GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 24



"Sakit kak, pelan pelan" ucap Anna pada Aiden yang sedang mengobati lukanya.


"Iya maaf, ini sudah sangat pelan" Aiden sesekali meniup luka di dahi Anna supaya dapat mengurangi rasa sakit yang Anna rasakan.


Mereka sekarang berada di ruang UKS. Di sana hanya ada Elvano, Vabian, Aiden, dan Anna yang duduk di brankar yang telah di sediakan di ruangan UKS sekolah. El dan Bian hanya memperhatikan Anna yang sedang di obati Aiden, mereka duduk di kursi yang telah di sediakan di sana.


"Apa sangat sakit?" tanya El yang sedari tadi melihat Anna meringis kesakitan.


Anna hanya menganggukkan kepalanya. Hening, saat semua yang berada di sana hanya menatap Anna tanpa berbicara.


"Seharusnya aku membenturkan kepalanya gadis itu dengan lebih keras tadi!!" ucap El marah saat melihat Anna yang meneteskan air mata karena kesakitan.


"Jangan kak. Sepertinya dahi Qila juga terluka, bahkan tadi darah yang keluar sangat banyak" ucap Anna khawatir.


"Kak, tolong nanti kasih obat ke Qila. Dia pasti membutuhkannya" ucap Anna pada Aiden. Aiden terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Qila pasti juga merasa sakit" ucap Anna dengan cemberut dan tatapan khawatir di matanya.


"Tidak perlu An. Dia bahkan sudah melukaimu seperti ini dan kau masih mengkhawatirkannya? Tapi jangan terlalu baik padanya, dia tidak akan menyukai mu!" Anna menundukkan kepalanya mendekat perkataan yang terucap dari mulut Bian.


"Tapi aku ingin dekat dengan Qila" Bian hanya bisa menghela napas lirih mendengar balasan dari Anna.


"Tapi dia tak ingin dekat denganmu An. Jadi kamu tidak perlu membuang kebaikan hatimu padanya!" Anna tak merespon apapun perkataan El dan hanya menundukkan kepalanya semakin dalam.


"Nah, selesai" ucap Aiden setelah membersihkan luka Anna dan menutupi lukanya.


Aiden memberikan kotak P3K itu pada El. El yang tak tau maksud Aiden pun menatapnya bingung. Anna segera turun dari brankar, menuju ke arah El. Dia mengambil kotak P3K yang berada di tangan El.


"Mereka benar An. Kau tidak perlu baik padanya. Dia tidak layak untuk kebaikanmu!!" ucap Aiden dengan mengangkat dagu adiknya ini.


"Iya, aku mengerti kak" ucap Anna dengan tersenyum pada Aiden yang juga sedang tersenyum padanya.


Anna lalu mengalihkan perhatiannya pada El yang juga terluka. El sama sekali tidak menyentuk kotak P3K yang telah di berikan Aiden padanya.


"Sini kak, aku bersihkan lukanya" ucap Anna dengan menatap wajah El yang baru saja di tampar Aqila.


"Gak usah, di kompres es batu aja pasti sembuh" ucap El menolak. Anna menurunkan pandangannya menerima penolakan dari El.


El yang merasa tidak enak pun, membiarkan Anna membersihkan lukanya dengan betadine. El meringis saat merasa sakit di bagian pipi kanannya bekas tamparan Aqila.


"Sakit ya kak, maaf ya kak gara gara Anna kakak jadi begini" ucap Anna menatap El sedih, matanya bahkan sudah berkaca kaca melihat kondisi El.


"Gak. Ini bukan salahmu Anna ini salahnya, karena membuat kondisimu seperti ini" ucap El menenangkan perasaan Anna yang merasa bersalah padanya.


"Tapi kakak melakukan semua itu untuk membelaku hiks..." Air mata Anna jatuh. El segera memeluknya dan menenangkannya.


"Tidak ini semua salahnya, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri! Jika saja gadis tak tau diri itu tidak melakukan ini padamu aku juga tidak akan melakukan hal kasar padanya!!" El berucap dengan tangan yang membersihkan air mata di pipi Anna.


"Ini sakit?" tanya Anna sambil menekan luka goresan di pipi El.


El mengangguk menjawab pertanyaan Anna. "Ada goresan di sana. Kayaknya kuku Qila yang panjang meninggalkan goresan ini"


El sekali lagi hanya mengangguk saat mendengar ada goresan akibat tamparan Aqila dari Anna. Bian sedari tadi hanya mendengarkan ke dua orang itu berbicara.


Tiba tiba El tersadar saat sesuatu yang dingin di tempelkan pada pipinya. El mendongak yang ternyata pelakunya adalah Aiden yang memberikannya kompres es batu.


El mengambil kompres yang berada di tangan Aiden. Dia menaruh kompres di sisi pipinya untuk mengurangi pembengkakan yang terjadi di wajahnya.


Saat suasana hening di sana, tiba tiba seseorang membuka pintu ruang UKS.


"Bagaimana keadaanmu Anna?" Anna tersenyum senang saat melihat yang membuka pintu UKS adalah Aulia, Kaivan dan Javier.


Anna memeluk Aulia yang telah berada di depannya. "Aku baik baik saja. Kak Aiden telah mengobati lukanya"


Javier hanya memandang mereka berdua datar. Dia berjalan ke arah kursi di samping Vabian. Kaivan mengikuti Javier di belakangnya dan melempar kresek yang dari tadi dia bawa.


Untung saja refleks Bian bagus sehingga kresek itu tidak jatuh ke lantai. Dia membuka kresek itu yang ternyata ada makanan di dalamnya.


"Untuk siapa ini?" tanya Bian menatap Kaivan.


Kaivan memutar matanya malas. Kalau dia memberikan kresek itu padanya bukankah sudah jelas itu untuk dirinya? Kenapa juga dia masih bertanya.


Melihat Kaivan tidak berniat menjawab, Bian memalingkan pandangannya pada Aulia yang tengah duduk di brankar bersama Anna.


"Itu makanan untuk kalian berempat" ucap Aulia saat merasakan tatapan bertanya dari Vabian padanya.


"Wah, emang pengertian deh kamu Lia. Love love aku padamu" ucap Bian dengan tersenyum lebar pada Aulia. Dia membuka kresek itu dan membagikan makanannya pada mereka berempat.


Bian memegang tengkuknya merinding. Dia mencari dari mana asalnya hawa tidak mengenakkan ini. Bian langsung tersenyum canggung melihat tatapan tajam Kaivan yang setajam silet.


"Bukan gitu maksudnya Kai. Hehe jangan marah ya, kan bercanda" Vabian menelan ludahnya sudah payah saat Kaivan masih menatapnya tajam.


Vabian baru bisa kembali bernapas yang sedari tadi dia tahan karena mendapat tatapan mematikan dari Kaivan.


"Makanya kalau ngomong tuh di pikir dulu, jangan asal ceplas ceplok aja." ucap berbisik di telinga Bian sambil menahan tawanya. Bian menatap tajam El yang berada di sampingnya dengan tajam. El hanya tersenyum, lalu melanjutkan makannya.


Di taman belakang sekolah terlihat dua orang gadis yang sedang duduk di salah satu kursi. Salah satu gadis di antara mereka sedang mengobati gadis lainnya.


"Apakah masih sakit Qila?" Aqila mengangguk sambil menatap pemandangan taman yang sepi di depannya. Sebenarnya ini sudah jam masuk tapi mereka berdua memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran kali ini.


Aqila sebenarnya telah membujuk Vina untuk mengikuti pelajaran tapi dia berkata, "Aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Bagaimana jika kau menangis sendirian seperti kuntilanak di pohon itu." Aqila memutar matanya malas mendengar perkataan Vina yang terlalu lebay menurutnya.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?" ucap Vina khawatir dengan keadaan temannya.


"Itu tidak perlu. Bukankah kau sudah mengobati lukanya? Nanti pasti akan sembuh, tidak perlu khawatir" ucap Aqila menatap Vina yang duduk di sampingnya.


"Tapi aku sangat khawatir. Bagaimana jika lukanya infeksi? Aku hanya membersihkannya dengan obat seadanya."


Aqila tersenyum tipis melihat kekhawatiran yang tulus dari temannya. Dia berharap ke dua saudaranya juga menghawatirkan keadaannya bukan hanya keadaan Anna saja.


"Ada apa? Apakah sangat sakit?" ucap Vina melihat Aqila menundukkan kepalanya dengan mata berkaca kaca semakin membuatnya khawatir.


Aqila menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Vina. Dia mengangkat kepalanya seperti semula.


"Terimakasih" ucap Aqila tersenyum dengan air mata yang telah turun dari pelupuk matanya.


"Apa yang kau katakan? Untuk apa kau berterimakasih padaku? Aku tak melakukan apapun."


Aqila menggeleng tak setuju atas pernyataan Vina. "Jangan berkata begitu. Kamu banyak sekali membantuku seperti sekarang, kamu membantuku mengobati luka ini dan terimakasih telah menghawatirkan ku hiks.."


Akhirnya Aqila terisak pelan di depan Vina. Vina langsung memeluk tubuh Aqila untuk memberinya dukungan dari pelukan yang dia berikan.


"Tenanglah Qila. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Bukankah kita teman? Teman pasti akan membantu temannya yang kesusahan seperti sekarang misalnya" ucap Vina saat Aqila sudah melepaskan pelukannya.


Vina menghela napas saat melihat air mata Qila yang terus turun dan tak mau berhenti. "Sudahlah Qila. Jangan menangis, kalau menangis wajahmu sangat jelek"


Vina benar benar tak tau apa yang harus di lakukannya. Dia tidak pandai menghibur orang lain bagaimana bisa dia akan menghibur Aqila yang seperti ini. Dia benar benar tak berdaya sekarang.


Perkataan Vina membuat Aqila cemberut dang memukul pelan lengan temannya. Vina meringis dengan menggosokkan lengan yang di pukul Aqila. walaupun pukulan itu pelan tapi masih saja sakit.


"Terima kasih" ucap Aqila yang tersenyum lebar tanpa air mata yang mengalir pada ke dua matanya, membuat Vina ikut tersenyum pada temannya ini.


"Baiklah. Sama sama" ucap Vina dengan kembali memeluk Aqila. Mereka berpelukan dengan erat.