GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 42



Aulia mengipasi wajahnya yang makin memerah akibat siulan dari El, Bian dan saudara kembarnya, Aiden.


"Udah, udah. Makin merah itu muka Lia"


"Apa sih!? Gak ya!!"


Aulia menatap tajam El yang tadi meledeknya. Kaivan melemparkan handuknya tepat ke muka El.


"Kai!! Wajah ganteng ku ternodai, karena handuk mu!!" El berteriak, dia mengambil handuk yang berada di wajahnya. Handuk itu dia remas erat di tangannya, lalu ia lempar kembali pada pemiliknya.


Kaivan dengan sigap menangkap handuk yang di lemparkan oleh El.


"Udah! Ayo kita ke kafetaria. Haus nih!"


"Ayo!!"


Ajakan Bian menghentikan tingkah laku El dan Kaivan. Mereka segera membereskan barang masing masing, lalu berjalan menuju kafetaria bersama sama.


Banyak siswi menatap mereka dengan tatapan mendamba saat sedang berjalan menuju kafetaria. Apa lagi sekarang mereka habis bermain basket, membuat aura seksi menguar dari mereka. Tak sedikit juga yang merasa iri dengan Anna dan Aulia yang bisa dekat dengan Aiden dan teman temannya.


"Penuh!!"


"Iya! Kita duduk di mana nih?"


Mereka berdiri di pintu kafetaria menatap sekeliling kafetaria itu. Tidak ada kursi dan meja yang kosong di kafetaria itu. Semuanya telah di isi oleh siswa siswi yang sedang makan atau pun mengobrol santai di sana.


"Itu! Di meja nya Qila masih ada kursi. Cukup untuk kita bertujuh."


Tunjuk Aulia pada meja Aqila yang sedang memakan makanannya bersama Vina. Sesekali terlihat juga ke duanya saling bercanda dan mengobrol satu sama lain.


"Kita ke sana aja yok!"


Aulia menatap ke arah Aiden, Anna dan yang lainnya untuk meminta persetujuan mereka.


"Lia sayang, kok di sebelah dia sih!? Nanti pasti gadis bar bar itu ngamok gak jelas!!"


El mengerutkan dahinya. Dia berkata dengan muka tidak senangnya.


"Auu!!"


"Apaan sih Lo, Kai!! Sakit tau kaki gue!"


El mengelus kakinya yang memerah, karena di injak dengan keras oleh kaki Kaivan. Kaivan yang namanya di sebut hanya menatap datar El dengan melipat tangannya di dada.


"Lo sih!! Bilang Lia sayang. Ngapain coba ngomong kayak gitu. Kena akibatnya kan Lo!! Hahaha rasain!"


Bian dan Aiden tertawa senang melihat penderitaan yang El rasakan.


"Kan bercanda!!" El tersenyum canggung saat matanya beradu tatap dengan Kaivan yang sedang menatapnya tajam.


"Makan tuh, becanda Lo!"


"Mendingan Lo diam aja deh, Bian, Aiden!"


El menatap Bian dengan geram. Tawa meledek Bian dan Aiden sangat sangat menggangu di pendengarannya.


Javier yang sedari tadi melihat kelakuan temannya hanya bisa menghela napas di tempat. Bagaimana bisa dia berteman dengan orang orang ini?


"Ha? Siapa?"


Aulia tak peduli dengan pertengkaran yang terjadi karena perkataan El. Dia hanya menatap bingung El. Karena sama sekali tidak mengerti siapa yang di maksud El dengan gadis bar bar. Gak mungkin kembarannya kan? Gak mungkin lah pastinya! Lagian Qila itu sangat lemah lembut. Jadi gak mungkin dia!!


"Itu loh, temennya kembaranmu! Dia pasti mencak mencak saat tau kita akan gabung ke meja mereka!!"


"Oh, Vina! Gak papa lah, mungkin kamu kena omongan pedasnya! Gak sampai kena pukul!"


El menatap Aulia tak percaya. Dia mana mau berurusan sama gadis jadi jadian kayak Vina. Big no!!


"Kita tunggu ajalah, Lia! Bentar lagi pasti ada kursi sama meja yang kosong."


El menatap Aulia dengan tatapan memelasnya. Aulia menatap bergantian antara kursi Aqila dengan El yang berada di sampingnya.


Kaivan sedari tadi menatap tidak senang pada El yang bertingkah seperti itu di depan kekasihnya. Dia meraup wajah El yang terlihat menjijikkan di matanya, lalu mendorongnya menjauh dari dekat Aulia.


"Bah!! Tangan Lo bener bener ya, Kai!! Ngapain si Lo!?"


"Hahaha bener banget Kai! Dia udah kayak monyet. Hahaha!"


Bian, Anna, dan Aulia tertawa mendengar perkataan yang di ucapkan Aiden. Javier tertawa pelan dengan tangan yang menutupi bibirnya.


"Matamu monyet!! Orang ganteng kayak gini kok di samain sama hewan. Bener bener buta mata lo Aiden!!"


Wajah El terlihat memerah, dia terlihat hampir meledak seperti gunung berapi mendengar perkataan yang Aiden ucapkan.


"Hahaha hah... Lebih baik kita ke tempat duduk Qila aja. Kita ketawa di sini udah kayak orang yang agak agak loh ini."


Perkataan Anna membuat Aiden yang ingin membalas ucapan El kembali diam, tapi tetap terdengar tawa pelan dari bibirnya.


"Tapi Anna adiknya Elsa Frozen, di sana gak enak! Nanti kita malah berantem sama gadis bar bar itu!! Lagian pasti bentar lagi ada yang kosong kursinya. Tunggu bentar aja ya!"


"Eh eh, Kai, Vier mau kemana Lo berdua?!"


Kaivan menggandeng tangan Aulia menuju meja Aqila. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan El. Javier berjalan dengan santai mengikuti di belakang pasangan itu.


"Ck!! Bener bener deh, dasar kulkas tuh dua orang!!"


"Udah lah kita gabung aja sama mereka! Kalau nungguin kursi kosong pasti lama. Lagian gue udah laper, haus lagi pingin yang seger seger!"


"Ck, ya udah lah!"


Akhirnya El pasrah mengikuti teman temannya yang telah berjalan duluan menuju meja yang di tempati oleh Aqila dan Vina.


"Qila boleh kita gabung?!"


Percakapan Aqila dan Vina terhenti saat mendengar suara yang ada di sebelahnya. Aqila menengok ke sebelah, dia melihat Aulia dan Kaivan yang sedang bergandengan tangan.


"Ha? Oh, iya boleh!"


Aqila mengangguk menjawab pertanyaan dari kembarannya. Aulia terlihat mengembangkan senyumnya saat mendapat persetujuan dari Aqila.


Akhirnya mereka duduk di kursi kursi yang masih kosong. Tak lama Anna, Aiden, Bian dan El juga gabung di meja itu.


"Wait, ngapain kalian duduk di sini?"


Vina mengerutkan keningnya tak mengerti dengan tingkah empat orang yang telah duduk di kursi yang ada di depannya.


"Mau makanlah!" ucap Bian dengan santai. Dia memanggil waiters yang berada di sana. Aiden dan yang lainnya juga segera memesan makanan mereka saat waiters itu sudah menghampiri meja mereka.


"Emang siapa yang udah izinin kalian duduk di sini, bego?!"


Vina menggeram tertahan mendengar balasan dari Bian.


"Loh, itu kalian izinin Lia, Vier sama Kaivan duduk berarti kalian udah ngizinin dong! Lagian kita sama mereka kan teman. Jadi, kalian ngizinin mereka berarti ngizinin kita juga buat duduk di sini."


Vina makin mengerutkan keningnya. Dia benar benar merasa kesal dengan jawaban yang di berikan oleh El. Mana lihat mukanya, bawaannya pingin nonjok lagi!.


"Apaan mana bisa kayak gitu!! Mereka udah izin dan kalian gak! Jadi, kalian cari kursi lain. Sekarang!!" Vina berkata dengan tegas sambil berdiri dari duduknya.


"Gak maulah!! Emang ini kursi situ?! Gak kan! Lagian ini tempat umum jadi, sah sah aja kita duduk di sini."


"Ngelunjak ya Lo!!"


Vina menunjuk wajah El yang terlihat sangat menyebalkan di matanya. Dia menggulung lengan bajunya.


"Apa Lo!!"


El juga ikut berdiri melihat tingkah Vina yang seperti ingin mengajaknya berkelahi. Aqila segera menarik tangan Vina untuk duduk kembali di sampingnya.


"Udahlah. Lagian kita semua hanya mau makan di sini. Jadi, jangan membuat keributan yang tidak perlu!"


Vina mendengus dan menatap Aqila dengan bibir cemberut.


"Tapikan Qila-"


"Udah udah! Kita lanjut makan aja ya. Makanan mu kan juga belum habis. Nanti gak enak lagi!"


Vina pun dengan pasrah memakan makanan kembali. Tapi tatapannya masih menatap dengan tajam ke arah El. Vina menancapkan garpu ke daging ayamnya dengan kasar tanpa melepaskan tatapan dari El.


El mengelus lehernya pelan sembari meneguk ludahnya kasar melihat ke arah daging ayam Vina. Dia merasa merinding, seperti dia adalah daging ayam itu. Sungguh ngeri!!