
Usai membersihkan dan meletakkan alat alat makan yang telah mereka gunakan.
Aqila berjalan dengan jus alpukat di ke dua tangannya. Di belakangnya ada Vina yang membawa beberapa cemilan yang dia ambil dari dalam kulkas.
Aqila meletakkan jus alpukat itu ke atas meja. Kemudian dia mengambil remote untuk menyalakan televisi. Lalu dia duduk di sofa di ikuti oleh Vina yang duduk di sebelahnya.
Vina meletakkan semua camilan yang dia bawa di tengah tengah sofa antara dirinya dan Aqila duduk.
Aqila membuka salah satu camilan untuk dia makan sembari menonton televisi.
"Hmph! Sayang sekali kita tidak satu vila. Jika hanya kita berdua saja di vila seperti ini pasti akan sangat seru!!" Vina berkata dengan tangan yang membuka camilan yang dia inginkan.
"Yah, sayang sekali. Aku juga berharap bisa satu vila denganmu!" ucap Aqila melirik Vina sebentar dan lanjut menatap tayangan televisi.
"Ya kan! Kalau kita tinggal berdua di vila ini, kita bisa menganggap seperti rumah sendiri. Jadi, tidak perlu tinggal satu atap dengan orang lain!"
"Bagaimana jika aku bilang kepada guru pembimbing untuk menempatkan ku tinggal bersama mu?!"
Vina menoleh dengan mata berbinar menatap Aqila. Dia tiba tiba merasa bangga dengan dirinya sendiri karena dapat memikirkan hal seperti itu.
Aqila memutar matanya mendengar perkataan Vina yang tidak terlalu berguna menurutnya.
"Memangnya dia akan menyetujui hal itu?!"
"Mungkin.....mungkin dia akan menyetujuinya." ucap Vina ragu ragu.
"Lihat!! Sekarang kamu bahkan ragu dengan perkataan mu sendiri!"
"Lagian tidak mungkin guru pembimbing akan menyetujuinya. Melihat sifatnya saja yang begitu tegas dan tidak menerima penolakan seperti itu, mungkin kamu akan di marahi saat mengatakannya!"
Tiba tiba tubuh Vina meremang, dia merasa merinding saat membayangkan hal yang Aqila ucapkan terjadi padanya.
"Tidak tidak tidak!!! Aku tidak mau!" ucap Vina sembari menggelengkan kepalanya kuat kuat untuk mengusir guru pembimbing dari pikirannya.
"Sudahlah, kamu akan merasa pusing jika melakukan hal itu terus!" ucap Aqila yang merasa jengah dengan tingkah Vina yang terus saja menggelengkan kepalanya tanpa henti.
"Ugh, iya. Ini....saja kepala ku serasa berputar." ucap Vina dengan memegangi kepalanya yang terasa berputar putar.
"Hah!! Benar benar konyol!" gumam Aqila.
Aqila hanya mampu menepuk dahinya, merasa tak berdaya menghadapi tingkah teman satu satunya ini.
"Bagaimana dengan orang orang yang tinggal di vila bersamamu? Apakah mereka menyenangkan?!"
Vina membuka matanya sebentar guna melirik Aqila yang mulutnya terus saja mengunyah cemilan yang berada di tangannya.
"Yah, mereka baik. Aku tidak tau apakah mereka menyenangkan atau tidak, lagian kami baru pertama kali bertemu. Jadi belum saling mengenal sifat satu sama lain. Tapi ada salah satu dari mereka yang sangat pendiam. Bahkan dia lebih pendiam dari pada dirimu!!" balas Vina dengan kembali menutup matanya.
Aqila hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan yang Vina berikan tentang orang orang yang tinggal bersamanya. Dia juga berharap orang yang akan tinggal sevila dengannya memiliki sifat baik dan tidak ada yang aneh aneh.
"Nanti mungkin akan ada dua laki laki atau satu yang tinggal bersama mu di sini."
Aqila menoleh menatap ke arah Vina dengan mengangkat alisnya tak mengerti apa yang Vina katakan.
"Kenapa harus tinggal bersama laki laki? Bukankah vila laki laki dan perempuan berbeda?!"
Vina membuka matanya saat mendengar pertanyaan yang Aqila ajukan. Dia menarik kakinya untuk duduk bersila menghadap ke samping, ke arah Aqila.
"Memangnya aku belum mengatakannya padamu? Bukankah aku sudah mengatakannya waktu kita ada di pesawat?!"
"Memangnya kamu mengatakan apa waktu di pesawat?!"
"Haduh!! Aku mengatakan jika kita akan tinggal bersama. Jadi tidak akan ada namanya vila laki laki atau perempuan! Karena itu akan di acak sehingga nanti pasti akan ada dua ataupun satu laki laki yang akan tinggal bersama di satu vila."
Aqila mengerutkan keningnya, "Artinya kita di campur dan tidak di pisah antara laki laki dan perempuan begitu?!"
"Yap. Tepat sekali!!" Vina memberikan bertepuk tangan atas perkataan Aqila.
"Ck! Tapi kenapa? Bukankah biasanya tempat laki laki dan perempuan berbeda? Tapi kenapa kita di satuin sekarang?! Apakah mereka tidak takut jika ada kejadian yang tidak tidak?!"
"Ck CK CK!! Pikiranmu benar benar kotor. Memangnya semua laki laki akan memikirkan hal itu. Lagian kita di sini untuk belajar."
"Pikiranku kotor apaan!! Jelas jelas aku hanya merasa waspada saja. Memangnya kenapa jika kita di sini untuk belajar? Kita mana tau isi hari dan pikiran seseorang. Jadi kita harus selalu hati hati dan waspada!!"
Aqila memasang wajah cemberut. Dia tidak terima saat Vina mengatakan pikirannya kotor. Memang apa salahnya merasa waspada? Lagian kita juga tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Selain itu, kita sekarang berada di negara orang. Jadi sikap berhati hati dan selalu waspada itu perlu di lakukan untuk menghindari hal hal buruk.
"Tenang saja. Kami tidak akan melakukan hal hal seperti yang kalian pikirkan!!"
Aqila dan Vina yang merasa terkejut, kompak langsung menatap ke asal suara yang tiba tiba saja ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.