GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 10



Mendengar geraman tertahan dari suara kembarannya, membuat Aqila menghentikan aktifitasnya mencari kotak P3K. Aqila segera berbalik badan untuk melihat kembarannya yang sedang menatapnya dingin, terlihat sangat kesal.


Melihat tatapan itu Aqila hanya bisa tersenyum canggung. Dengan perlahan mendekati Aiden yang tidak mengalihkan pandangannya padanya.


"Aku hanya ingin mengobati lukamu, tapi aku tidak dapat menemukan kotak P3K nya" ucap Aqila saat sudah berada dekat dengan Aiden.


Dari dekat Aqila dapat melihat luka di dahi Aiden yang masih mengeluarkan darah sedikit, tidak seperti tadi yang darahnya mengalir tanpa henti. Aqila meringis saat melihat luka itu yang mulai berwarna keunguan. Walaupun begitu, tidak mengurangi ketampanan seorang Aiden Abraham.


Aiden menahan amarahnya, dia berkata, "Kotak P3K ada di laci meja. Mommy selalu menaruhnya di sana." Aqila membuka laci meja dan seperti perkataan Aiden, kotak P3K berada di sana.


Aqila segera membawa kotak P3K ke hadapan Aiden yang kembali menutup matanya. Membuka kotak itu dan mengambil kapas serta betadine untuk membersihkan luka di dahi Aiden. Dengan posisi Aiden yang masih berbaring di sana dan Aqila yang berlutut di samping sofa untuk membersihkan wajah kembarannya.


Sesekali rintihan kesakitan akan keluar dari mulut Aiden. "Apakah tidak sakit?" tanya Aqila saat sedang mengobati kembarannya itu.


"Menurutmu?" ucap Aiden dengan rintihan tertahan saat Aqila tidak sengaja terlalu menekan lukanya. "Perhatikan tanganmu baik baik! Jangan terlalu menekannya!!"


"Pasti sakit. Tapi kenapa kamu tidak menangis?" Aiden segera membuka mata untuk di sambut tatapan Aqila dari atas.


"Kalau kau tau jawabannya, kenapa kau bertanya?" ucap Aiden dengan tatapan malas mengarah ke atas, Aqila.


"Karena kau tidak menangis" ucap Aqila berhenti sejenak dari kegiatan mengobati luka Aiden dan balas menatap mata kembarannya. "Apa yang perlu di tangisi? Ini. Hanya luka kecil" ucap Aiden.


"Kecil dari mana? Tadi aja darahnya sangat banyak yang keluar. Sepertinya lukamu perlu di jahit" ucap Aqila dengan tatapan khawatir. "Ini luka kecil, tidak perlu dijahit" balas Aiden dengan kembali menutup matanya.


"Dari mana kau tau itu tidak perlu dijahit? Bagaimana jika nanti infeksi? Apak-"


"Diam!! Kau hanya perlu memplester lukanya dan selesai, itu sudah cukup" ucap Aiden pusing mendengar pertanyaan pertanyaan yang di ucapkan kembarannya.


Aqila terdiam mendengar ucapan Aiden, lalu mulai melakukan tugasnya lagi mengobati luka Aiden yang sempat terhenti sejenak tadi.


Mengumpulkan kapas yang tadi dia gunakan untuk mengobati luka Aiden dan membuangnya ke tempat sampah, lalu memasukkan peralatan kotak P3K yang dia keluarkan, meletakkan kotak P3K ke dalam laci meja kembali.


Aqila duduk di sofa tunggal sebelah kiri sofa panjang yang sekarang Aiden tempati. Mereka hanya berdiam diri di sana, membuat suasana sangat sepi, sunyi.


Melihat sofa sebelah kanannya, Aqila dapat melihat saudaranya yang masih menutup mata, dia tidak tau apakah Aiden tertidur atau hanya menutup matanya saja.


Merasa ada yang menatapnya Aiden membuka matanya, lalu duduk menatap ke arah kirinya. Di sana dia melihat Aqila yang menatapnya intens.


"Kenapa dahimu bisa begini?" tanya Aqila penasaran. Aiden hanya menatap datar Aqila tanpa menjawab.


Tadi saat dia, Aiden ingin minum air di dapur karena air minum di kamarnya habis. Saat dia akan tiba di bar dapur untuk mengambil air, dia tidak sengaja menginjak tongkat penggulung adonan yang berada di lantai, karena dia belum terlalu sadar dari tidurnya, tidak siap juga dan dapur yang gelap membuatnya tidak dapat melihat benda itu. Pada akhirnya dia terbentur pinggir meja bar yang tajam.


Aiden malu saat mengingat betapa cerobohnya dia karena tidak menyalakan lampu dapur sehingga menyebabkan dahinya terluka.


Melihat saudaranya terdiam, dan tidak berniat menjawab pertanyaannya membuat dia mengalihkan pandangannya ke depan. Aiden melihat jam yang berada di ruang keluarga menunjukkan pukul setengah empat pagi.


"Kenapa dari tadi kau sudah ada disini?" tanya Aiden yang tersadar, kenapa saudaranya ini sudah berada di sini padahal masih dini hari?.


Aqila yang tadinya sedang menatap kosong ke depan, akhirnya memandang Aiden yang juga sedang memandangnya.


Memandang ke depan kembali, lalu Aqila berkata, "Tidak papa, hanya saja aku tidak bisa tidur lagi. Karena tidak bisa tertidur, akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar dan duduk duduk di sofa ini"


Aiden hanya menganggukkan kepalanya mengerti, dia bangkit dari duduknya. Aqila menatap bingung kembarannya. Melihat tatapan Aqila membuatnya memutar mata malas. "Ayo tidur lagi, aku akan menemanimu."


Aqila membelalakkan matanya, terkejut. Apakah kembarannya ini kerasukan atau salah minum obat, ah ataukah karena dahinya terbentur hingga membuat otaknya bergeser?.


Meski terlihat berlebihan tapi memang ini terlalu mengejutkan, karena walaupun mereka kembar sejak Aiden berumur tiga tahun, dia sudah tidak ingin tidur bersama mereka lagi, Aqila dan Aulia. Membuat Aqila dan Aulia berpikir Aiden tidak suka lagi tidur dengan mereka. Karena Aiden yang mempunyai kamar sendiri akhirnya Aqila dan Aulia pun mendapatkan kamar merek sendiri setelah memintanya pada sang Daddy, Nikolas. Setelahnya mereka tidak pernah tidur bersama sejak saat itu.


Aiden yang melihat respon Aqila membuatnya kesal. Bagaimana tidak, Aqila melihatnya seperti dia telah kerasukan sesuatu atau otaknya telah bergeser karena menawarkan hal itu padanya, Aqila. Memang dia yang meminta Nikolas untuk membuktikannya kamar sendiri karena dia tidak mau di ganggu mereka terus terusan dan bukan karena dia tidak menyukai tidur bersama kembarannya, tidak sama sekali.


"Mau enggak?" tanya Aiden lagi karena melihat Aqila yang masih terheran heran padanya.


"Ya udah kalau enggak" mendengar itu Aqila tersadar dari pikirannya sendiri, dia melihat Aiden yang sedang berjalan ke arah tangga dan segera berlari mengikutinya.


"Iya mau" jawab Aqila bersemangat saat sudah berada di samping Aiden, tanpa membalas ucapan Aqila, Aiden berjalan bersama Aqila menuju kamar milik adik kembarnya yang berada di samping kamar Aulia.


Aqila membuka pintu kamarnya untuk membiarkan dirinya dan Aiden masuk ke dalam. Aiden melihat sekeliling kamar Aqila yang berwarna biru muda membuat terlihat sejuk dan nyaman, beda dengan kamarnya yang dominan berwarna abu abu dan hitam. Barang barang yang di tata rapi dan tidak berantakan membuatnya mengangguk puas.


"Ada apa?" tanya Aqila yang berdiri di belakang Aiden setelah menutup pintu kamarnya. Aiden hanya menggelengkan kepalanya dan naik ke kasur kembarannya, Aqila yang mendapat respon begitu hanya mengangkat bahunya, tak peduli dan ikut naik ke kasurnya yang sudah ada Aiden di atasnya.


Aiden dan Aqila hanya terdiam, tidak ada salah satu dari mereka yang menutup matanya untuk tidur. Aiden dan Aqila memandang ke atas, langit langit kamar, tanpa terasa Aqila sudah tertidur lelap.


Aiden yang mendengar dengkuran halus dari samping segera melihat Aqila yang sudah tertidur. Aiden pun menutup matanya berusaha untuk tertidur. Lama kelamaan akhirnya Aiden menyusul Aqila ke alam mimpi.