
Aqila sekarang berada di salah satu vila yang akan dia tinggali selama di sini. Dia membuka pintu vila itu, dia memandang takjub sekeliling vila yang tampak mewah ini.
Vila ini di dominasi dengan warna putih dan beberapa warna silver. Barang barangnya sangat lengkap dan tertata rapi serta vila itu sangat bersih. Aqila menganggukkan kepalanya, puas dengan keadaan vila nya ini. Dia merasa akan nyaman dan menyenangkan tinggal di dalam vila ini.
Apa lagi di halaman depan vila ada banyak tanaman sehingga membuat vila itu tampak asri dan indah. Hal itu menambah poin plus di mata Aqila.
Dia lanjut melihat ruangan ruangan yang berada di dalam vila. Ada empat ruangan tempat tidur, ruangan dapur, ruang tamu, ruang keluarga dan ada juga kolam renang outdoor yang berada di belakang vila.
Setelah berkeliling di semua ruangan, akhirnya Aqila memilih kamar yang berada di pojok. Karena dia dapat melihat pemandangan belakang vila dari kamar yang berada di pojok itu.
Seharusnya ada tiga orang lainnya yang akan tinggal di vila yang sama dengannya. Tapi sampai sekarang tidak ada dari tiga orang itu yang datang. Atau mungkin dia tinggal sendiri? Ah, tapi sepertinya tidak mungkin! Pikir Aqila dengan menyeret kopernya menuju kamar yang dia pilih.
Sayang sekali dia dan Vina tidak tinggal bersama. Tapi tak apa karena vila mereka bersebelahan dengan vila Vina yang membuat Aqila sedikit bersyukur akan hal itu.
"Dari pada memikirkan orang orang itu lebih baik aku menata barang barang bawaan ku terlebih dahulu saja!! Lagian aku juga belum tau siapa mereka. Semoga saja ke tiganya perempuan!!" gumam Aqila berharap sembari membuka kopernya. Dia menata pakaiannya di lemari dan meletakkan peralatan mandinya di kamar mandi.
Usai merapikan barang barangnya, Aqila menuju ke dapur untuk membuat makanan. Dia sudah menahan lapar sejak tadi. Jadi, sekarang dia sangat ingin makan sesuatu yang enak.
Aqila membuka kulkas yang berada di sana sebelum menentukan ingin membuat makanannya.
Aqila di buat kagum dengan bahan masakan yang sangat lengkap di dalam kulkas itu. Mulai dari sayuran, buah buahan, beberapa minuman botol, seafood, sosis dan masih banyak lagi.
Usai melihat bahan bahan yang ada di kulkas, akhirnya Aqila memutuskan untuk membuat nasi goreng seafood. Untung saja nasi yang menjadi bahan utamanya ada di sini.
Aqila mulai memasak di dapur usai menyiapkan semua bahannya. Tak berapa lama nasi goreng seafood ala Aqila pun matang. Dia menaruh nasi ke dalam piring untuk dia makan sendiri.
"HM! Sepertinya aku memasak terlalu banyak!" ucap Aqila menatap nasi goreng masakannya yang masih banyak berada di piring besar.
"Yah, tidak apa. Mungkin saja nanti tiga orang itu lapar. Jadi, mereka bisa memakannya!" Aqila menganggukkan kepalanya dengan pemikiran sendiri.
Aqila membawa piring dan gelas minum di ke dua tangannya. Dia meletakkan itu di meja makan yang berada di sebelah dapur.
Aqila mulai memakan makanannya dalam diam. Aqila mengangkat kepalanya saat merasa di perhatikan oleh seseorang.
"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?!" ucap Aqila menatap bingung ke arah Vina yang terbengong melihatnya makan.
"Apa kamu tidak ingin menawariku? Aku juga sangat lapar!"
Aqila memutar matanya mendengar perkataan Vina. Lihat sendiri! Vina bahkan telah mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng seafood buatannya tanpa dia tawari. Benar benar deh!!
"Kamu saja sudah mengambilnya sebelum aku menawari mu. Jadi, untuk apa menanyakan hal yang tidak penting seperti itu?!"
"Aku kan hanya ingin berbasa basi denganmu. Lagian aku teman mu jadi, pasti kamu akan mengizinkan ku makan bersama!" balas Vina dengan tersenyum.
"Kenapa aku tidak mendengar mu langkah kaki mu saat masuk?" tanya Aqila dengan mengerutkan keningnya.
Vina mendongak mendengar perkataan dari Aqila. "Tentu saja kamu tidak mendengarnya. Kamu terlalu fokus makan hingga tidak mempedulikan sekitar mu!"
Aqila menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Vina. Yah, itu seperti kebiasaan dirinya. Jika makanan itu sangat enak dia biasanya tidak akan mempedulikan sekitar dan fokus menikmati makanan yang berada di hadapannya.
"UM, tapi kenapa vila ini sangat sepi? Apa kamu tinggal sendiri?!" Vina menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat orang orang yang seharusnya tinggal bersama temannya ini selama di Korea Selatan.
"Entahlah, aku tidak tau mereka di mana! Sejak tadi tidak ada seorangpun yang datang kecuali dirimu."
"Atau mungkin kamu tinggal di sini sendirian?"
"Itu tidak mungkin terjadi! Aku juga tidak mau tinggal di vila sebesar ini sendirian!!" Aqila menggelengkan kepalanya, menyangkal perkataan Vina.
"Tenang saja! Jika kamu tinggal sendirian, aku akan menemanimu di sini. Percaya saja!."
"Percaya padamu?"
"Tentu saja tidak! Percayalah pada tuhan. Kalau percaya pada ku yang ada kamu akan ku bohongi!"
"Ya elah, kupikir!"
Aqila mengangkat sendok yang berada di tangannya ingin melemparkan ke arah Vina.
Vina yang melihat itu menjadi panik, dia berkata, " Eh eh!? Tenang tenang!! Cuma berjanda juga kok. Jangan di masuk kan ke hati apa lagi lambung. Hehehe"
"Bercanda. Ish, benar benar ingin ku lempar pakek sepatu!"
"Yah, itu maksud ku!! Jangan dong, nanti kalau aku kenapa kenapa gimana? Kan kamu juga yang khawatir!"
"Idih, percaya diri sekali anda. Memangnya untuk apa aku menghawatirkan mu? Seperti tidak ada kerjaan lain saja!!"
Vina memegang dadanya. Wajahnya terlihat sangat sedih. "Betapa teganya diri mu! Aku...."
"Udah udah!! Gak usah drama di sini. Aku muak melihatnya. Lebih baik kamu habiskan makannya saja!!"
"Ish, iya iya. Kamu ini benar benar tak asik."
Aqila tidak menanggapinya sama sekali ucapan Vina. Dia fokus menyelesaikan kegiatan makannya yang sempat tertunda akibat percakapannya dengan Vina.
Ruangan itu menjadi hening dan hanya terdengar suara piring dan sendok. Vina dan Aqila terlihat benar benar menikmati makanan yang mereka makan dalam diam.
"Ugh! Masakan mu memang yang terbaik, Qila!!" ucap Vina mengacungkan jempolnya pada Aqila.
Vina bersandar pada kursi dengan ekspresi wajah yang terlihat kekenyangan.
Aqila hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia juga merasa perutnya sangat kekenyangan hingga rasanya ingin muntah jika dia berbicara.
Ke duanya tetap seperti itu hingga merasa nyaman dengan perut mereka sendiri. Setelah lima belas menit di sana bertatapan tanpa melakukan apa pun, akhirnya Aqila berdiri saat merasa perutnya telah nyaman kembali. Dia membereskan piring dan gelas yang dia dan Vina gunakan dan membawanya ke wastafel cuci piring.
Vina pun ikut berdiri untuk mencuci piringnya sendiri. Dia mengikuti langkah Aqila menuju dapur.
"Aku akan mencuci piring dan gelasku sendiri." ucap Vina kepada Aqila sebelum mencuci piring dan gelas itu.
Aqila menoleh menatap ke arah Vina, lalu hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan Vina. Jadi, Aqila hanya mencuci piring dan gelas bekas dia makan dan Vina akan mencuci piring dan gelasnya sendiri.