
Dan di sini lah dia sekarang. Di sebuah taman dekat dengan mansionnya. Aqila membuka matanya lagi, menatap langit yang telah berubah warna menjadi berwarna jingga, menandakan hari sudah sore.
Aqila menatap ke tempat keluarga tiga orang tadi, yang ternyata sudah kosong. Mungkin ke tiganya telah pulang. Aqila mengedarkan pandangannya, taman ini sudah cukup sepi, walau masih ada beberapa orang yang berada di sana.
Aqila menghela napas sebentar. Dia tidak ingin kembali ke mansionnya, dia belum siap menghadapi pemandangan yang akan membuat hatinya semakin sakit.
Akhirnya Aqila tetap memutuskan untuk kembali ke mansionnya, karena hari mulai gelap dan taman pun sudah sepi. Hanya ada dirinya sendiri di taman itu.
Aqila berjalan dengan santai. Sesekali dia melihat sekitarnya. Masih banyak mobil dan motor serta pejalan kaki yang berlalu lalang. Lampu lampu jalan telah dinyalakan untuk menerangi jalanan yang gelap.
Tanpa dia sadari, dia telah sampai di pintu masuk mansionnya. Dia membuka pintu, suasana di sana sangat sepi. Yah, ini pasti sudah jam makan malam. Mungkin keluarganya berada di ruang makan, pikir Aqila dengan berjalan menuju ruangan yang dia tebak seluruh keluarganya ada di sana.
Tapi keluarganya tidak ada di sana. Ruangan itu bahkan sangat kosong. Dia berjalan menuju ruang keluarga tempat biasa keluarganya berkumpul.
Dia mengernyitkan dahinya dalam, saat melihat ruang keluarga yang juga kosong. Para pelayan pun jarang dia terlihat, biasanya saat waktu makan malam seperti ini, banyak pelayan yang terlihat untuk mempersiapkan makan malam.
Aqila menghentikan salah satu pelayan yang berada di sana. "Tunggu sebentar, kemana perginya Daddy, Mommy dan yang lain?."
Pelayan yang dia hentikan terlihat ragu ragu untuk berbicara. "Itu nona..., Tuan, nyonya dan yang lainnya pergi ke Paris."
Aqila makin mengernyitkan dahi, tak mengerti. Kenapa juga mereka ke Paris? Mengapa mereka tidak mengajaknya?. Pikiran pikiran negatif mulai merayap di benak Aqila.
"Kenapa mereka ke Paris? Apakah ada acara? Mengapa mereka tidak mengajakku?" tanya Aqila beruntut kepada pelayan itu.
"Itu karena nona Aulia, nona Anna dan tuan muda Aiden mendapatkan rangking lima besar di peringkat paralel sekolahnya."
Yah, memang benar ke tiga saudaranya mendapatkan juga lima besar di peringkat paralel sekolah. Baru minggu lalu mereka selesai mengerjakan ujian itu. Dan kemarin lusa, baru di tempelkan rangking paralel di mading sekolah.
Tapi kalau ingin merayakan hal itu, kenapa dia tidak diajak? Padahal dia yang mendapatkan rangking satu paralel di sekolah. Dia yakin ke dua orang tuanya tau, meski tidak mereka beritahu tentang rangking itu. Karena mereka termasuk donatur di sekolahnya. Lalu kenapa dia di tinggal? Apakah karena pertengkaran tadi? Tapi bukankah dia sudah minta maaf, seharusnya dia juga ikut mereka ke Paris kan?.
"Lalu kenapa mereka tidak mengajakku untuk pergi bersama?" Pelayan itu makin menundukkan kepalanya saat dia menanyakan hal itu.
"Bicaralah!!" ucap Aqila memerintah, wajahnya terlihat sangat datar dan dingin.
"I-itu karena nona Anna, baru bilang setelah pertengkaran yang baru saja terjadi. Jadi, nyonya dan tuan baru merencanakannya hari ini dan pergi dengan terburu buru."
"Maaf nona, sepertinya k-karena t-terburu buru nyonya dan t-tuan tidak mengingat anda. K-karena itu tidak ada yang menghampiri anda" ucap pelayan dengan terbata bata karena merasakan hawa dingin dari tatapan Aqila.
"Lalu kemana semua pelayan ini pergi?" tanya Aqila saat melihat adanya para pelayan yang membawa tas seperti akan pergi.
"Mereka akan pergi untuk pulang ke rumah masing masing. Nona Anna menyarankan untuk meliburkan semua pelayan saat mereka berada di Paris. Dan tuan Nikolas menyetujui saran dari nona Anna. Sehingga para pelayan tergesa gesa ingin pulang ke rumah mereka masing masing."
Mata Aqila berkilat dengan hawa dingin. Ah, bukankah ini seperti melupakan ku sepenuhnya dengan membiarkan seluruh pelayan pulang dan meninggalkan ku sendirian di mansion ini?. Benar benar sangat bagus sekali.
"Kau boleh pergi!!" pelayan itu segera bergegas pergi dari hadapan Aqila. Sungguh suasana di dekat nona mudanya ini, membuat pelayan itu gemetar dan tidak berani bernapas.
Aqila mengepalkan ke dua tangannya. Dia benar benar sangat marah sekarang!! Dia lalu bergegas pergi untuk ke kamarnya. dia benar benar ingin menghancurkan sesuatu sekarang, sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.
Sesampainya dia di kamar Aqila langsung menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Dia merasa hatinya sangat nyeri. Bisa bisanya keluarganya sendiri melupakan kehadirannya saat mereka pergi berlibur.
Dia tidak papa jika mereka tidak mengajaknya, tapi mengapa meliburkan seluruh pelayan?!! Dia akan merasa kesepian di mansion yang sebesar ini sendirian.
Aqila menenggelamkan kepalanya di bantal untuk meredam suara tangisannya. Apa mereka benar benar tidak menganggap kehadirannya di keluarga itu. Tapi kenapa? Kenapa mereka sangat acuh tak acuh padanya? Apa salahnya?. Baru saja mereka bertengkar dan sekarang mereka telah pergi meninggalkannya?.
Aqila ingin membanting sesuatu sekarang, tapi dia tau itu tak akan menyelesaikan banyak hal. Dia terbiasa untuk memendam perasaannya sendiri. Entah itu marah, sedih, kacau maupun frustasi, dia tak akan mudah memperlihatkan sisi lemahnya pada keluarganya sendiri.
Aqila lebih memilih menangis diam diam di malam hari dari pada menceritakan masalahnya kepada orang lain dan keluarganya. Aqila juga bukan tipe orang yang akan dengan mudah melampiaskan amarahnya hanya karena telah menghancurkan sebuah barang. Tidak ada keluarga yang memperhatikannya dan mendukungnya membuat Aqila terbiasa untuk hal hal seperti itu.
Di kamar Aqila, seluruh ruangan terdengar suara isak tangis dari Aqila. Perasaannya sangat kacau sekarang. Dia enggan mengakui bahwa keluarganya telah melupakan. Dia tidak ingin mengakui hal itu, tapi di dalam hatinya dia benar benar merasa di lupakan oleh keluarganya sendiri.
Lama kelamaan suara tangis Aqila mereda. Tanpa sadar dia telah tertidur dengan mata yang masing mengeluarkan air mata yang tak ingin berhenti.
Pukul empat sore Aqila terbangun dari tidurnya. "Ah, apakah aku tanpa sadar tertidur tadi?" pikir Aqila dengan berusaha bangun dari posisi tidurnya.
Aqila melihat sekeliling kamarnya yang sunyi dan gelap karena matahari yang akan segera terbenam. Aqila bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi, dia ingin mendinginkan otak dan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan panas sehabis menangis.
"Ah, segarnya!!" ucap Aqila dengan handuk yang berada di kepalanya. Dia masuk ke dalam walk in closet untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan.
Dia memilih sebuah hoodie berwarna biru dengan gambar kepala beruang di depannya yang kebesaran di tubuhnya dengan celana pendek berwarna hitam. Dia memandangi dirinya sendiri, memastikan penampilan sebelum turun ke lantai satu.