GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 37



Pagi ini adalah hari pertama Aqila bersekolah kembali. Dia terlihat sangat bersemangat. Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka. Sejak saat itu, Justin sering berkunjung ke sini untuk bermain dan bertemu Anna dan saudaranya yang lain.


Karena pertengkaran yang terjadi dia hari lalu, keluarga semakin mengabaikan Aqila. Bahkan jika berpapasan mereka tidak saling menyapa dan hanya terus berjalan. Aqila merasa seperti orang asing yang tinggal satu atap dengan keluarganya sendiri.


Aqila menggelengkan kepalanya kuat. Dia tidak ingin mengingat hal yang buruk di hari pertamanya sekolah kembali. Hari ini harus di awali dengan senyuman.


Aqila tersenyum lebar menatap cermin. Dia terlihat cantik dengan rambut tergerai dan pakaiannya yang rapi. Yah, aku selalu cantik seperti biasanya batin Aqila narsis dengan mengibaskan rambutnya.


Dia tertawa pelan melihat tingkah lakunya sendiri. Aqila memeriksa kembali isi tasnya supaya tidak ada yang tertinggal. Setelah merasa tidak ada yang ketinggalan, dia menggendong tasnya di punggungnya.


Aqila membuka pintu kamarnya, dia berjalan ke ruang makan dengan bersenandung. Senyuman tidak pernah luntur dari bibirnya. Di ruang makan masih sangat sepi, akhirnya Aqila menuju ke arah dapur.


Di dapur telah banyak para koki yang bekerja untuk menyiapkan sarapan anggota keluarganya.


"Nona, apa yang anda lakukan di sini?" tanya paman Sam terkejut, dia adalah salah satu koki yang berada di dapur.


"Hehe, tidak papa paman. Aku hanya ingin membuat bekal untuk aku bawa ke sekolah nanti." ucap Aqila dengan tersenyum.


"Paman paman semuanya tidak perlu memperdulikan ku. Aku janji tidak akan menggangu pekerjaan kalian!" Aqila mengangkat jari telunjuk dan tengahnya dengan wajah serius.


Para koki yang berada di sana tertawa melihat betapa menggemaskannya nona mereka ini. Sungguh bagaimana bisa majikannya yang lain mengabaikan nona Aqila yang begitu lucu ini. Benar benar tak habis pikir dengan mereka.


"Tidak usah nona, biar paman saja yang membuatkan nona bekal!" Aqila cepat cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Paman lakukan saja pekerjaan paman. Jika paman yang membuatkan ku bekal, pekerjaan paman nanti akan tertunda. Jadi, aku akan membuat bekal ku sendiri!"


Melihat betapa tegasnya Aqila membuat paman Sam menghela napas kemudian mengangguk, menuruti keinginan Aqila.


"Terima kasih paman!"


Aqila segera memasak nasi goreng dengan sosis dan sayur. Dia juga membuat telur gulung untuk dirinya sendiri. Setelah selesai memasak telur dan nasi goreng, Aqila membuat sandwich tuna.


Aqila langsung mengemas masakannya ke dalam kotak bekal yang telah dia siapkan. Dia menatanya dengan sangat rapi. Kotak bekal itu pun Aqila bawa di tangan kanannya.


"Paman, aku telah selesai. Aku pergi dulu!"


"Apakah anda tidak ingin makan terlebih dahulu?" ucap paman Sam yang menghentikan langkah Aqila.


"Aku akan makan di sekolah saja paman"


"Baiklah, hati hati di jalan nona!"


"Iya"


Aqila berjalan melewati meja makan. Di sana masih sepi, padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aqila mengangkat bahunya, dan terus berjalan keluar dari gerbang mansionnya. Dia takut terlambat sehingga akan ke tinggalan menaiki bus untuk ke sekolahnya.


Aqila berjalan santai. Sekolahnya masih sepi hanya ada satu atau dua murid yang baru datang. Sambil berjalan menuju kafetaria, Aqila memandang sekolah yang sudah di cat menjadi warna hijau muda.


Hari ini mungkin adalah hari yang menyebalkan untuk beberapa siswa siswi. Ya, mana ada orang yang tidak kesal saat masa liburan mereka berakhir? Tapi hari libur maupun hari biasa, bagi Aqila sama saja, tidak ada yang spesial. Dia lebih baik ke sekolah setiap hari dari pada di tinggal liburan keluarganya saat liburan sekolah.


Dia membuka bekal yang tadi pagi dia buat. Aqila memakan nasi gorengnya dengan lahap. Sedari tadi dia sudah merasa sangat lapar. Lama kelamaan kafetaria itu mulai di isi oleh orang orang yang berdatangan. Entah itu dua orang ataupun tiga orang yang datang bersamaan.


Saat nasi goreng Aqila tinggal setengah tiba tiba ada orang yang menaruh es teh di mejanya. Aqila mendongakkan kepalanya guna melihat orang yang menaruh es teh di mejanya.


"Apa?"


"Santai dong, Vin! Masih pagi juga."


Ya, ternya ta itu Vina yang datang dengan muka cerianya. Dia membawa dua gelas es teh, yang satu telah di taruh di atas meja sedangkan es teh yang satunya lagi sedang dia minum.


"Kamu minum dua es teh itu?" tanya Aqila menatap Vina heran.


"Tentu saja tidak! Yang satunya ini untukmu!" Vina mendekatkan es teh yang berada di meja ke arah Aqila.


"Tapi kenapa? Aku masih ada air putih." ucap Aqila sambil menunjukkan botol minum yang dia bawa.


"Tidak papa! Minumlah itu lebih segar dari pada air putih biasa mu itu!"


Aqila memutar matanya, "Baiklah, terima kasih!"


Vina hanya mengangguk membalas ucapan terima kasih dari Aqila.


"Oh iya, apa kamu akan ikut juga?"


"Hah?" pertanyaan Vina membuat Aqila bingung. Ikut? Ikut apa?


"Ck, itu lho yang ada di mading sekolah!" ucap Vina kesal.


"Iya, apa? Aku tidak melihat mading sekolah tadi!" Aqila juga ikut geram dengan perkataan temannya yang setengah setengah ini. Aqila sampai menghentikan kegiatan makannya karena penasaran dengan informasi yang akan di berikan oleh Vina.


"Oh, bilang dong kalau kamu belum tau!" Aqila tersenyum dengan melototkan matanya pada Vina.


"Hehehe, itu di mading sekolah ada informasi pertukaran pelajar ke Singapura, Jepang, Korea Selatan. Hmm, terus mana lagi ya? Yah, pokoknya intinya itu. Kamu ikut pertukaran pelajar ke sana gak?" Vina menatap Aqila yang sedang membereskan bekal makanannya yang telah habis.


"Entahlah, aku belum ada niatan untuk ikut kegiatan pertukaran pelajar. Aku belum ingin meninggalkan sekolah ini!"


Vina memutar bola matanya mendengar alasan yang di berikan Aqila padanya.


"Halah, bilang saja kamu tidak ingin meninggalkan keluarga mu itu kan? Dengar ya Qila! Lebih baik kamu mencari kebahagiaanmu sendiri. Jangan buang waktumu, untuk orang yang tidak pernah memperdulikan perasaanmu!"


Mendengar perkataan Vina membuat Aqila merasa sakit hati, dia menurunkan pandangannya ke bawah. Vina yang melihat hal itu, ingin sekali memukul mulutnya sendiri. Sudah tau sahabatnya ini sangat menyayanginya keluarga, eh dia malah berkata seperti itu.


"Maaf Qila, aku tidak bermaksud melukaimu! Aku ingin kamu juga mencoba bahagia tanpa mereka, tanpa keluarga mu. Seperti keluarga mu yang bahagia tanpa kehadiranmu di sana!"


Vina lagi lagi sangat ingin memukul mulutnya sendiri, karena kalimat perkataannya yang terakhir. Dia menatap Aqila dengan rasa bersalah. Yah, mau bagaimana lagi dia benar benar merasa jengkel dengan keluarga Aqila yang lebih memilih Anna dari pada Aqila. Jelas jelas lebih baik Aqila dari pada Anna.


Apa bagusnya Anna itu? Sudah nama seperti boneka Annabelle, tidak ada cantik dan imutnya sama sekali. Mana mungkin bisa di bandingkan dengan sahabatnya Aqila ini, yang cantik dan sangat imut. Keluarganya pasti buta semua sehingga tidak bisa membedakan mana yang barang berharga dan barang rongsokan.