GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 40



"Uhm, aku tidak sabar!! Aku ingin melihat hasilnya sekarang!!"


"Sabarlah!!!"


"Besok, kamu dapat menghilangkan rasa penasaran mu itu!!"


"Ugh, kamu benar. Tapi tetap saja, aku ingin mengetahui sekarang!!"


"Lebih baik kerjakan tugasmu!!"


"Ugh, aku tidak bisa berpikir!?"


"Alasan!!"


Sekarang Aqila dan Vina sedang berada di ruang kelas mereka. Ke duanya sedang mengerjakan tugas matematika, ah, tidak lebih tepatnya Aqila yang sedang mengerjakan tugas matematikanya. Dan Vina yang sedari kemarin berbicara soal hasil ujian pertukaran pelajar mereka.


"Aku-"


"Oke! Aku mengerti jika kamu sangat menantikan hasilnya. Tetapi kamu harus mengerjakan pekerjaan matematika mu sekarang!!"


"Tidak usah. kenapa aku harus mengerjakan nya?"


Vina menatap malas pekerjaan yang berada di depannya.


"Huh? Tentu saja karena tugas ini akan di kumpulkan!!"


Mata Vina membola, terkejut dengan perkataan Aqila.


"Hah? Serius!?"


"Tentu saja!."


Vina dengan segera mengerjakan tugas matematikanya. Tinggal satu jam lagi sebelum pelajaran selesai. Hal itu membuat Vina makin terburu buru untuk mengerjakan soal matematika.


"Qila lihat ya!!"


Aqila menatap Vina geli. "Ini, cepatlah!!"


"Oke, Makasih. Nanti aku traktir makan bakso."


"Apaan cuma bakso!?"


"Ya udah, kalau gak mau!!"


"Dih, iya iya mau!"


Vina dengan tangan secepat kilat menyalin jawaban Aqila.


Aqila hanya memperhatikan teman temannya yang sedang mengerjakan tugas. Dia duduk termenung tanpa melakukan apapun. Yah, karena pekerjaannya juga telah selesai. Jadi, sekarang dia menganggur.


Aqila menatap Vina yang sedang fokus mengerjakan, tidak secerewet tadi. Aqila juga tidak sabar untuk melihat apakah dia berhasil atau tidak dalam ujian yang telah dia lakukan dua hari lalu. Dia sama tak sabarnya dengan Vina. Tapi Aqila lebih memendam dan tak mengungkapkannya, tidak seperti Vina yang telah gelisah menunggu hasil pertukaran pelajar itu.


Yah, sebenarnya Aqila tidak terlalu berharap dia berhasil. Dia masih tak rela untuk berpisah jauh dari keluarganya. Tapi karena Vina yang memaksanya untuk ikut. Jadi, dia coba coba mengikuti program pertukaran pelajar itu.


Setiap sekolah dapat memilih lima orang murid untuk melakukan pertukaran pelajar ini. Dan di sekolahnya ini banyak sekali yang ingin mengikuti program tersebut. Entah itu untuk alasan ingin liburan atau pun benar benar belajar di sana.


Terlebih lagi murid beasiswa yang berada di sekolahnya sangat ambisius untuk dapat masuk dalam program itu. Ini juga merupakan kesempatan mereka untuk bisa belajar hal baru di negara asing. Sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan mereka tentang budaya dan adat istiadat yang berada di negara tersebut.


Aqila sedikit pesimis tentang hasil ujiannya. Bagaimana pun bukan hanya dia saja di sekolah ini yang pintar. Dan program ini juga sangat menarik perhatian para siswa siswi beasiswa di sekolahnya. Bisa di bilang persaingan untuk bisa melakukan pertukaran pelajar sangat ketat di sekolah ini. Apalagi hanya lima orang anak yang bisa melakukan pertukaran pelajar itu dari sekian banyaknya siswa siswi yang mengikuti ujian.


"Qila! Hei, Qila!!"


"Ha? Iya, kenapa?"


"Ish, sakit tau!!"


Aqila mengelus telinganya yang berdengung akibat teriakan keras yang dilakukan Vina tepat di sebelah telinganya. Uh, sangat sakit.


"Makanya, jangan suka melamun!"


"Ayo, kita ke kafetaria!!"


"Memangnya udah boleh keluar?" Aqila menatap bingung Vina yang telah berdiri dari tempat duduknya.


"Udah, gak lihat apa kelas hampir kosong begini? Bukumu juga udah aku kumpulin tadi!"


Aqila menatap kelasnya yang hampir tidak ada orang. Hanya tersisa lima murid di ruangan itu termasuk dirinya dan Vina.


"Iya, makasih."


Aqila ikut berdiri dari kursinya. Mereka berjalan bersama sama menuju kafetaria sekolah.


"Kita duduk di mana, nih?!" Aqila berdiri di pintu kafetaria. Memandang sekeliling yang penuh dengan orang orang yang sedang menikmati makanan mereka masing masing.


"Tuh, di sana ayo!"


Vina menggandeng tangan Aqila menuju tempat duduk yang telah kosong.


"Tunggu di sini. Aku akan memesan."


"HM"


"Apa kamu ingin sesuatu?"


"Tidak usah! Aku membawa bekal dari rumah!"


Vina mengangguk mengerti lalu berjalan menuju stan makanan yang dia inginkan. Aqila membuka tasnya untuk mengambil kotak bekalnya. Aqila menunggu Vina sembari memainkan handphonenya.


Tak lama Vina datang dengan membawa satu piring nasi goreng dan bakso di tangannya. Di ikuti oleh seorang wanita yang sedikit lebih tua darinya dan Vina. Wanita itu membawa nampan yang di atasnya ada dua gelas jus alpukat di belakang Vina.


"Terima kasih!"


"Sama sama. Silahkan di nikmati!"


Wanita itu pun pergi usai meletakkan jus alpukat pesanan Vina.


"Kenapa kamu tidak makan dulu?"


Vina menatap bingung Aqila yang tidak memakan bekalnya sama sekali.


"Aku menunggumu! Ayo kita makan bersama!"


"Oh, ini bakso!"


"Huh? Aku tidak memesannya!"


"Aku yang pesan. Tadi kan aku bilangan akan mentraktir mu makan bakso!"


"Nah, jadi ini baksonya!"


"Oh, baiklah terima kasih!"


Vina mengangguk. Aqila membuka bekalnya saat dia melihat Vina yang mulai memakan nasi gorengnya.


Mereka berdua makan dengan hikmat tanpa memperdulikan suasana kafetaria yang cukup ramai dan berisik.