GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 41



"Anna! Hati hati, kamu baru saja sembuh!"


"Aku tidak sakit Lia! Itu hanya sesak saja!"


"Iya, aku tau. Tapi harusnya kamu lebih hati hati, jangan terlalu lelah dalam melakukan sesuatu supaya jantungmu itu tidak sakit!"


"Iya, aku mengerti!"


Anna menghela napas pasrah mendengar semua penuturan dari Aulia. Telinganya terasa panas saat Aulia selalu mengungkit penyakitnya. Dia sedikit tidak suka saat Aulia berbicara seakan akan dia tidak bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri.


Kalau saja keluarga Abraham mu yang sialan itu mencarikan pendonor jantung lebih cepat. Aku juga tidak akan kesakitan seperti ini! Kalau tidak berikan saja salah satu jantung mu atau Aqila sialan itu untukku!! Akh, sialan bikin mood jelek saja!.


"Anna, perhatikan langkahmu!"


"Aku tau Lia! Aku bukan anak kecil! Berhentilah berbicara!!"


"Bagaimana bisa aku berhenti berbicara? Aku menghawatirkan mu! Aku tidak ingin kamu jatuh sakit lagi!!"


"Lalu bagaimana jika kamu menghawatirkan ku!! Itu juga tidak akan bisa membuatku sembuh! Jantung ku sudah mau membusuk, jadi sebaiknya segera bilang pada Daddy mu untuk mencari pendonornya!!"


Aulia menghentikan langkahnya, ia menatap Anna terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut saudaranya.


"Apa maksudmu Anna?! Daddy sangat berusaha supaya mencari pendonor yang cocok untukmu. Kamu tidak pantas mengatakan hal seperti itu tentang Daddy!!!"


Aulia berkata dengan menatap Anna datar. Nada suaranya bahkan berubah menjadi sangat dingin. Aulia tau jika Anna harus segera mendapatkan pendonor untuk jantungnya. Tapi Anna tidak sepantasnya berkata seperti Daddy-nya hanya bersantai tanpa melakukan apapun. Dia tidak bisa terima dengan hal itu!


Daddy nya juga telah berjuang menghubungi rumah sakit ternama dari beberapa negaranya. Daddy bahkan memiliki masalah tidur hanya untuk memikirkan kesembuhan dari Anna!. Belum lagi Daddy-nya juga harus menangani masalah di kantor. Daddy nya bahkan meninggalkan semua pekerjaannya saat Anna sakit. Jadi, Anna sangat tidak pantas dan tidak layak berbicara seperti itu tentang Daddy-nya!!.


"Dan satu lagi! Daddy ku itu juga Daddy mu!! Jangan berbicara seakan kamu orang asing dengan berkata keluarga ku ataupun keluarga mu, karena itu keluarga kita!!"


Anna ikut menghentikan langkahnya saat melihat langkah Aulia terhenti. Anna menatap dengan pandangan sedih saat mendengar perkataan yang terucap dari bibirnya Aulia.


Sekarang mereka berdua sedang berada di lorong sekolah. Tak sedikit siswa siswi yang memperhatikan mereka berdua. Siapa yang tidak mengenal putri keluarga Abraham? Apalagi mereka sering berkumpul bersama dengan teman Aiden yang juga merupakan salah satu mos wanted boy di sekolah. Jadi, mereka lumayan terkenal di kalangan siswa siswi di sana. Tindakan mereka bisa menjadi salah satu gosip populer. Apalagi jika siswa siswi ini melihat mereka berdua bertengkar.


"Maaf Lia! Aku...aku hanya merasa sedikit kesal dengan penyakitku ini!." Anna berkata dengan memukuli dadanya.


Aulia merasa terkejut dengan tindakan Anna yang memukul mukul dadanya sendiri. Dia segera mendekat pada Anna untuk menghentikan tindakan itu yang akan menyakiti dirinya sendiri.


"Maaf Lia, jika ucapanku keterlaluan!! Aku benar benar minta maaf!" Anna menatap Aulia dengan mata berkaca kaca sebentar, sebelum menurunkan pandangan matanya.


Aulia merasa bersalah saat melihat tatapan Anna yang begitu menyedihkan. Seharusnya dia tidak berkata sekadar itu pada Anna. Bagaimana pun dia tidak tau sesakit dan sekhawatir apa Anna tentang hidupnya! Pasti membahas ini membuat Anna menjadi sensitif!. Dia sangat merasa bersalah sekarang saat memikirkan hal itu!!!.


"Iya. Aku juga minta maaf atas perkataan ku tadi! Aku benar benar tidak bermaksud!! Aku hanya ingin kamu tau jika Daddy juga sedang berusaha untuk menyembuhkan penyakit-penyakit mu ini! Aku minta maaf. Jangan menangis!"


Aulia berkata dengan nada bersalah. Dia langsung memeluk tubuh ringkih Anna. Aulia mengelus punggung Anna untuk menenangkannya.


"Sudah! Ayo kita ke lapangan basket. Mereka semua pasti ada di sana!!"


Anna mengangguk. Mereka bergandengan tangan menuju lapangan basket. Para siswa dan siswi yang tadinya memperhatikan mereka, sekarang sibuk dengan urusan mereka masing masing.


Aulia sama sekali mengabaikan tatapan yang dia dapatkan saat sedang berjalan di lorong untuk sampai ke lapangan basket.


Sedangkan Anna sedari tadi menatap jengkel tangan Aulia yang terus menggandengnya. Dia sangat risih dengan hal yang di lakukan Aulia.


Di lapangan basket sangat ramai dengan suara teriakan para siswa siswi yang ada di sana. Mereka menyoraki permainan basket yang sedang berlangsung.


Anna dan Aulia mencari tempat duduk untuk menonton dan menunggu Aiden dan yang lainnya selesai bermain. Sesekali Aulia juga akan berteriak untuk mendukung Aiden dan temannya yang lain. Anna hanya menatap malas dengan sesekali mengipasi wajahnya. Ugh, kapan permainan ini akan selesai? Ini sangat panas! Batin Anna merasa jengkel.


20 menit kemudian permainan bola basket pun selesai. Permainan itu di menangkan oleh tim Aiden dan teman temannya. Anna langsung bergegas berdiri untuk menghampiri Aiden. Aulia juga segera mengikuti langkah kaki Anna menuju tempat Aiden dan yang lainnya berada.


"Kalian di sini?"


El adalah orang pertama yang menyadari kehadiran Anna dan Aulia.


"Iya. Permainan kalian sangat bagus tadi!"


"Terima kasih, Lia!"


Aulia mengangguk semangat. Kaivan berjalan mendekat. Dia berdiri di samping Aulia dengan menyodorkan handuk padanya.


Aulia menatap handuk itu lalu pada Kaivan, ia memiringkan kepalanya bingung. Apa yang harus dia lakukan? Pertanyaan seperti itu tercetak jelas di wajahnya.


"Bantu aku membersihkan keringat."


"Bersihin sendirilah. Gitu aja minta bantuan! Jadi orang itu harus MANDIRI!!"


Bian berkata dengan nada menyindir saat mendengar perkataan yang di ucapkan Kaivan pada Aulia. Kaivan menatap Aulia tanpa mengalihkan pandangannya. Dia menulikan pendengarannya saat mendengar kata sindiran dari salah satu sahabatnya itu.


Wajah Aulia sangat merah. Dia malu karena perkataan yang di katakan oleh Bian. Padahal yang harusnya merasa malu itu adalah Kaivan bukan dirinya!! Tapi melihat dari wajah Kaivan yang datar sedatar triplek ini, mana mungkin dia merasa malu.


Tapi pada akhirnya Aulia tetap mengambil handuk itu dari tangan Kaivan. Dia menyeka keringat di wajah Kaivan dengan perlahan. Sekarang wajahnya dan wajah Kaivan sangat dekat, sehingga Aulia dapat merasakan hembusan napas yang Kaivan keluarkan. Wajahnya makin merah seperti kepiting.


"Terima kasih, sayang"


Kaivan memajukan wajahnya untuk mencium pipi Aulia. Dia merasa gemas dengan tingkah kekasihnya ini. Wajah Aulia yang makin memerah malu karena tindakan Kaivan yang dengan tiba tiba menciumnya. Kaivan terkekeh dengan respon Aulia yang menurutnya sangat imut. Tindakan Kaivan membuat para siswi yang masih berada di sana berteriak. Mereka merasa iri dengan Aulia yang bisa menjadi kekasih dari seorang Kaivan, salah satu manusia es berjalan.


Anna hanya memandang malas tingkah Aulia dan Kaivan. Dia mengepalkan tangannya. Dia merasa seharusnya dia yang mendapatkan rasa iri dan pujian dari seluruh siswa siswi di sekolah ini dan bukan Aulia yang bodoh!. Benar benar menyebalkan!


Bian, El, dan Aiden menatap tindakan Kaivan dengan tatapan menggoda. Mereka bertiga bersiul untuk menggoda Aulia. Javier hanya menyunggingkan senyum tipis melihat adegan mesra yang ditunjukkan oleh sahabatnya itu.