GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 25



Aqila berjalan jalan di taman dekat mansionnya. Dia duduk di salah satu bangku taman, dekat dengan pohon besar yang ada di sana.


Dia memandang sekitar taman yang cukup ramai walau hari mulai sore. Di sana, dekat dengan kolam ikan terlihat keluarga kecil dengan anggota keluarga tiga orang yang menarik perhatiannya. Mereka terlihat bahagia, ada banyak makanan, minuman dan banyak makanan ringan lainnya. Mereka menggelar karpet di taman, terlihat seperti orang berpiknik.


Terlihat sang anak yang selalu tersenyum lebar. Dia memandang sekeliling dengan bahagia. Walaupun piknik mereka hanya di taman yang mungkin dekat dengan rumah mereka. Tapi itu tak melunturkan senyum yang merekah di wajah ke tiganya. Mereka terlihat menikmati masa masa ini.


Aqila ikut tersenyum melihat kebahagiaan keluarga itu. Walaupun piknik di taman terlihat sederhana tapi tetap saja itu membuat mereka bahagia. Seperti kata orang, kita tak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu di tentukan oleh dirimu sendiri, bukan oleh orang lain.


Ah, itu mengingatkannya dengan liburan dia dan saudaranya di pantai. Waktu itu terlihat sangat menyenangkan, kami bersenang senang bersama dan tersenyum bahagia bersama. Itu masa masa paling indah yang selalu di kenangnya. Sekarang hanya dia yang melihat keluarganya tersenyum dari kejauhan. Sehingga mengenang liburan itu seperti ilusi di ingatan.


Tanpa sadar tangannya mengelus pipi kanannya yang terlihat memerah. Itu mengingatkannya pada kejadian setelah dia pulang dari sekolah. Dia memejamkan matanya dan merilekskan tubuhnya di sandaran bangku taman. Menikmati semilir angin yang berhembus ke arahnya.


Flashback


Kini kelas terakhirnya hari ini telah selesai. Aqila dan Vina berjalan bersama menuju gerbang depan. Banyak anak anak yang terlihat terburu buru untuk pulang ke rumah masing masing. Dia tak mengerti kenapa mereka begitu terburu buru seperti itu, mungkin untuk segera mengistirahatkan tubuh mereka atau untuk melakukan hal lain? Entahlah dia tak mengerti.


"Siapa yang akan menjemputmu Qila?" tanya Vina membuyarkan lamunannya. Aqila terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang terucap dari bibir Vina.


"Tidak ada yang menjemput mu lagi." Vina menebak saat melihat kediaman Aqila atas pertanyaannya. Aqila hanya menghela napasnya dan mengangguk.


"Um, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang saja? Kebetulan aku pulang juga di jemput tidak menggunakan mobil sendiri" ucap Vina. Dia sangat ingin membantu temannya ini. Yah, sebenarnya dia merasa kasihan pada Aqila. Tapi dia tau temannya ini tidak mau di kasihani oleh orang lain, jadi dia tak terlalu memperlihatkannya.


Tapi setelah di pikir pikir lagi itu membuatnya kesal. Padahal ke dua saudaranya yang lain pada di antar jemput oleh supir sedangkan temannya ini harus naik angkutan umum untuk pulang dan pergi. Bukan kah itu tidak adil? Padahal kan mereka masih satu keluarga. Dan satu saudaranya yang lain bahkan tidak ingin memberinya tumpangan padahal dia membawa motor sendiri. Ini membuatnya benar benar kesal.


"Ayolah, kau tak perlu merasa merepotkan karena aku tak akan di repotkan hanya untuk mengantarkan mu pulang" ucap Vina menjelaskan pada temannya yang sangat keras kepala ini. Padahal kan dia yang menawarkan untuk mengantarnya pulang berarti sudah jelas bukan, dia tak akan merasa di repotkan oleh temannya ini.


"Hah, tidak perlu Vin. Lagian rumah kita tidak searah. Tuh supir mu udah jemput." ucap Aqila memberitahu Vina.


Vina ragu ragu sejenak, dia berkata " Beneran gak mau bareng aku aja?"


"Iya bener. Udah sana! Kasian tuh supir mu nungguin terus" ucap Aqila sambil mendorong tubuh temannya pelan.


"Huh, ya udah kalau pulang kamu hari hari ya!" ucap Vina sebelum berjalan ke arah mobil jemputannya.


"Iya" ucap Aqila sedikit berteriak supaya di dengar oleh Vina. Vina menolehkan kepalanya sambil tersenyum dan lanjut berjalan menuju mobilnya.


Setelah melihat mobil Vina meninggalkan lingkungan sekolah, Aqila berjalan pelan menuju ke arah rumahnya. Jarak rumahnya dan sekolah hanya membutuhkan waktu setengah jam dengan berjalan kaki.


Dia selalu berjalan kaki untuk ke sekolah maupun untuk pulang ke rumahnya. Menurutnya itu bisa sekalian membuatnya berolahraga dan sedikit menghemat pengeluarannya. Dia memandang orang orang yang berjalan kaki sama dengannya, dengan tempat tujuan yang berbeda.


Walaupun dia orang kaya tapi uang saku yang di berikan oleh Daddy-nya berbeda dengan ke tiga saudaranya. Apa lagi dia di larang menggunakan fasilitas seperti mobil ataupun motor untuk dia bepergian. Tidak seperti ke tiga saudaranya yang lain yang selalu mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, dia harus berusaha keras untuk mendapatkannya.


Ah, itu membuatnya sedikit iri dengan saudaranya yang lain, karena seluruh anggota keluarga sangat menyayanginya mereka termasuk Andra yang notabenenya bungsu dari keluarganya.