
Sebelas tahun kemudian
Tak terasa telah sepuluh tahun terlewati. Seorang gadis sedang mengganti baju olahraganya dengan baju seragam.
Dia menguncir rambut panjang yang tergerai menjadi kuncir kuda. Dia berjalan menuju ke ruang kelasnya yang berada di lantai dua. Terlihat dia menghela napas saat melihat papan bertuliskan rusak di depan lift yang akan dia gunakan untuk naik ke lantai dua.
Akhirnya dia harus menggunakan tangga agar sampai ke lantai dua, ruang kelasnya. Dia berjalan dengan santai hingga sampai di lantai dua.
Di tengah jalan menuju kelasnya, tiba tiba ada yang memegang bahunya. Dia membalikkan badan ke belakang untuk melihat orang yang memegang bahunya.
Di sana terlihat gadis dengan seragam yang di keluarkan dari roknya dan tak lupa senyum lebar yang ada di bibirnya.
Dia hanya menatap datar, lalu melanjutkan jalannya menuju ke kelas.
"Ish, tungguin" perkataan itu tak membuatnya menghentikan ataupun melambatkan jalannya.
"Tungguin Qila. Ish Aqila tungguin!"
Ya, dia adalah Aqila. Sekarang dia telah berumur enam belas tahun dan masuk ke SMA swasta paling terkenal di Jakarta. Dia telah menjadi gadis yang cantik dengan kulit yang putih, mata yang indah, bulu mata yang panjang, serta rambutnya yang lurus sepinggang membuatnya tampak seperti boneka. Bahkan dia termasuk most wanted di sekolahnya.
Aqila yang di panggil menghela napas lalu membalikkan badannya untuk melihat temannya yang telah berada di bawah kakinya.
"Apa yang kau lakukan di sana Vin? Apa kau ingin mengepel lantai? Ah pasti ya kan, karena lusa kamu bilang ingin membantu pak Toni untuk mengepel lantai sekolah"
Gadis yang di panggil Aqila, Vin atau lebih tepatnya Amira Savina Baskara biasa di panggil Mira ataupun Vina. Dia merupakan teman satu satunya yang di miliki oleh Aqila. Keluarganya merupakan pengusaha perhotelan dan restoran. Keluarganya tak kalah kaya dengan keluarga Abraham.
Muka Vina memerah menahan malu atas perkataan temannya, Aqila. Vina memelototi Aqila yang tertawa dan memandang siswa siswi yang di sana dengan tajam, seakan mengancam mereka.
Para siswa dan siswi yang melihat kejadian tadi segera menundukkan kepala mereka saat melihat tatapan mengerikan dan mengancam dari Vina.
Vina berdiri dengan susah payah. Dia menatap galak Aqila yang masih tertawa. Aqila segera pura pura batuk untuk menutupi tawanya.
"Bagus ya!?. Temennya jatuh bukannya di tolongin malah di ketawain. Bener bener deh!!" Vina merasa geram dengan Aqila yang tidak membantunya malah mengolok olok dirinya yang terjatuh. Aqila mendatarkan wajahnya seperti semula.
"Di ketawain dulu baru di bantu, kapan lagi coba lihat pemandangan kayak gitu?! Lagian ngapain coba kamu di lantai? Mau bantuin pak Toni ngepel? Gak usah bantuin yang ada kamu malah nambahin kerjaannya pak Toni."
Vina menghentakkan kakinya dengan raut wajah yang sangat merah saat mendengar perkataan Aqila. Dia benar benar malu sekarang, ingin sekali dia bersembunyi dari semua orang yang tadi melihat kejadian tadi.
Pak Toni merupakan pekerja yang bertugas membersihkan sekolah. Minggu lalu saat di kantin Vina yang merasa gabut berkata akan membantu pak Toni mengepel lantai sekolah kepada Aqila, tapi setelah seminggu berkata begitu dia tetap tidak melakukan apapun untuk membantu membersihkan sekolah dan seakan lupa dengan ucapannya. Maka dari itu Aqila berkata seperti itu saat melihat Vina terjatuh ke lantai untuk mengingatkan sekaligus mengejek perkataan temannya minggu lalu.
"Apa di matamu aku akan mengepel? Jelas jelas aku tersandung!!" ucap Vina tidak terima atas perkataan Aqila.
Vina cemberut mendengar perkataan kasar Aqila. Dia berjongkok untuk memperbaiki tali sepatunya yang menyebabkan dia terjatuh konyol di depan siswa siswi sekolah. Untung saja bukan di lapangan, mau di taruh di mana mukanya jika kejadian ini di lihat satu sekolah?. Oh hell no, dia benar benar tidak ingin itu terjadi, sangat sangat memalukan.
Aqila dan Vina melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas setelah insiden tersebut. Mereka berdua akan menuju ruang bahasa Inggris yang menjadi jadwal pelajaran mereka kali ini.
Sistem di sekolah mereka berbeda dengan sekolah lainnya. Jika sekolah lainnya akan ada ruang kelas tetap, tapi sekarang kita harus berkeliling untuk menemukan ruang mengajar guru pembimbing yang ada di jadwal. Dan tidak adanya ruang kelas tetap.
Sudah ada beberapa orang yang berada di kelas. Aqila duduk di samping jendela dengan Vina yang duduk di belakangnya. Di sana tidak ada meja panjang untuk dua orang, tapi mereka menggunakan kursi lipat yang hanya cukup di gunakan untuk satu orang.
Tak lama banyak orang memasuki ruang bahasa Inggris. Pada saat bel berbunyi menandakan mulainya pelajaran, guru yang membimbing mereka baru saja memasuki ruangan.
Tiga jam mereka belajar bahasa Inggris, sekarang Vina dan Aqila sedang berjalan menuju kafetaria sekolah untuk makan. Mereka sangat lapar setelah pelajaran yang menurut mereka tepatnya Vina menguras otak. Saat mereka sampai kafetaria sekolah sudah penuh padahal baru beberapa menit yang lalu bel berbunyi.
"Kita makan di mana nih? Kok udah ramai aja, padahal perasaan baru bel. Kalau bel istirahat aja cepat banget, coba aja bel pelajaran atau bel masuk pasti terlambat" ucap Vina menggerutu kesal.
Aqila menatap sekitar untuk melihat apakah ada kursi yang masih kosong. Akhirnya Aqila menemukan meja yang masih kosong berada di pojok dekat jendela.
"Itu di sana. Ayo!" ucap Aqila dengan berjalan terlebih dahulu menuju meja yang kosong di ikuti oleh Vina di belakangnya.
"Mau makan apa? Aku yang pesan saja" Vina bertanya saat melihat Aqila yang telah duduk di kursi.
"Nasi goreng sama minumannya jus alpukat"
"Itu aja?" Aqila mengangguk. Vina segera meluncur pergi untuk memesankan makanan mereka.
Aqila melihat sekeliling sebentar, lalu memainkan handphonenya. Beberapa menit kemudian Vina datang dengan nampan makanan di tangannya.
Mereka makan dengan tenang tanpa melakukan pembicaraan apapun. Tak lama kafetaria berubah yang tadinya tenang menjadi sangat berisik karena kedatangan most wanted boy sekolah.
Vina mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Dia mendengus saat melihat lima orang siswa dengan dua siswi yang berada di tengah tengah mereka.
"Idih, masuk masuk bikin ribut aja" ucap Vina kesal.
Aqila tetap memakan makanannya tanpa menghiraukan keadaan kafetaria yang kacau dan sangat ribut. Vina melanjutkan makannya saat melihat makanan Aqila yang kurang sedikit lagi habis.
Aqila meminum jus alpukat yang dia pesan saat sudah menyelesaikan makanannya. Dia menatap sekitar hanya untuk melihat beberapa orang menjalan menuju ke meja di sampingnya. Memutar matanya sebal lalu lanjut meminum jus alpukat yang berada di tangannya.
"Kak Qila, kenapa tidak makan bersama kami? Kenapa makan sendiri, lebih baik bersama kami lebih ramai"
Tiba tiba terdengar perkataan dari belakangnya yang membuat Aqila membalikkan badannya. Aqila mendatarkan wajahnya saat tau siapa orang yang mengajaknya berbicara.