GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 23



Vina yang berada di sana menggeram kesal. Sendiri dia bilang? Apakah dia tak melihat ada dirinya yang sedang makan bersama Aqila.


"Ada apa kau menghampiri ku?" tanya Aqila menghiraukan perkataan tadi.


"Aku hanya menawari mu untuk makan bersama kami. Apakah kau mau?" Aqila menatapnya dengan raut biasa sambil melirik piring makannya.


"Apa kau tak lihat Aqila telah selesai makan? Ah, kamu pasti tidak bisa melihat hari ini. Karena dari tadi bertanya seperti itu, padahal sudah terlihat jelas jika ada aku yang menemani Qila dan Qila yang telah menyelesaikan makanannya," ucap Vina kesal. Aqila hanya diam setelah temannya ini menjawab. Dia melihat wajah orang itu yang sedikit marah mungkin, entahlah.


"Kau!! Jaga bicaramu kepada Anna!" ucap laki laki berambut pirang dengan mata biru. Wajahnya yang tampan menjadi daya tarik kaum hawa yang berada di sini.


"Memangnya aku bicara bagaimana hingga harus menjaganya? Kalian saja yang baperan, dia aja gak papa kok" ucap Vina menunjuk ke arah Anna.


"Kau!!"


"Tenanglah El!" ucap laki laki yang berambut hitam dengan mata berwarna coklat kepada laki laki berambut pirang tadi atau orang yang bernama Elvano Adiaksa.


"Bagaimana aku bisa tenang saat dia mengolok olok Anna, Bian?!" ucap El tak terima dengan ucapan temannya yang bernama Vabian Aditama untuk menyuruhnya tenang.


"Anna tidak papa kak El." El menggeram pelan saat Anna berkata begitu dengan raut wajah sedih.


Di sana juga ada Aiden dan Aulia yang melihat perdebatan mereka. Aulia dan Aqila saling bertatap sebelum Aulia memalingkan wajahnya. Respon Aulia membuat Aqila menurunkan pandangannya.


"Sudahlah. Aku capek, ayo segera makan sebelum bel masuk berbunyi!" ucap Aulia dengan menuju meja di samping Vina dan Aqila.


"Lihat, Lia ingin makan. Jadi berhentilah berdebat!" ucap laki laki berambut biru hitam. Dia bernama Kaivan Pratama yang sedari tadi diam.


"Udah ayo Lia sudah terlihat lapar" ucap Anna, melihat Kaivan, Aulia, dan satu orang laki laki yang sedari tadi tidak bersuara, berjalan menuju meja samping tempat duduk Vina.


Elvano, Vabian dan Aiden berjalan lebih dulu di ikuti Anna yang berada di belakang mereka. Mereka berjalan menuju meja yang telah di duduki Aulia dan dua laki laki tadi untuk makan.


"Agghh!!" teriak kesakitan yang tiba tiba menarik perhatian Aiden dan teman temannya termasuk Aulia untuk melihat keadaan di belakangnya.


Tidak hanya Aiden dan teman temannya saja tapi juga menarik perhatian seluruh orang yang berada di kafetaria.


Terlihat di sana Anna terjatuh dengan posisi badan tengkurap. Aiden segera berlari mendekat untuk membantu Anna berdiri.


Anna berdiri dengan kepala yang menundukkan ke bawah sehingga rambutnya yang terurai menutupi wajahnya. Aiden mengangkat wajah Anna untuk menatapnya. Dia ingin melihat apakah adiknya ini terluka atau tidak.


Saat Aiden mengangkat wajah Anna, dia bisa melihat luka yang berada di dahi adiknya yang sedikit mengeluarkan darah, mungkin karena terbentur lantai atau benda tajam lainnya. Mata Anna juga terlihat berkaca kaca ingin menangis.


Aiden segera memeluk Anna. Aulia dan yang lainnya segera mendekat untuk melihat lebih jelas kondisi Anna, apakah parah atau tidak.


"Anna, bagaimana bisa kau terjatuh?" tanya Bian marah terlihat dari tangannya yang mengepal erat hingga terlihat urat nadi di tangannya menonjol.


Anna mengalihkan tatapannya pada Aqila dengan masih berada di pelukan Aiden tanpa mau melepaskannya. Aqila yang melihat kejadian tadi juga terkejut, karena Anna tiba tiba jatuh di sampingnya. Vina bahkan sampai membelalakkan matanya, terkejut. Saat Anna melihatnya membuat Aqila memandangnya dingin.


"Hiks.. Hiks" isak tangis Anna mulai terdengar walaupun lirih dengan posisi memeluk Aiden.


"Qila kenapa kamu melakukan itu?" tanya Aiden menatap Aqila marah.


"Melakukan apa? Aku tak melakukan apapun!" ucap Aqila dengan menatap Aiden santai tanpa rasa takut sedikit pun melihat amarah di mata kakaknya.


"Kenapa kau melukai Anna?!!" bentak Bian kepada Aqila yang terlihat tidak bersalah, membuatnya sangat marah.


"Aku? Melukainya? Heh, tidak ada untungnya aku melakukan itu." ucap Aqila menatap datar Bian yang membentaknya tanpa tau apa yang terjadi.


"Lalu kenapa Anna terluka seperti ini?" ucap Aulia bertanya menatap Aqila.


Anna yang berada di sana sedikit mengeraskan suara tangisannya. Seluruh kantin terpusat pada mereka. Mata mereka yang menatapnya tajam membuat Aqila marah. Hei! dia tidak melakukan apa pun padanya. Tapi mata mereka yang menatap kearahnya, seolah olah menyalahkannya atas kejadian yang di alami Anna.


"Qila kenapa kau hiks tidak mau jujur hiks?" ucap Anna dengan sesenggukan. Dia menatap Aqila terluka.


"Heh, temen ku udah jujur ya dari tadi. Kamu nya aja yang ceroboh dan tidak berhati hati!!" Vina memandang geram Anna yang menatap Aqila seperti itu.


"Kalau bukan dia siapa lagi? Anna ingin melewati kursinya dan tiba tiba terjatuh, apa itu masuk akal kalau dia tidak menjegalnya!!" ucap El dengan jari telunjuk menunjukkan ke arah Aqila.


"Aku bilang bukan aku!!" ucap Aqila menatap tajam El yang menyalahkannya.


"Sudah kak tidak papa jika, kak Qila tidak ingin mengakuinya." El dan Vabian menatap Anna yang matanya merah sehabis menangis. Luka di dahinya pun terlihat mulai berwarna ungu kebiruan.


El yang telah marah pun menghampiri Aqila yang masih duduk dengan santai di sana. Tiba tiba El menarik rambut Aqila kencang. Rambut Aqila langsung terurai di tariknya.


"Apa yang kau lakukan brengsek?!" ucap Vina dengan berdiri dari kursinya, terkejut melihat kelakuan El yang seperti orang gila.


El mengarahkan wajah Aqila untuk membenturkan wajahnya pada meja yang ada di depannya. Kelakuan El membuat seluruh kafetaria membisu dengan tatapan terkejut dan dari ribuan orang yang ada di kafetaria, salah satu orang menyeringai senang melihat kejadian itu. Dia segera menutup mulutnya saat sadar akan ekspresinya. Ah semoga tidak ada yang melihat itu batinnya, dan mungkin memang tidak ada yang memperhatikannya. Ah ataukah ada, yah dia tak peduli.


El membenturkan kepala Aqila berkali kali ingin membuatnya memiliki luka seperti yang Anna miliki. Vina langsung tersadar saat mendengar rintihan kesakitan Aqila. Dia segera menendang perut El dengan keras hingga dia mundur beberapa langkah.


"Qila kamu gak papa?" tanya Vina menghampiri setelah menjauhkan El dari temannya.


Karena rambut Aqila yang menutupi wajahnya, membuat dia tidak dapat memastikan kondisi sahabatnya ini.


Aqila menyisir rambutnya kebelakang hingga dapat terlihat luka di dahinya berdarah. Darah itu sudah mengotori sebagian wajah Aqila.


Wajah Aqila terlihat sangat marah dengan kelakuan El. Dia menghampiri El yang tertegun melihat hasil kelakuannya di dahi Aqila.


Plak


Suara tamparan Aqila membuat El sadar dari keterkejutannya. Tamparan itu menghasilkan bunyi yang sangat nyaring hingga seluruh kafetaria, karena sunyi nya suasana di sana.


Tanpa sengaja dia bertatapan dengan saudaranya kembarnya saat memalingkan muka setelah menampar wajah El. Dia melihat keterkejutannya di mata kembarannya, tapi yang membuatnya sedih yaitu mereka tidak ada yang maju untuk membelanya.


"Sudah Qila" Vina menarik temannya itu dari hadapan El, lalu membawanya pergi dari sana.


"Sebaiknya kalian obati Anna" ucap laki laki yang sedari tadi menampilkan wajah datarnya, dia bernama Javier Smith.


Aiden pun tersadar dan segera membawa Anna ke UKS di ikuti Vabian dan Elvano. Aulia ingin menyusul tapi segera di hentikan Kaivan.


"Ada apa? Aku ingin melihat keadaan Anna" ucap Aulia menatap Kai.


"Tidak, makanlah dulu baru kita melihatnya"


"Tapi-" ucapan Aulia segera di potong oleh Kaivan.


"Kalau kamu ke sana dan berakhir sakit, kamu malah menambah kekhawatiran mereka" ucapan Kaivan membuat Aulia mengangguk. Dia kembali duduk di kursinya tadi. Di sana sudah ada Javier yang duduk dengan tenang.


"Apa kau sudah memesan?" tanya Kaivan dengan duduk di sebelah Aulia. Javier hanya berdehem menjawab pertanyaan Kaivan, matanya terus terfokus pada smartphone di tangannya.


Kafetaria pun menjadi tenang dan mulai terdengar bisik bisik dari para siswi maupun siswa yang melihat kejadian tadi. Mereka tidak berani bersuara keras saat masih ada Aulia, Kaivan dan Javier di sana.


Tak lama makanan yang di tunggu Aulia datang. Tadinya dia sudah kehilangan nafsu makannya saat melihat pertengkaran yang terjadi di antara saudaranya. Tapi dia menjadi lapar saat melihat makanannya yang berada di depannya. Merekapun memakan makanannya dengan khidmat tanpa ada yang berbicara.


Tolong dukungan dan like nya ya🥰🥰 Terimakasih