
Bandara Soekarno - Hatta, Jakarta.
Ramai orang yang berlalu lalang dengan koper koper dan tas yang di bawa oleh orang orang itu. Ada juga orang yang duduk atau sedang mengamati lingkungan di sekitar bandara.
Tak sedikit juga antrian untuk naik ke dalam pesawat. Dan Aqila merupakan salah satu dari orang orang itu. Dia duduk di sebuah bangku yang kosong untuk menunggu kedatangan Vina.
Yap, benar sekali. Aqila dan Vina akan melakukan pertukaran pelajar di Korea Selatan. Hari ini adalah hari keberangkatan Aqila dan Vina menuju ke negeri Ginseng itu.
Aqila dan Vina sangat senang saat mereka tau jika ke duanya termasuk orang yang akan mengikuti pertukaran pelajar itu. Vina bahkan berteriak di kafetaria saking senangnya, Aqila hanya bisa menundukkan kepalanya, malu atas sikap Vina. Dia berharap tidak ada yang memperhatikannya yang berada di dekat Vina. Akh, sungguh memalukan jika mengingat hal itu!!!
"Kemana sih Vina ini? Kenapa dia sangat lama?!" ucap Aqila dengan menatap sekeliling supaya dapat menemukan Vina.
"Ck, janjian jam 8 di bandara sekarang sudah setengah 9. Yang benar saja! Padahal sebentar lagi pesawat akan take off!!" Aqila menatap jam tangan di pergelangan tangan kanannya dengan geram.
Aqila hanya duduk di sana dengan perasaan geram menunggu kedatangan Vina. Dia duduk sendirian tanpa ada sanak saudara yang menemani.
Aqila terlihat iri saat menatap ke arah kanannya. Di sana ada seorang anak perempuan yang sedang berpelukan dengan keluarganya. Dia terlihat menangis saat memeluk ke dua orang tuanya. Anak perempuan itu bahkan mendapat ciuman dari ke dua orang tuanya sebelum dia masuk ke dalam pesawat.
Dia sangat beruntung bisa memiliki orang tua seperti itu, batin Aqila dengan masih menatap pada ke dua orang tuanya anak perempuan tadi.
Aqila menatap dengan rindu keluarga itu. Dia juga ingin orang tuanya menemani dirinya di sini sebelum dia berangkat ke negara asing. Kalau pun tidak bisa dia ingin di temani saudara saudara nya, itu pun dia tidak masalah.
Tapi sayang sekali, tidak ada satu pun keluarganya yang berada di sini untuk menemaninya. Semua orang di sibukkan dengan penyakit Anna yang tiba tiba kambuh sehingga membuat seluruh orang di mansion panik.
Meski begitu dia tetap ingin orang tuanya menemaninya dan bukan Anna. Lagian ada banyak orang yang akan menjaga Anna kalaupun orang tuanya tidak ada di sana. Atau mungkin saudaranya yang akan menemani dirinya. Karena ada orang tua kita yang menemani Anna jadi Aqila berharap ada saudara yang ingin menemaninya menuju bandara.
Tapi lagi lagi dia harus kecewa dengan semua harapannya. Karena tidak ada sama sekali dari orang tuanya maupun saudaranya yang lainnya tidak ada yang ingin pergi walau pun sebentar dari sisi Anna. Mereka bahkan seakan lupa dan mengabaikan keberangkatannya menuju ke Korea Selatan.
Padahal Nikolas telah berjanji akan menemaninya menuju bandara bersama yang lain. Janjinya itu membuat Aqila senang bukan kepayang. Yah, tapi lagi lagi Nikolas hanya bisa mengingkari janjinya kepada putri kandungnya dan semua itu hanya karena Anna yang tiba tiba sakit.
Bukannya dia tidak khawatir dengan kesehatan Anna. Dia sangat khawatir dengan saudara angkatnya itu. Tapi dia juga ingin perhatian keluarganya tertuju padanya walaupun itu hanya satu hari saja. Kalau bisa dia ingin satu hari tanpa ada Anna supaya semua perhatian keluarganya tertuju hanya pada dirinya.
Tapi yah kalian tau sendiri itu hanya harapan dan angan angan yang mungkin tidak akan pernah terkabulkan. Karena terlihat dari perlakuan keluarganya yang memperlakukan Anna selayaknya menjaga permata keluarga. Dia benar benar merasa iri dan sedikit membenci Anna karena hal itu.
"Aku sudah menunggu dari jam 8 dan sekarang kamu baru sampai?! Ha yang benar saja!!"
Vina segera tersadar dari rasa herannya saat mendengar suara Aqila yang geram padanya. Dia tersenyum canggung sambil mengelus tengkuk lehernya.
"Hehehe ..... Ya maaf, macet tadi." ucap Vina beralasan pada Aqila.
"Huh, baiklah. Tapi ini kamu sendiri? Mana Tante sama Om?!" ucap Aqila melihat ke belakang Vina, mungkin saja bukan orang tuannya Vina tertinggal di belakang.
"Oh, mereka sekarang berada di Italia. Biasa liburan sama mungkin buatin aku adik baru!" ucap Vina menggoda dengan mengedipkan salah satu matanya ke Aqila.
"Dih! Ya udah, bentar lagi pesawat kita take off. Apakah ada barang mu yang ketinggalan?"
Vina mengecek semua perlengkapan yang dia butuhkan saat berada di Korea Selatan sebelum memasuki pesawat. Aqila pun juga ikut mengecek kembali semua perlengkapannya. Siapa tau kan jika nanti ada yang ketinggalan? Bisa kacau nanti.
"Barang barang ku sudah lengkap. Bagaimana denganmu?!" tanya Vina sembari menutup tasnya kembali.
"Barang ku juga sudah lengkap semua. Jadi, ayo kita masuk ke dalam pesawat sekarang!!"
"Ya, ayo. Aku sungguh tidak sabar!!"
"Korea Selatan. Aku datang!!!"
Vina terlihat bersemangat dengan progam kegiatan pertukaran pelajar ini. Dia benar benar terlihat sangat bahagia, mungkin salah satunya karena dia ingin melihat biasnya lebih dekat. Maka dari itu dia terlihat sangat bersemangat dan bahagia hari ini.
"Jangan teriak! Aku malu tau!!" ucap Aqila yang berusaha menjaga jarak dari Vina.
"Ish, iya iya!" Vina melengkungkan bibirnya ke bawah karena teguran dari Aqila. Tapi itu tak lama karena dia akan tersenyum lagi dalam beberapa detik kemudian. Sumpah benar benar terlihat seperti orang gila. Astaga!!!
Aqila dan Vina duduk bersama dengan Aqila yang duduk di dekat jendela pesawat. Di dalam pesawat sudah ada puluhan orang yang duduk di dalamnya dan sedang menunggu pesawat untuk segera take off.
Aqila berharap dengan ke perginya ke Korea Selatan membawa kebahagiaan untuk dirinya. Yah, walaupun niatnya dia ke sana untuk belajar, tapi tidak papa sekali kali menikmati perjalanan ini seperti liburan pun tidak masalah. Jadi, dia benar benar harus bersenang senang di sana nanti, ucap batin Aqila pada dirinya sendiri.