GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 6



"Hiks Mommy hiks, aku takut hiks sekali" ucap Aulia dengan menangis sesenggukan. Kanaya mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung putrinya untuk menenangkannya.


"Tenanglah sayang, semuanya baik baik saja." Kanaya segera memakaikan handuk pada tubuh Aulia yang basah. Aiden segera naik dan tidak melanjutkan kegiatan berenangnya.


Kanaya menggendong Aulia ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah. Setelah itu, Aulia langsung tertidur karena lelah menangis.


Kanaya berjalan menuju ruang keluarga yang di sana sudah ada Aiden dan Aqila yang sudah mengganti pakaian mereka.


"Bisa jelaskan kenapa kalian bertengkar?" tanya Kanaya setelah duduk berhadapan dengan Aqila dan Aiden.


"Lia tidak mau minta maaf karena sudah membasahi bajuku, jadi aku membalasnya dan dia kesal lalu kita saling menjambak rambut satu sama lain." ucap Aqila dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi bukan berarti kamu bisa mendorongnya!?" teriak marah Kanaya pada Aqila.


Aqila mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan mata Kanaya sambil mengernyitkan dahinya, dan menyangkal pernyataan Kanaya, "Aku tidak mendorongnya, Mom". "Dia terjatuh karena ulahnya sendiri" lanjutnya.


Kanaya merasa marah, karena dia merasa Aqila sedang berbohong padanya. "Bagaimana bisa dia melakukannya atas kesalahannya sendiri? Lagi pula bajumu hanya terkena cipratan sedikit dan mungkin saja Lia tidak sengaja."


Aqila terlihat kecewa dengan perkataan Kanaya yang menyalahkannya atas semua yang terjadi pada saudaranya.


"Walaupun tidak sengaja setidaknya dia juga harus minta maaf padaku! Mungkin ini masalah sepele bagimu Mom, tapi bagiku ini masalah yang serius" ucap Aqila dengan menatap Kanaya.


Dia sedikit kecewa karena sang Mommy tidak mempermasalahkan Aulia yang membasahi bajunya. Mungkin orang lain akan berpikir reaksinya sedikit berlebihan hanya karena itu, tapi dia memiliki penyakit raynaud, gangguan yang menyebabkan jari-jari dan kaki dingin. Yang biasanya disebabkan oleh suhu yang bahkan agak dingin. Bahkan kulitnya akan berubah menjadi biru atau putih.


"Tentu saja tidak, Mom. Siapa orang yang ingin melihat saudaranya mati? Aku ingin menyelamatkannya tapi aku tidak bisa." ujar Aqila. Bagaimana bisa dia menyelamatkan Aulia jika dia saja tidak bisa berenang? Apa Mommy-nya ini lupa jika dia tidak bisa berenang?


"Alasan!?" ucap Kanaya. Aiden hanya duduk, mendengarkan pertengkaran yang terjadi antara Mommy-nya dan saudara kembarnya itu.


Melihat Kanaya yang suasana yang semakin memanas membuat Aiden akhirnya angkat bicara, "Sudahlah, Mom, lagi pula Lia sekarang sudah baik - baik saja"


Kanaya yang mendengar perkataan anaknya pun berusaha meredakan amarahnya. Dia tadi sangat khawatir saat melihat Aulia terjatuh ke dalam kolam renang.


Kanaya segera melangkah ke kamarnya setelah melihat Aqila yang memalingkan muka darinya dan Aiden yang menatapnya dengan ekspresi datar.


Tersisa Aiden dan Aqila yang berada di ruang keluarga, suasana sangat sunyi karena tidak ada yang berbicara. Aqila yang tertunduk sedih, kecewa dan sakit hati atas perkataan Kanaya padanya dan Aiden yang hanya menatap datar pada saudaranya itu.


"Istirahatlah ke kamarmu!" ucap Aiden yang bangun dari duduknya, menuju kamarnya sendiri. Aqila segera menahan tangan Aiden, dia berkata, "Kau percaya padaku kan kak?"


Melihat Aiden yang tidak menjawab, dia segera melepaskan tangan kembarannya. Aiden meliriknya sebentar dan melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa mengatakan apapun.


Sejujurnya Aiden tidak ingin memihak siapa pun, memang mereka saling menjambak tapi pada akhirnya Aulia yang jatuh ke dalam kolam renang. Secara tidak langsung orang tidak melihatnya akan beranggapan bahwa Aqila yang menjatuhkan saudara sendiri. Jadi dia lebih memilih diam.


"Pada akhirnya tidak ada yang mempercayaiku" Aqila menunduk sedih, matanya mulai berkaca - kaca, ingin menangis.


Dia menenangkan hatinya dan menyemangati dirinya sendiri supaya tidak menangis, setelah merasa tenang dia segera melangkah menuju kamarnya sendiri. Setelah melewati kejadian yang menguras tenaga, dia ingin segera bertemu kasurnya yang empuk dan tidur tanpa memikirkan hal lain.