
"Ayo Qila kita pergi!"
Aqila segera mengangkat kepalanya menoleh ke arah Vina yang telah berdiri dari kursinya. Membuat atensi semua orang yang berada di meja itu pun menoleh untuk menatap Vina.
"Kenapa kalian buru buru?! Kapan lagi coba kita bisa duduk santai kayak gini tanpa pertengkaran kan?" ucap Bian santai sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya, benar apa yang di bilang Bian. Kita udah lama gak cerita cerita kayak gini loh Qila. Duduklah sebentar lagi di sini!" ucap Anna dengan tatapan polos yang menatap ke arah Aqila.
Aulia menatap khawatir ke arah Vina, Anna dan Aqila. Apa lagi jika Anna dan Vina beradu mulut, bisa di pastikan akan berakhir dengan terjadi peperangan yang tidak ada habisnya.
Tiba tiba ada makanan yang masuk ke dalam mulutnya saat sedang memperhatikan percakapan yang terjadi antara Anna dan Vina.
Aulia lalu menoleh ke arah sampingnya. Di sampingnya Kaivan sedang memegang sendok yang telah di isi oleh nasi goreng pesanannya. Kaivan mengarahkan sendok itu ke arah Aulia. Dia menggelengkan kepalanya untuk menolak suapan yang di berikan oleh Kaivan.
Aulia benar benar tidak habis pikir dengan kekasihnya ini. Padahal dia sedang khawatir jika dua orang yang sekarang sedang beradu mulut itu bertengkar, tapi Kaivan dengan tenangnya menyuapi dirinya makanan!! Yang benar saja!.
Tapi Kaivan tetap mengarahkan sendok itu ke arah mulut Aulia tanpa mengindahkan penolakannya. Aulia pun dengan pasrah menerima setiap suapan yang di berikan oleh kekasihnya yang keras kepala itu.
El dan Bian hanya bisa menggeleng kepalanya dengan tingkah sahabat mereka yang masih bisa melakukan hal seperti itu di keadaan yang mulai memanas ini. Javier hanya tersenyum tipis memperhatikan tingkah Aulia dan Kaivan, dia menatap sebentar ke arah percakapan yang terjadi pada Anna dan Vina, lalu kembali fokus memakan makanannya.
"Heh! Udah ya, lagian mau cerita apa? Kita gak sedeket itu hingga cerita hal lainnya!!" ucap Vina tak senang dengan tatapan Anna. Sungguh menjijikan.
"Tapi aku hanya ingin bicara santai dengan Qila. Kalau di mansion, Mommy dan Daddy hanya bertanya tentang keseharian aku, Aulia dan Aiden saja. Jadi, aku tidak bisa mendengar keseharian Qila jika di mansion."
"Apa maksudmu, hah!!? Lo mau bilang jika Qila di abaikan orang tuanya gitu? Emangnya Lo siapa ingin tau keseharian Qila?!"
Vina menatap Anna dengan tatapan marah dan menghina. Aqila bahkan telah mengepalkan ke dua tangannya saat mendengar perkataan Anna. Bahkan ada kilatan kebencian dan amarah di matanya saat menatap Anna.
"A-aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin mengobrol santai dengan Qila di sini. Kalau di mansion Mommy dan Daddy selalu melarang ku mendekati Qila, lagian jika di mansion aku tidak akan bisa bicara sesantai ini dengan Qila!"
"Hah? Melarang mu? Yang benar saja!! Bilang saja Lo yang gak mau deket dengan Qila. Lagian kalau Lo mau bicara sama Qila di mansion kalian kan bisa bicara saat Tante Kanaya sama Om Nikolas pergi!"
"Atau Lo ajak jalan Qila ke tempat lain, kan bisa! Tapi nyatanya Lo bahkan juga gak ngelakuin itu. Jadi, Lo itu juga gak kepingin deket sama Qila. Jangan cari alasan deh. Enek tau dengernya!! Dasar munafik!!!" ucap Vina dengan menggebu gebu.
"Tidak! A-aku benar benar ingin dekat dengan Qila. Hanya saja dia yang selalu menghindari ku jika aku mendekatinya!"
"Lagian kita saudara. Mana ada saudara yang tidak ingin dekat dengan saudaranya yang lain?! Itu juga yang aku rasakan saat pada Qila!!" ucap Anna dengan mata berkaca kaca menatap ke arah Vina dan Aqila. Di luar penampilannya itu benar benar terlihat seperti saudara yang baik dan berhari lembut. Padahal di dalam hatinya sangat busuk, di penuhi dengan iri dan dengki.
"Iya sih gue tau pikiran Lo. Pasti kalau jadi aktris kan capek harus take berkali kali supaya filmnya bagus. Tapi kalau jadi pewaris keluarga kaya kayak keluarga gue, Lo kan gak perlu capek capek ngelakuin hal kayak gitu. Lo diam aja uang tetap mengalir ke ATM Lo!! Ya kan?!"
"Ck, bener banget Qila!! Atau gak dia jadi selingkuhan orang tua kaya. Kan enak tuh tinggal minta pasti di kasih!! Bener kan dasar murahan!!"
Aqila melipat ke dua tangannya. Dia benar benar merasa muak mendengar perkataan Anna. Sedangkan Vina menyeringai puas mendengar perkataan yang di ucapkan Qila pada Anna. Kapan lagi coba bisa mendengar Qila mengatakan hal hal buruk seperti itu?!.
"Hiks t-idak. A-aku tidak seperti itu hiks" air mata Anna berjatuhan dengan derasnya. Wajahnya benar benar minta di kasihani. Sangat menyedihkan. Dia seperti wanita yang lemah, sehingga banyak laki laki yang ada di sana ingin membelanya dan memberinya kasih sayang.
Brak
Gebrakan meja membuat atensi mereka teralihkan pada pelaku yang menggebrak meja itu.
"Cukup. Perkataan kalian sudah sangat keterlaluan!!" ucap Aiden tak senang. Dia sebenarnya sangat malas bertengkar hari ini. Tapi karena ucapan Aqila dan Vina yang kelewat dia juga harus membela Anna. Bagaimana pun Anna adalah saudaranya.
"Cie, ada yang belain tuh!" ucap Vina menggoda dengan bibir yang tersenyum tipis.
"Udah, udah. Lebih baik kalian pergi sekarang. Dari pada terjadi pertengkaran kan? Terus nanti kalian di panggil ke BK, memangnya kalian mau?!" ucap Bian berusaha melerai pertengkaran yang akan terjadi.
"Huh!! Memangnya siapa yang ingin berlama lama di sini?! Mana makin panas lagi gara gara ada boneka Annabelle di sini!!"
Vina berkata dengan mengibaskan tangannya, "Ayo Qila kita pergi!! Nanti di sini kita makin kepanasan lagi!"
Aqila segera berdiri dari duduknya. Dan mengikuti Vina untuk pergi dari kafetaria. Dia bahkan tidak melihat kebelakang dan tidak mengatakan hal apa pun lagi.
"Sudah! Jangan kamu pikirkan perkataan Aqila dan Vina tadi. Anggap saja suara nyamuk yang berdengung!" ucap El sembari mengelus punggung Anna. Aiden pun melakukan hal yang sama untuk menenangkannya saudaranya itu.
"Iya Anna! Jangan menganggap serius perkataan Aqila dan Vina tadi. Pasti mereka hanya asal bicara!" ucap Aulia yang juga ingin menghentikan tangisan Anna.
"Benar kata Aulia dan El! Tidak perlu mengingat kata kata mereka, karena hal itu tidak penting!" ucap Bian yang menatap Anna khawatir.
"Iya, terima kasih karena telah membelaku tadi!" ucap Anna menatap ke arah Aiden.
"HM! Itu sudah tugasku untuk menjaga saudara ku jika ada yang menyakiti mereka!" Aiden mengusap rambut Anna sayang. Anna hanya membalasnya dengan tersenyum senang.
"Terima kasih juga karena telah menghibur ku!" ucap Anna tersenyum menatap El, Aiden, Aulia dan Bian. Mereka bertiga pun saling tersenyum satu sama lain. Sedangkan Javier dan Kaivan hanya menjadi penonton dari awal hingga akhir tanpa mengucapkan sepatah kata pun.