GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 32



Aqila memejamkan matanya selama lima menit. Aqila melihat Laila yang sangat fokus mengerjakan dokumen dokumen yang ada di atas mejanya.


Setelah melihat jam yang ada di dinding, Aqila beranjak dari duduknya. Hal itu membuat Laila langsung mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang dia kerjakan.


"Ada apa?" ucap Laila bingung.


"Aku akan pergi." ucap Aqila sembari berjalan menuju pintu ruangan Laila.


"Secepat itu?!" ucap Laila tak mengerti.


"HM! Aku ada janji dengan seseorang." jelas Aqila, membuka pintu tanpa menatap Laila.


"Oh, baiklah"


Aqila hanya mengangguk lalu keluar dari ruangan Laila. Dia menutup pintu itu kembali sebelum berjalan.


Dia melihat sekeliling kafe untuk menemukan orang yang dia cari. Aqila langsung berjalan ke meja pojok. Di sana ada seorang pria yang dia cari. Pria itu berusia sekitar 29 tahun, dia juga mengenakan jas, dasi, jam tangan serta kaca mata yang menambah daya tariknya.


"Tuan Austin?" tanya Aqila memastikan.


Pria itu langsung mengangguk, Aqila pun duduk di depan pria yang bernama Austin itu. Sekarang mereka saling berhadapan hadapan.


"Apakah anda nona Aqila?"


"Iya, saya sendiri." ucap Aqila tersenyum tipis.


"Apakah kita perlu memesan sesuatu terlebih dahulu?" tanya Aqila.


"Kalau anda menginginkannya, silahkan!." ucap Austin tanpa mengubah ekspresi datarnya. Ah, dia sangat dingin seperti Aiden dan Daddy batin Aqila.


"Baiklah, kita langsung saja ke intinya." Aqila tersenyum tipis, tanpa memesan apapun.


Austin langsung membenarkan kaca matanya. "Ya, dokumen yang anda kirimkan kepada saya merupakan dokumen pengalihan."


Aqila termenung sejenak, "Benarkah?" Austin hanya mengangguk dan terus berbicara tentang dokumen yang Aqila kirim kepadanya.


"Aqila!!!" Aqila langsung tersentak dari lamunannya.


"Ada apa denganmu? Sejak tiga hari lalu kau terus saja melamun! Apa kau sakit?" Vina meletakkan tangannya di dahi Aqila.


"Tidak aku baik baik saja!" Aqila menyingkirkan tangan Vina yang sedikit mengganggu.


Ya, sudah tiga hari pembicaraan yang dia lakukan dengan tuan Austin, sudah tiga hari pula dia menginap di mansion Baskara, keluarga Vina.


Dan di sini lah dia di kamar Vina. Mereka sedang bermain game sebelum Aqila yang melamun dan berakhir kalah.


Vina menghela napas mendengar balasan dari temannya ini. Dia ingin sekali Aqila menceritakan hal hal yang membuat dirinya terganggu. Dia ingin menjadi pendengar dan teman yang baik untuk Aqila. Tapi mungkin Aqila juga tidak ingin membebani dirinya dengan semua ceritanya. Yah, dia hanya bisa mendukungnya dari belakang, mungkin itu sudah sangat cukup bagi Aqila.


"Kalau ada masalah, kamu bisa menceritakan padaku. Jangan kamu pendam sendiri" Aqila tersenyum, mendengar perkataan Vina.


"Aku tau! Tapi maaf aku tidak bisa menceritakan padamu!" Vina hanya terdiam lalu memeluk Aqila erat. Dia tau dari wajah Aqila tampaknya masalah yang dia hadapi cukup rumit.


"Semoga masalahmu cepat terselesaikan." harap Vina masing memeluk Aqila semakin erat.


"Kita teman jadi, jangan berterima kasih kepadaku!" Aqila mengangguk membalas perkataan Vina.


"Baiklah, lebih baik kita melanjutkan mainnya!" Vina melepaskan pelukannya. Aqila menyetujui perkataan Vina.


Tak terasa dua hari lagi liburan sekolah berakhir. Sekarang terlihat Aqila yang bersiap siap untuk pergi membeli peralatan sekolahnya.


Dan keluarganya yang harusnya sudah pulang seminggu yang lalu. Tapi mereka juga tak kunjung pulang dari liburan di Paris. Dia bahkan melihat postingan Instagram Anna dan Aulia yang sedang berfoto bersama dengan senyum lebar di bibir mereka. Di foto itu bahkan ada keluarga, dia sangat merindukan mereka semua.


Dia benar benar iri dengan Anna yang dapat pergi bersama keluarga. Bahkan keluarganya terlihat sangat bahagia di foto itu. Terakhir Aqila berlibur bersama adalah saat dia berumur sembilan tahun. Liburan itu pun karena study tour sekolahnya. Itu sangat menyenangkan.


Aqila berjalan menuruni tangga dengan berlari. Dia membuka pintu mobil online yang tadi dia pesan, saat dia telah berada di depan gerbang mansionnya.


Sekarang Aqila berada di mall yang ada di Jakarta. Dia sedari tadi memilih milih buku tulis yang akan dia gunakan. Yah, tapi dia tergoda dengan buku novel yang juga berada di rak sebelah buku tulis.


Akhirnya dia membeli satu lusin buku tulis dan dua novel bergenre romantis. Dia juga membeli satu bolpoin yang di atas bolpoin ada beruang dengan bunga. Karena menurutnya lucu jadi, dia membelinya.


"Wah, kenapa aku membeli banyak sekali!" Aqila menatap tas tas yang berada di tangannya. Dia menatap barang barang itu dengan kesal. "Huh, kenapa aku gampang sekali tergoda dengan barang barang lucu seperti ini?!"


Aqila menghela napas sembari duduk di restoran Korea. Dia memesan Jajangmyeon dan bibimbap serta minuman kesukaannya yaitu smoothies strawberry.


"Yah, mau bagaimana lagi sudah terlanjur aku beli!" Aqila menatap belanjaannya dengan tatapan menyesal. Dia mengeluarkan banyak uang hanya untuk barang barang yang tidak dia butuhkan. Bahkan dia sudah keluar dari tujuannya yang hanya akan membeli keperluan sekolahnya saja.


Aqila menghentikan gerutunya saat waiters perempuan meletakkan pesanannya ke atas meja. "Terima kasih," waiters mengangguk dengan membungkukkan badannya. "Silahkan menikmati," setelah mengucapkan itu waiters tadi pun pergi.


Aqila memakan makanan yang telah dia pesan. Dia terlihat sangat menikmati makanannya. Di sudut restoran terlihat seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya. Pemuda itu terlihat ragu ragu untuk menghampiri tempat Aqila.


Aqila yang sedang memakan bibimbap merasa terkejut merasa terkejut oleh tepukan di bahunya. Refleks dia menoleh ke belakang. Dia melihat pemuda yang tampan berpakaian hitam memakai topi yang hampir menutupi matanya, pemuda itu juga terlihat tinggi.


"Aqila?" perkataan pemuda itu membuat Aqila mengernyitkan dahi. Dia merasa bingung, bagaimana bisa pemuda ini tau namanya?


Apakah ini yang di maksud orang orang modus penipuan dengan hipnotis? Apakah sekarang dia akan di hipnotis oleh pemuda ini hanya karena menepuk bahunya? Oh, bukankah dia harus menepuk pemuda ini jika tidak ingin di hipnotis.


Aqila langsung menepuk lengan pemuda itu dengan keras. Aqila merasa dia sangat pintar saat melihat pemuda itu meringis akibat tepukan darinya.


"Siapa kamu? Jangan jangan kamu penipu yang ingin menghipnotis ku? Ya kan, ngaku kamu!" Pemuda itu tercengang dengan tuduhan yang Aqila layangkan padanya.


"Hah? Apa yang kamu bilang, penipu? Apa aku terlihat seperti itu?!" Aqila melihat penampilan pemuda itu dari atas sampai bawah, lalu dia mengangguk.


"Lebih baik kamu pergi! Kalau tidak aku akan teriak!" ancam Aqila membuat pemuda itu makin kesal.


"Apa kau tidak mengenaliku? Ak-" perkataan pemuda itu terpotong oleh perkataan Aqila.


"Kamu tidak ingin pergi?! Kalau begitu, aku akan teriak! TOL-" mulut Aqila langsung di bungkam oleh tangan pemuda itu yang panik.


"Ini salah paham dia temanku, otaknya memang sedikit rusak hari ini. Hahaha..." tawa canggung pemuda itu menjelaskan, karena mereka berdua telah menjadi pusat perhatian seluruh orang di sana.


Aqila terlihat meronta ronta dalam dekapan pemuda tampan itu. "Tenanglah! Aku Justin, apa kau tidak ingat?" Pemuda itu berkata dengan geram.


Perkataan pemuda itu membuat Aqila menghentikan gerakannya. Dia mendongak untuk melihat lebih jelas wajah pemuda yang berada di depannya.