
"Kalau kamu memang tidak ingin...tak usah di pikirkan" ucap Vina melihat keterdiaman Aqila.
Aqila mengambil es teh yang berada di depannya. Dia meminumnya dengan perlahan. Mendengarkan Vina berbicara membuat dia haus.
"Aku mengerti! Nanti saja aku pikirkan lagi!" ucap Aqila. Dia tau Vina mengkhawatirkannya, tapi di sisi lain dia tidak ingin berpisah dengan seluruh keluarganya.
"Yah, pikirkan lah! Tapi yang pasti aku ingin kamu mengikuti kegiatan pertukaran pelajar itu!" ucap Vina dengan menatap Aqila.
"Memangnya kamu juga akan mengikuti kegiatan pertukaran pelajar itu!?"
Vina meminum es tehnya, dia berkata, "Tentu saja! Makanya aku ingin kamu juga mengikuti kegiatan pertukaran pelajar itu!!"
Aqila membelalakkan matanya, terkejut. "Sungguh!? Kamu akan ikut pertukaran pelajar!? Kenapa?!"
Vina meletakkan gelasnya yang telah kosong ke atas meja kembali. "Iya, aku serius! Yah, aku ingin ke Korea Selatan sih, pertukaran pelajarnya!" Vina tersenyum menatap Aqila.
"Bilang saja kamu ingin melihat bias mu!"
"Nah, kalau itu bonusnya! Bagaimana pun kan aku belajar di sana!!"
Aqila memutar matanya malas mendengar alasan yang di berikan oleh Vina. Bilang saja ingin belajar, tapi nanti juga paling nonton konser idol K-Pop.
"Ayo dong Qila~"
"Kenapa kamu ingin sekali aku ikut?" Aqila menatap lelah pada Vina yang sedari tadi membujuknya untuk mengikuti pertukaran pelajar itu.
"Yah, gimana ya!? Aku khawatir! Bagaimana jika aku jadi melakukan pertukaran pelajar itu, dan nanti kamu akan sendirian di sini Qila? Selain itu, aku ingin kamu sedikit melupakan urusan keluarga mu dengan mengikuti kegiatan itu!"
"Yah, Baiklah. Aku akan memikirkannya. Terima kasih telah menghawatirkan ku."
Aqila tersenyum menatap teman satu satunya yang dia miliki. Dia sangat bersyukur bisa berteman dengan Vina. Walaupun sangat cerewet, tapi dia juga sangat perhatian.
"Huh! Baiklah, pikirkan itu baik baik."
Vina menghembuskan napas lelah, karena tak kunjung bisa membujuk Aqila. Temannya ini sungguh keras kepala. Entah kenapa ia merasa Aqila terlalu baik pada keluarganya itu. Tapi dia merasa Aqila terlalu bodoh saat dia berhadap langsung dengan keluarganya.
"Iya"
Aqila mengangguk membalas perkataan Vina. Setelahnya percakapan itu, mereka diam. Tidak ada yang berbicara antara Aqila dan Vina. Hanya keheningan yang menyelimuti ke duanya.
.
.
.
"Anna, kamu ingin kemana?" tanya Aiden yang berjalan di belakang, mengikuti Anna yang berada di depan.
"Aku hanya ingin ke toilet sebentar, kak." ucap Anna menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya untuk menatap Aiden.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sana!" ucap Aiden sembari menunjuk tempat duduk yang berada di bawah pohon.
"Iya" Anna segera kembali berjalan usai membalas perkataan Aiden.
Aiden hanya menatap Anna sebentar sebelum berjalan untuk duduk di tempat yang telah dia tunjuk tadi. Aiden memainkan handphonenya dengan bersandar pada sandaran kursi.
"Mm, bisakah aku duduk di sebelahmu?"
Aiden mengangkat kepalanya untuk menatap gadis cantik yang berada di depannya. Gadis di depannya ini memiliki senyuman yang sangat unik. Hidungnya yang mungil dan bibirnya yang tipis serta matanya yang agak lebar, membuatnya tampak sangat imut.
"Kakak!" panggilan itu membuat Aiden menoleh ke asal suara. Di sana ada Anna yang telah melambai kan tangannya, menyuruh ia untuk menghampirinya.
"HM! Kamu dapat menempatinya!" ucap Aiden pada gadis itu, lalu bergegas meninggalkannya.
Gadis tersebut menatap Aiden yang sedang berbicara dengan Anna. "Sayang sekali!" ucapnya lalu duduk di tempat duduk Aiden tadi.
"Ada apa Anna?" tanya Aiden saat telah sampai di depan Anna.
Anna langsung menggandeng lengan Aiden. Menariknya untuk mengikuti ke manapun dia pergi. Aiden dengan pasrah, mengikuti setiap langkah Anna.
Sedangkan di tempat Aulia berada. Dia di temani dengan Kaivan yang selalu ada di sisinya. Mereka berdua sedang berada di UKS sekolah.
"Bagaimana? Apakah masih sakit?!" tanya Kaivan pada Aulia.
"Tidak papa! Aku baik baik saja sekarang."
Aulia tersenyum menatap Kaivan yang ada di sampingnya. Dia memeluk Kaivan dengan erat. Kaivan membalasnya sembari mengelus rambut Aulia.
"Jangan memberatkan, pikiranmu dengan memikirkan hal hal yang tidak penting!"
"Aku tau!"
Aulia makin mengencangkan pelukannya. Hal itu, membuat Kaivan menggendong Aulia untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu baru saja sembuh dari penyakitmu! Jadi, jangan membuatku khawatir!"
Aulia langsung menatap mata Kaivan. "Penyakitku sudah sembuh sejak tiga tahun lalu. Jadi, mana mungkin aku membuatmu khawatir!?"
Yah, Aulia memiliki tumor di perutnya dulu. Sehingga dia gampang merasa sakit di area perut. Hal itu juga yang membuat Kaivan khawatir saat Aulia mengeluh akan perutnya yang sakit hati ini. Tapi tenang, karena tumor itu telah di sembuhkan, sehingga Aulia dapat sehat kembali seperti sekarang.
"Sekarang saja kamu membuatku khawatir!" ucap Kaivan dengan mencubit pipi Aulia. Aulia menatap sebal Kaivan sembari balas mencubit dua pipi kekasihnya ini. Kaivan tetap berwajah datar tanpa mengeluh akan kelakuan Aulia padanya.
"Kamu saja yang terlalu takut terjadi sesuatu padaku! Padahal kan aku udah bilang jika hanya sakit perut." ucap Aulia mencoba membela dirinya sendiri.
"Kamu yang ngomongnya kurang jelas. Harusnya kamu bilang jika kamu halangan hari ini!"
"Aku nya yang malu, jika bilang begituan padamu!" ucap Aulia dengan memeluk leher Kaivan kembali.
Kaivan hanya bisa berdecak dalam hati. Dia mengelus punggung Aulia dengan sayang.
"Kamu tau?"
"Apa?" ucap Kaivan melirik Aulia yang masih berada di pelukannya.
"Anna sangat membutuhkan pendonor jantung sekarang!"
"Lalu?" Kaivan mengernyit tak mengerti dengan pembahasan Aulia.
Aulia segera menatap pada Kaivan. "Aku khawatir jika dia tidak segera mendapatkan pendonor itu. Dia...di...dia akan meninggalkan ku!"
Kaivan memeluk Aulia untuk menenangkannya. Dia mengelus punggung Aulia yang bergetar karena tangisannya. Yah, kalau soal Anna dia tidak terlalu peduli yang dia pedulikan adalah Aulia baik baik saja. Entah mengapa dia sedikit tidak menyukai Anna. Jadi, dia tidak begitu memperhatikan gadis itu.
"Tenanglah, pasti paman Nikolas juga sedang berusaha untuk mencarikan donor jantung untuknya!"
"Jadi, kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Itu biar saja menjadi tugas paman Nikolas untuk mencari orang yang ingin mendonorkan jantungnya pada Anna."
"Aku tidak ingin kamu sakit, hanya untuk memikirkan kesehatan Anna. Tetapi kamu sama sekali tidak memikirkan kesehatan mu sendiri!"
"Iya, aku mengerti!"
Aulia menatap Kaivan dengan mata merah selesai menangis. Kaivan menghapus air mata yang masih berada di sudut mata kekasihnya. Dia tidak tega memarahi Aulia jika begini.
"Baiklah. Jangan menangis lagi!" ucap Kaivan dengan mencium sudut bibir Aulia.
"Kamu!" Aulia memukul pundak Kaivan. Dia sedikit terkejut dengan hal yang di lakukan oleh Kaivan tadi.
"Baiklah. Ayo pergi dari sini!" ucap Kaivan ingin menggendong Aulia bersamanya.
"Tidak! Aku akan berjalan sendiri!" ucap Aulia segera turun dari pangkuan Kaivan.
Kaivan hanya mengangguk saja. Lalu dia segera memegang tangan Aulia untuk keluar dari UKS bersama.