
"Qila!! Mana bajuku?!" teriak perempuan yang sedang berjalan dengan handuk di tangan kanannya.
Aqila yang sedang berada di dapur, langsung menengok ke arah suara itu berasal. "Di tempat biasa." balas Aqila dengan berteriak juga.
Perempuan tadi terlihat memasuki dapur. "Ish, gak ada loh!"
Aqila menyelesaikan masakannya terlebih dahulu tanpa menjawab perempuan tadi.
Perempuan itu hanya bisa duduk dan menunggu temannya ini menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Dia menopang dagu dengan ke dua tangannya, ia menatap bosan ke arah Aqila.
"Apa kamu sudah mencarinya?!" tanya Aqila usai menata masakannya di atas meja makan.
"Tentu saja! Tidak mungkin aku berteriak teriak begini jika belum mencarinya." ucap perempuan itu sembari berdiri dari duduknya.
Aqila berjalan menuju lemari pakaian yang berada di kamar perempuan itu.
"Ini apa? Kalau cari sesuatu itu pakai mata, jangan pakai mulut, Laura!!" ucap Aqila sembari melempar baju itu ke arah perempuan tadi.
Aqila langsung berlalu pergi dari sana untuk masuk ke kamarnya sendiri dan mengganti pakaiannya sendiri.
Perempuan itu adalah Laura, Laura Isabella Fawzi. Dia adalah salah satu orang yang tinggal di vila bersama Aqila, Daniel dan Vincent.
Sebelumnya Aqila sangat khawatir jika hanya dia perempuan di vila itu. Karena saat itu Laura tidak kunjung datang. Meski pun dia tau jika Daniel dan Vincent tidak akan melakukan hal apa pun padanya. Tapi tetap saja dia merasa khawatir dengan dirinya sendiri.
Rasanya pasti akan sangat tidak nyaman untuknya jika hanya dia sendiri, perempuan yang tinggal di vila itu. Apa lagi dia tidak terlalu gampang dekat dengan orang baru. Jadi, pasti akan terasa canggung antara ke tiganya.
Tapi untung saja Laura datang saat malam hari, sehingga semua kekhawatiran Aqila yang tinggi segera merasa lega dengan kehadiran Laura.
"Ih, tadi benar benar gak ada loh!" gumam Laura menatap baju nya itu heran.
Kalau kalian bertanya kenapa Aqila bisa tau letak baju Laura dengan tepat. Karena Aqila yang saat itu bertugas untuk membersihkan pakaian. Biasanya Aqila akan membayar laundry untuk membersihkan pakaian mereka berempat.
Saat Aqila yang bertugas membersihkan pakaian, Laura akan bertugas untuk memasak. Sedangkan Daniel bertugas untuk membersihkan vila dan Vincent bertugas untuk mencuci piring. Jadi, mereka akan bergantian melakukan hal hal itu, supaya ke empatnya dapat merasakan pekerjaan satu sama lain.
Laura tak ingin memikirkannya lagi dan berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
Tak lama Laura keluar dari kamarnya. Dia terlihat cantik dengan pakaian yang dia kenakan serta riasan tipis yang ada di wajahnya menambah nilai plus tersendiri untuk penampilannya.
Laura berjalan ke arah ruang makan untuk makan bersama ke tiga temannya yang tinggal bersamanya.
Di ruang makan terlihat Aqila yang sudah duduk manis menunggu yang lainnya datang. Dia memainkan handphonenya dengan tubuh yang bersandar di kursi.
Laura menarik kursi yang berada di samping Aqila. Suara kursi di sebelahnya membuat Aqila menengok ke arah samping hanya untuk melihat Laura yang telah duduk tenang di sana.
Tiba tiba terdengar suara seseorang yang memarahi ke dua perempuan itu.
"Ini masih pagi dan kalian berdua sudah berteriak teriak seperti itu!!" Daniel berkata dengan menarik kursi yang berada di ruang makan untuk dia duduk.
Laura mengerucutkan bibir mereka mendengar teguran dari Daniel. Sedangkan Aqila terlihat tidak peduli sama sekali dengan perkataan Daniel. Dia hanya menganggapnya seperti angin yang berhembus.
"Dih, apaan sih!? Biasanya Lo juga gitu!!" ucap Laura dengan menatap Daniel tajam.
"Ha!! Aku kadang kadang ya. Lo aja yang setiap hari teriak teriak kayak tarzan, Lo pikir ini hutan!?" Daniel juga membalas dengan menatap Laura tajam.
Daniel membuat gerakan muntah saat mendengar perkataan Laura. Hal itu membuat Laura ingin sekali memukul wajah Daniel.
Aqila hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, melihat pertengkaran yang terjadi antara Daniel dan Laura. Entah kenapa dua manusia ini tidak pernah bisa akur jika di satukan di tempat yang sama. Benar benar membuatnya pusing. Apa lagi mereka tinggal bersama yang berarti akan saling bertemu sama lain. Jadi, pertengkaran Daniel dan Laura kadang membuatnya frustasi.
Dia hanya bisa berharap Vincent segera datang dan melerai mereka berdua. Karena jika dia yang melerainya, mereka akan diam mendengarkan tapi usai dia selesai berbicara, ke duanya akan lanjut bertengkar kembali. Jadi, ucapannya hanya akan menjadi angin lalu bagi ke duanya.
Namun, itu akan berbeda jika Vincent yang mengatakannya. Ke duanya akan langsung diam saat Vincent telah mengalihkan pandangannya dari buku. Hal itu menandakan bahwa Vincent terganggu dengan sekitarnya dan sedang menahan amarahnya.
Pernah suatu kali Laura dan Daniel mendapatkan kemarahan Vincent karena pertengkaran mereka berdua di saat Vincent sedang mengerjakan tugas. Hal itu membuat Laura dan Daniel tidak berani mengulangi kesalahan mereka. Karena Vincent yang tengah marah adalah hal paling mengerikan bagi Daniel dan Laura maupun dirinya.
Mereka telah berada di Korea Selatan selama lima bulan. Jadi, mereka sudah sedikit hafal dengan kebiasaan dan tingkah laku masing masing.
Kadang kadang Vina juga akan berkunjung yang membuat suasana vila itu tambah ramai. Apa lagi jika Vina dan Laura satu frekuensi untuk menjahili Daniel, maka suasana akan tambah kacau tak terkendali dengan pertengkaran ke tiga orang itu.
Tak lama terdengar langkah kaki yang langsung membuat Daniel dan Laura menutup rapat mulut mereka.
Terlihat di sana, Vincent yang berjalan menuju ke ruang makan dengan buku yang selalu berada di tangannya. Vincent menarik kursi yang berada di sebelah Aqila. Dia meletakkan bukunya di atas meja.
"Kamu mau apa?" tanya Aqila menatap Vincent.
"Gilgeori-toast dan kimbap saja." ucap Vincent usai melihat menu sarapan yang berada di atas meja makan.
Aqila segera menyiapkan makanan yang di inginkan Vincent. Dia juga mengambil makanan yang ingin dia makan. Lalu dia duduk kembali dengan tenang.
"Kamu tidak bertanya padaku?" tanya Daniel kepada Aqila.
Aqila mendongakkan kepalanya untuk menatap Daniel. "Untuk apa aku bertanya padamu? Kalau kamu mau makan tinggal ambil saja!"
"Kamu bahkan mengambilkan makanan untuk Vincent. Kenapa aku tidak?"
Aqila yang ingin menjawab langsung menutup mulutnya kembali saat melihat Vincent yang berbicara.
"Kau ingin Aqila mengambilkan makanan untukmu?!"
Daniel meneguk ludahnya kasar mendapati tatapan Vincent yang seperti menusuk dirinya dengan beribu ribu pisau.
"Hehehe... Mana mungkin! Aku hanya bercanda tadi." ucap Daniel dengan tertawa canggung.
Tanpa sengaja Daniel melihat ke arah Laura. Mulut Laura berucap "Rasain. Kena marah kan!!" hanya dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara. Hal itu membuat Daniel menatap Laura jengkel dengan tangan terkepal. Laura hanya tersenyum mengejek melihat respon dari Daniel.
"Berhentilah menatapku seperti itu!!! Aku tidak akan mengambil Aqila dari mu!!" ucap Daniel yang tidak tahan dan merasa risih dengan tatapan Vincent yang sedari tadi terus menatapnya.
Vincent hanya menatap datar Daniel, lalu melanjutkan kegiatan makannya kembali. Berbeda dengan Aqila yang sudah memerah di tempat karena perkataan Daniel.
Ya, Aqila dan Vincent telah menjadi pasangan kekasih selama dua bulan ini. Aqila yang baru pertama kali membuat hubungan seperti itu merasa senang. Walaupun Vincent tampak cuek dan tidak peduli tapi sebenarnya dia sangat perhatian pada Aqila yang membuat Aqila merasa di pedulikan oleh orang yang dia cintai.
Hal itu pula yang membuat Aqila melupakan urusan tentang keluarganya. Dia sama sekali belum menghubungi salah satu keluarga selama tiba di Korea Selatan. Hal ini termasuk langka, karena biasanya Aqila selalu memprioritaskan keluarganya dari pada hal lain.
Tapi sejak dia di Korea Selatan, mungkin karena dia yang mendapatkan teman baru dan juga kekasih untuk pertama kalinya, membuat Aqila mengalihkan perhatiannya dari urusan keluarganya yang tidak ada habisnya.
Melihat itu juga membuat Vina bersyukur karena temannya ini melupakan urusan apa pun yang berhubungan dengan keluarganya sejak tiba di sini. Dia juga merasa senang saat melihat Aqila membuka hatinya untuk seseorang yang mencintainya. Dia berharap Aqila akan terus bahagia seperti ini tanpa perlu merasa tertekan dengan hal apa pun yang menyangkut dengan keluarganya.