GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 49



Terdapat dua orang laki laki yang berdiri berdampingan. Mereka berdua saling bertatapan dengan tatapan terkejut dari Aqila dan Vina.


Ke dua laki laki itu memiliki paras yang sangat menawan. Apa lagi laki laki yang sedang membaca buku di tangannya, tanpa memalingkan wajah dari bukunya sama sekali. Dia terlihat sangat dingin dan pendiam. Sedangkan laki laki tampan yang satunya lagi terlihat sangat ramah dan humoris.


"Hai"


Sapa salah satu dari ke dua orang laki laki itu dengan melambaikan tangannya. Ke duanya berjalan menuju ke arah Aqila dan Vina yang sedang duduk di sofa.


Aqila dan Vina hanya terdiam dengan perasaan yang masih terkejut saat melihat dua orang pemuda yang tiba tiba ada di dalam vila.


Ke dua laki laki itu duduk di sofa yang berada di samping sofa yang sekarang Aqila dan Vina tempati.


"Hai, kalian gak papa?"


Laki laki tadi menyapa lagi sembari melambaikan tangannya di depan muka Vina dan Aqila.


"Oh, iya. Hai"


Vina dan Aqila langsung tersadar dari rasa keterkejutannya mereka.


Laki laki yang tadi menyapa pun tersenyum melihat kecanggungan di wajah Aqila dan Vina. Lalu dia memperkenalkan dirinya untuk membuat suasana santai.


"Aku Daniel Edison dan dia..." Levi menyenggol lengan laki laki yang berada di sampingnya.


Laki laki itu hanya bisa menghela napas. Laki laki itu sekarang mengangkat wajahnya untuk menatap Aqila dan Vina, "Vincent Cullen"


Hanya itu yang dia katakan. Dan lanjut kembali fokus untuk membaca buku yang berada di tangannya. Dia tampak sama sekali tidak peduli dengan orang orang yang ada di sekitarnya.


Hal itu membuat sudut mulut Daniel berkedut. Bisakah temannya ini mengucapkan basa basi sebentar? Misalnya senang bertemu kalian atau kalau pun tidak kan bisa mengatakan salam kenal, begitu saja juga boleh. Lah ini, padahal gadis gadis yang berada di hadapannya ini terlihat sangat cantik dan menawan.


"Nah, salam kenal. Kalian?"


Aqila dan Vina saling bertatap sebentar. Selanjutnya Vina memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.


"Salam kenal juga. Aku Amira Savina Baskara, kalian bisa memanggilku Vina atau pun Mira juga boleh."


"Aku Aqila Abraham. Salam kenal!"


Aqila dan Vina tersenyum pada Vincent dan Daniel usai memperkenalkan diri mereka sendiri.


Senyuman ke duanya membuat Daniel kagum. Pasalnya ke dua gadis ini tampak berkali kali lipat cantiknya saat sedang tersenyum. Benar benar terlihat seperti bidadari.


"A..apakah kamu baik baik saja?!"


Salah satu dari mereka bertanya padanya yang membuat Daniel sangat senang. Kalau tidak salah gadis itu bernama Aqila. Dia terlihat sedikit pemalu dari pada gadis yang satunya.


"Ya, tentu saja. Memangnya aku kenapa?"


"Hidungmu...hidungmu berdarah!" Aqila berkata dengan ragu ragu sembari menunjuk hidung Daniel dengan jari telunjuknya.


Daniel langsung menempelkan jari telunjuknya di bawah hidung. Dia melepaskan jarinya yang tadi dia tempelkan untuk melihat apakah ada darah di sana. Dan ternyata, benar ada darah di sana.


Daniel langsung mengambil tisu yang berada di atas meja. Dia membersihkan darah yang berada di hidungnya. Arkgh, dia benar benar merasa malu sekarang!! Bisa bisanya dia mimisan hanya karena melihat ke dua gadis itu tersenyum.


"Cih, dasar!!"


Daniel menatap ke arah Vincent yang sedang membaca bukunya dengan mata melotot, usai mendengar gumaman yang Vincent katakan. Memang apa salahnya? Temannya ini mana tau hal hal seperti itu!? Yang dia tau hanya buku buku dan buku. Benar benar hidup yang membosankan.


"Apa kamu baik baik saja? Atau aku perlu bilang ke guru pembimbing untuk mencarikan seorang dokter?"


Daniel tersenyum sembari melambaikan tangannya, "Tidak perlu. Aku baik baik saja. Mungkin ini karena aku....aku kecapean saja!!"


"Oh, begitu!! Sebaiknya kamu istirahat saja. Ada tiga kamar yang tidak terpakai. Kalian bisa memilih salah satunya."


"Oh, tiga kamar?! Apakah dia tidak tinggal di vila ini?"


"Tidak, aku tinggal di vila sebelah!!" Vina menatap Daniel dengan santai.


Vincent terlihat berdiri dari duduknya sembari membawa barang bawaannya.


"Tunggu!! Kamu mau kemana?"


Vincent menatap Daniel dengan datar. "Kamar!" hanya itu yang dia ucapkan dan lanjutkan melangkah kakinya untuk memilih kamarnya sendiri.


"Tunggu aku Vincent!!" Daniel buru buru membawa kopernya untuk mengikuti langkah Vincent yang berada di depannya.


"Oh!! Kamarku yang ada di pojok. Kalian bisa memilih kamar yang lain selain itu!!!" teriak Aqila kepada Vincent dan Daniel memberitahu supaya tidak memilih kamar tidur yang telah ia pilih lebih dulu.


.


.


.


Di ruangan rumah sakit tempat Anna di rawat. Anna terlihat lebih baik dari pada saat kemarin. Dia tertidur usai meminum obatnya.


Hanya ada Aiden dan Andra yang berada di sana. Sedangkan yang lainnya kembali ke mansion untuk mandi dan mengganti pakaian. Ada pula yang ke kantor untuk menanda tangani dokumen dokumen yang sangat penting.


Keheningan melanda ruangan itu karena tidak ada yang berbicara antara Aiden dan Andra. Mereka berdua fokus menatap handphone masing masing. Selain itu, mereka juga tidak ingin mengganggu tidur Anna dengan suara mereka.


Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar ruangan. Aiden dan Andra saling bertatap. Wajah mereka terlihat berdebat untuk siapa yang akan membukakan pintu ruangan itu.


Melihat Aiden yang diam saja dan menatapnya dengan dingin dan tajam membuat Andra menghela napas pasrah. Dia berdiri dari duduknya menuju ke arah pintu untuk membukanya.


Sebelum sempat Andra membukanya,pintu itu tiba tiba terbuka dari luar. Andra yang berada di belakang pintu tidak siap dan berakhir dengan wajahnya yang terkena pintu itu.


"Argh!!" Andra menutup mukanya. Dia berteriak kesakitan.


Orang yang membuka pintu itu malah langsung masuk meninggalkan Andra tanpa rasa bersalah.


Setelah di rasa lebih baik Andra melepaskan tangannya. Dia menatap penuh amarah pada orang yang membuatnya kesakitan. Dia menutup pintu ruangan Anna kembali sebelum menghampiri orang yang sedang duduk dengan santainya di samping Aiden.


"Gila ya?! Sakit tau wajah gue!!" Andra berucap dengan nada kesal tertahan. Dia masih ingat jika sekarang mereka sedang berada di ruangan Anna. Jadi, mereka tidak boleh terlalu berisik.


"Lagian, ngapain Lo berdiri di belakang pintu kayak gitu? Kayak gak ada hal lain aja."


"Gue mau buka pintu ya tadi. Lagian kalau Lo bisa buka pintu ngapain ketuk ketuk segala?!" Andra mengepalkan ke dua tangannya. Dia benar benar ingin menonjok orang yang berada di depannya.


"Kan itu untuk ke sopanan saja."


"Ke sopanan ke sopanan. Matamu tuh ke sopanan!!"


"Sudahlah!!" Andra langsung diam mendengar perkataan Aiden. Dia duduk di sofa tinggal yang berada di sana dengan tatapan yang masih menatap orang itu dengan penuh amarah dan kesal.


Sedangkan orang yang berkelahi dengan Andra. Dia terlihat sangat santai menghadapi amarah Andra. Apa lagi dia tersenyum membalas tatapan murka yang Andra layangkan untuknya.


"Berhentilah mencari gara gara, Justin!!"


Ya, Justin adalah orang yang bertengkar dengan Andra. Justin menatap Aiden dengan senyum yang masih terpatri di wajah tampannya.


"Aku tau. Bagaimana keadaan Anna?"


Aiden memalingkan wajahnya dari handphone untuk menatap Anna yang tertidur di brankar. Justin pun ikut menatap ke arah pandang Aiden.


"Yah, dia baik baik saja sekarang. Tapi Anna harus segera melakukan transplantasi jantung. Jika menundanya lebih lama lagi, takutnya itu akan membahayakan nyawanya."


Keheningan melanda ruangan itu kembali usai Aiden menyelesaikan perkataannya. Justin, Aiden dan Andra menatap Anna dengan pandangan kasihan dan sedih.


Tidak ada yang berbicara kembali dan mereka pun sibuk dengan pikiran masing masing dengan tatapan yang masing mengarah pada Anna.