GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 39



"Kamu ruang berapa?"


"Ruang 31!"


"Yah, kita pisah dong!"


"Cuma beda satu ruangan aja kok! Lagian ruangan kita juga sebelahan!"


"Pokoknya kita harus berhasil menjadi salah satu murid yang ikut pertukaran pelajar itu, Qila!!"


"Iya iya! Aku mengerti Vina. Tenanglah!"


"Huh! Baiklah. Semangat!!!"


"Iya, Semangat!!!"


Ya, benar sekali. Sekarang Aqila dan Vina akan mengikuti seleksi untuk melakukan pertukaran pelajar ke Korea Selatan.


Aqila yang tadinya tidak ingin mengikuti pertukaran pelajar ini pun harus menyerah. Karena Vina yang terus "membujuknya" hampir memaksa yang membuat Aqila stres. Jadilah sekarang Aqila menjadi salah satu murid yang mendaftar untuk ikut pertukaran pelajar itu.


Hal itu membuat Vina senang. Bagaimana pun nanti dia ada teman jika di negara orang. Jadi pastilah dia senang saat Aqila ikut mendaftarkan dirinya, walaupun itu karena paksaan darinya. Tapi tak apa yang penting Aqila bisa jauh dari keluarganya itu, walaupun untuk sementara.


Aqila sekarang berada di ruangannya, ruang 31. Di ruangan itu, ada sekitar 30 murid yang mendaftar diri mereka untuk mengikuti pertukaran pelajar. Hanya ada satu kursi untuk satu orang murid. Jadi, tidak akan ada yang duduk berdua.


Pengawas di dalam ruangan berjumlah empat orang. Tiga perempuan dan satu pengawas laki laki. Pengawas laki laki itu berdiri di samping pintu dengan guru perempuan yang cantik berada di depan ruangan. Sedangkan dua orang pengawas lainnya yang akan bertugas untuk mengelilingi siswa siswi supaya tidak ada mencontek.


"Di sini saya akan membagikan soal ujian kalian. Kalian harus menjawab 50 soal dalam waktu dua jam. Jika ada dari kalian yang membawa contekan, sebaiknya segera di buang! Sebelum pengawas yang menemukannya dan kalian akan di keluarkan dari ruangan! Apakah kalian mengerti!!?"


Pengawas perempuan yang berada di depan memberitahu dengan suara yang lantang. Membuat para siswa dan siswi menegakkan tubuhnya saat pengawas itu berbicara.


"Siap mengerti!!!"


Dengan serempak siswa siswi di ruangan itu berbicara. Membuat pengawas itu mengangguk dan segera membagikan lembaran ujiannya.


Aqila yang berada di sana cukup merasa tegang. Karena bukan dirinya saja yang ingin mengikuti pertukaran pelajar itu. Ada banyak murid pintar di ruangannya ini. Hal itu membuat jiwa kompetitif Aqila membara.


"Baiklah! Apakah semuanya telah menerima soal!?"


"Siap sudah!!"


"Bagus!! Kalau begitu waktu mengerjakan kalian di mulai dari sekarang!!!"


Perkataan pengawas perempuan itu membuat para siswa dan siswi segera mengerjakan soal yang berada di meja mereka. Dengan adanya dua pengawas yang berkeliling membuat para siswa dan siswi semakin merasa waspada hanya untuk memalingkan muka dari soal ujiannya.


Ruangan itu sangat tenang. Para siswa dan siswi berusaha sebaik mungkin untuk menjawab soal soal yang kini sedang mereka kerjakan.


Aqila membaca baik baik dan mencoba mencermati soal yang berada di hadapannya. Aqila merasa senang saat dia merasa ada beberapa soal yang ia ketahui jawabannya.


Waktu terus berjalan. Membuat siswa dan siswi di ruangan itu semakin tegang saat melihat jam yang terus berputar. Dengan para pengawas yang tidak mengendorkan pengawasan mereka dari para murid yang berada di sana. Membuat para siswa dan siswi yang ingin mengeluarkan contekan mereka gigit jari.


"Tinggal dua puluh menit lagi sebelum waktu habis!!"


Perkataan pengawas perempuan yang berada di depan membuat hati siswa dan siswi yang mengerjakan soal, seolah hati dan jantung mereka tenggelam ke dalam danau. Sungguh merasa sesak. Bagaimana pun jika ada orang yang mengingatkan kita akan waktu ujian seperti itu pasti semua siswa dan siswi akan merasa panik. Apa lagi jika mereka baru mengerjakan beberapa pertanyaan dari 50 soal yang ada.


Aqila dengan tenang mencoba berpikir. Perkataan pengawas itu juga membuatnya sangat tegang. Tangannya bahkan basah karena keringat. Aqila menutup matanya untuk mengingat ingat rumus dari soal yang berada di depannya ini. Dia tersenyum dan membuka matanya, lalu menulis dengan cepat di lembar jawabannya saat dia telah mengingat rumus dari soal itu.


Aqila mengecek kembali jawabannya. Dia merasa lega saat dia melihat telah menjawab semua soal ujiannya. Dia merasa benar dengan jawabannya dan tak perlu ada yang di perbaiki lagi. Aqila benar benar merasa rileks duduk di kursinya sekarang.


"Waktu selesai!!! Letakkan semua alat tulis kalian dan bawa lembar jawaban kalian kepada saya!!!"


Para siswa dan siswi segera meletakkan alat tulis mereka sesuai perintah. Lalu dengan perlahan berdiri dari kursi masing masing untuk menyerahkan lembar jawaban mereka kepada pengawas perempuan yang berdiri di depan ruangan.


"Baiklah! Kalian bisa keluar dari ruangan ini sekarang!!"


Pengawas laki laki yang berjaga di pintu segera membukakan pintu itu untuk membiarkan siswa dan siswi itu keluar.


Aqila langsung merasa senang dan lega saat keluar dari ruangan itu. Ruangan itu sangat mencekam menurut nya. Dia melihat ruangan sebelah yang masih tertutup. Aqila berjalan menuju kursi yang berada depan ruangannya tadi untuk duduk, menunggu Vina keluar dari ruangan ujiannya.


Tak lama, baru dua detik Aqila duduk ruangan Vina terbuka. Dia melihat Vina yang berkeringat dengan matanya yang memancarkan kelelahan. Dia sudah seperti di hukum dengan keringat dan kelelahan yang dia pancarkan dari matanya. Vina menengok ke ruangan Aqila. Dan menemukan Aqila yang sedang duduk dan menatapnya. Vina tersenyum lelah dan berjalan menuju Aqila.


"Bagaimana dengan ujianmu?!"


Vina bertanya setelah dia duduk di kursi kosong sebelah Aqila.


"Yah, tidak buruk! Bagaimana denganmu?! Kenapa kamu sangat berkeringat seperti habis olahraga begini?!"


"Ini lebih melelahkan dari pada olahraga!!!"


"Aku sangat tegang berada di ruangan itu. Apa lagi ada dua orang pengawas yang selalu berkeliling di setiap meja murid. Itu membuatku panas dingin di tempat duduk ku!!!"


"Sama kok!! Tapi apa hubungannya dengan kamu yang berkeringat begini?!"


"Ya adalah!! Karena aku terlalu tegang dan saat aku telah menyelesaikan semua soalnya, aku merasa rileks dan lega. Hingga keringat ku bisa keluar dengan deras seperti ini!!"


"Ya ampun!! Hahaha"


Vina menatap jengkel Aqila yang menertawakannya.


"Ish, berhentilah tertawa!! Atau aku tinggal kamu!!"


"Baiklah, maaf!!"


Aqila tersenyum sembari mengusap air mata yang berada di sudut matanya, karena tertawa.


"Iya. Ayo ke kafetaria! Aku sangat haus sekarang. Ingin minum es!!"


"Ayo!! Tapi sebaiknya kamu ganti baju mu itu!! Bajumu sekarang sangat basah!"


Vina menatap baju nya, dan seperti kata Aqila baju nya benar benar basah oleh keringat.


"Uh, baiklah. Aku menyimpan baju ganti di lokerku!"


"Baiklah. Ayo ganti bajumu dulu!!"


"Oke!!"


Vina dan Aqila berjalan bersama sama menuju ke loker Vina untuk mengambil baju ganti sebelum menuju ke kafetaria.