ikut hancur berkeping keping.
Aqila merasa sangat kecewa. Padahal dia sudah buru buru pulang dan menghentikan study nya di sana untuk keluarganya. Tapi sekarang apa? Keluarganya ingin dia memberikan jantungnya kepada Anna? Ah tidak itu hanya memeriksa, tapi bagaimana jika itu cocok? Bukankah dia akan di paksa untu memberikan itu?!
"Bagaimana kamu mau kan?" tanya Kanaya menatap Aqila.
Aqila tersadar dari lamunannya dan berganti menatap ke arah Kanaya. Dia menatap mata Kanaya dalam dalam.
Tapi sekali lagi dia harus kecewa saat tidak merasakan cinta maupun kasih sayang yang ada di mata Kanaya untuknya. Di mata Kanaya hanya tersimpan rasa cemas dan khawatir yang dia berikan untuk Anna. Tidak ada dirinya di mata Mommy-nya itu.
"Ya aku mau." ucap Aqila dengan senyum terpaksa.
Aulia dan Aiden memalingkan muka mereka. Mereka bisa merasakan rasa kecewa yang terdapat di mata dan senyuman Aqila. Mereka tidak sanggup melihat betapa kecewanya kembaran mereka terhadap keluarganya.
"Ha, lihat!! Dia mau!!" ucap Kanaya yang sangat gembira mendengar persetujuan dari Aqila.
"Terima kasih sayang!!" ucap Kanaya dengan memeluk Aqila.
Aqila memeluk kembali Mommy-nya itu. "Iya Mom"
"Baiklah, kita akan ke rumah sakit sekarang!!" ucap Kanaya yang langsung menyeret Aqila menuju mobil.
Aqila tersenyum kecut melihat itu. Dia bahkan belum istirahat. Apakah sepenting itu Anna bagi keluarga? Bahkan dia tidak di biarkan istirahat sejenak usai melakukan perjalanan ke sini.
Yah, sekarang Aqila hanya bisa menyingkirkan pikiran itu. Dia berdoa agar jantungnya tidak akan cocok dengan Anna.