
Sudah seminggu ini Aqila berada di mansion sendirian. Tapi entah bagaimana, empat hari yang lalu para bodyguard dan beberapa pelayan mulai kembali bekerja.
Tapi walaupun para pelayan terlah bekerja dan mansion tidak sesepi saat hanya dia saja yang di sana, keluarganya tak juga kunjung pulang. Padahal dia berharap keluarganya akan pulang saat sebagian pelayan dan bodyguard di pekerjaan kembali sebelum dua minggu liburan keluarganya usai. Bahkan selama empat hari itu, dia selalu menunggu di ruang tamu hingga malam. Dia sangat kecewa saat keluarga tak kunjung datang, padahal dia selalu menunggu hingga ketiduran di ruang tamu.
Aqila berlari mengelilingi halaman belakang yang luar untuk berolahraga pagi. Dia telah melakukan sembilan putaran, sekarang dia kan melakukan putaran terakhir. Akhirnya putaran ke sepuluh selesai, dia membaringkan tubuhnya di atas rerumputan.
Terlihat napas Aqila yang tidak beraturan usai melakukan sepuluh putaran mengelilingi halaman belakang mansionnya.
Aqila menatap langit yang masih gelap, sebelum matahari terbit. Satu pelayan perempuan terlihat membawa nampan yang di atasnya ada handuk dan air putih berdiri di pinggir.
Hah! Aqila berdiri, lalu menuju ke arah pelayan perempuan yang membawa handuk dan air untuknya. Aqila mengambil handuk, mengelap seluruh keringat yang berada di wajah dan lehernya.
Aqila meletakkan handuk itu ke tempat semula, saat merasa seluruh tubuhnya bersih. Dia mengambil air putih yang berada di samping tempat handuknya tadi.
Aqila meneguk air minumnya hingga habis setengah. Hah, leganya batin Aqila sembari matanya menatap sekitar halaman belakang mansionnya. Halaman mansionnya ini sangat sepi dan hanya ada sekitar dua puluh bodyguard yang berjaga di sekitar.
Dia menghabiskan air yang masih berada di tangannya. Sinar matahari mulai terlihat menyinari halaman belakangnya. Aqila meletakkan gelas yang telah kosong kembali ke nampan yang berada di tangan pelayan perempuan itu.
Dia berjalan masuk ke dalam mansionnya, di ikuti pelayan tadi dari belakangnya. Dia menaiki tangga satu persatu untuk bisa sampai ke kamarnya sendiri.
"Ugh!!! Tubuhku masih terasa lengket meski sudah membersihkan dengan handuk bersih. Aku ingin segera berendam air hangat. Ini sungguh tidak nyaman!" gumam Aqila sembari berjalan melewati satu persatu kamar saudaranya.
Aqila membuka pintu kamarnya dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan badannya selepas melakukan olahraga pagi.
Paris, Ile-de-france, Prancis.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Anna?" Anna hanya tersenyum lemah pada keluarganya yang menatap cemas dirinya.
"Aku baik baik saja, kakek!" David mengelus rambut Anna penuh kasih sayang.
Sekarang mereka berada di salah satu rumah sakit yang ada di Paris. Saat mereka akan menuju ke bandara tiba tiba saja anna merasa sakit di jantungnya sehingga mereka segera membawanya ke rumah sakit dan membatalkan penerbangan pesawat mereka.
Hal itu juga yang membuat mereka tidak jadi pulang liburan lebih awal. Walaupun mereka menghawatirkan Aqila yang berada di mansion sendirian, tapi entah bagaimana Anna yang selalu menjadi prioritas pertama mereka.
Anna sekarang di rawat di ruang VIP untuk satu orang, ruangan ini juga sangat luas. Anggota keluarganya yang lain terlihat sedang duduk di sofa panjang yang berada di ruangan itu.
"Aku baik baik saja kak dan aku minta maaf.." ucap Anna sembari menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa kamu minta maaf? kamu tidak melakukan kesalahan apapun jadi, jangan minta maaf!" ucap Aiden dengan mengarahkan pandangan Anna padanya.
"Itu... Karena aku, kita tidak jadi pulang! Padahal kalian tampak sangat khawatir pada Qila. Tapi gara gara aku yang seperti ini, kita tidak jadi pulang. Maaf!!"
"Jangan khawatir, sayang. Daddy telah mempekerjakan pelayan dan bodyguard kembali, walaupun tidak semuanya tapi itu sudah lebih cukup untuk melindungi Qila dari musuh musuh Nikolas." Anna mengangguk mendengarkan penjelasan dari neneknya, Mila yang sedang duduk di sofa samping Andra.
"Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah. Yang harus minta maaf adalah aku, karena telah membentak mu. Aku minta maaf Anna!!" ucap Aiden menatap Anna dengan tatapan bersalah.
"Tidak papa bagaimanapun Aqila merupakan adik kandung kak Aiden jadi, aku bisa memaklumi kekhawatiran kalian. Sedangkan aku hanya orang luar di keluarga ini. Jadi, kakak tidak perlu merasa bersalah seperti itu," ucap Anna dengan nada lemahnya.
Perkataan Anna membuat suhu atmosfer di ruangan itu menjadi dingin. Terlihat wajah Aiden, Nikolas, David, Andra dan Felix sangat dingin tak tersentuh. Bahkan wajah Kanaya, Mila, Emily, Alina, dan Aulia terlihat khawatir.
"Bukan begitu!! Kami tidak pernah menganggap kamu orang luar di keluarga ini. Jadi, kamu jangan berpikir seperti itu Anna!!" ucap Aulia sembari berjalan mendekati hospital bed Anna.
"Iya, jangan berpikiran seperti itu kak! Karena kakak juga bagian dari keluarga ini" ucap Andra dengan raut wajah tak terima dengan perkataan Anna tadi.
"Ya sayang, jangan pedulikan omongan orang orang yang berkata seperti itu padamu. Kami sangat menyayangimu." ucap Kanaya menatap mata Anna yang terlihat sedih.
"Iya Mom, aku tau. Terima kasih karena telah menerimaku menjadi bagian dari keluarga kalian, aku merasa sangat senang karena memiliki keluarga yang menyayangi dan mendukung ku!" ucap Anna tersenyum pada seluruh keluarganya.
"Itu sudah menjadi hak mu sejak kamu masuk ke dalam keluarga Abraham. Itu juga merupakan tanggung jawab ku sebagai Daddy-nya yang telah mengangkat mu masuk ke dalam keluarga, aku akan membesarkan mu dengan penuh kasih sayang serta memenuhi semua kebutuhanmu. Jadi, jangan merasa tidak enak hati untuk meminta apapun yang kamu inginkan. Sejak mengangkat mu aku terlah berjanji akan melakukan semua itu!!" ucap Nikolas dengan penuh ketegasan dalam kata katanya.
Anna merasa sangat tersentuh mendengar perkataan Nikolas. Dia tau keluarganya sangat sangat menyayanginya bahkan melebihi mereka menyayangi Aqila. Mereka bahkan memprioritaskan dirinya lebih dulu dari pada yang lain. Dia benar benar merasa senang dengan hal itu semua. Itu seperti rasa pencapaian baginya, karena telah bisa membuat keluarga Abraham takluk padanya. Dia sangat bangga pada pencapaian itu.
"Terima kasih Daddy," ucap Anna dengan mata yang berkaca kaca menatap Nikolas. Nikolas langsung memeluk Anna dari samping dengan hati hati sambil menciumi rambut Anna.
"Tidak perlu terima kasih, ini sudah menjadi tanggung jawab ku!" Air mata Anna mengalir semakin deras mendengar perkataan Daddy-nya. Nikolas semakin mengeratkan pelukannya pada Anna saat mendengar isak tangis Anna yang semakin keras dari pelukannya.
Seluruh keluarganya yang melihat interaksi antara ayah dan anak itu merasa tersentuh. Mereka tersenyum saat memandang interaksi antara ke duanya.