GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 31



Aqila terlihat lebih segar usai dia mandi. Sekarang dia mengenakan pakaian blouse berwarna maroon dengan celana panjang hitam. Dia juga menggunakan high heels berwarna cream serta tidak lupa dengan sling bag yang berada di tangannya. Aqila menyampirkan sedikit rambutnya di depan bahunya.


Penampilannya sekarang sudah tidak kalah cantik dengan para pekerja yang bekerja di kantor, tapi tentu saja dia lebih menawan dan cantik dari pada wanita kantoran biasa, serta aura elegan yang telah melekat dalam dirinya. Sudah tidak di ragukan lagi, bahwa visual setiap keluarga Abraham benar benar sangat cantik dan tampan.


Yah, mereka semua harus mengakui hal itu. Keturunan keluarga Abraham seperti seorang yang di ciptakan hampir sempurna oleh yang di atas. Sungguh sangat sedikit yang bisa mengalahkan visual dari keluarga Abraham.


Dengan perlahan Aqila menuruni tangga. Saat dia akan mencapai pintu masuk mansionnya, tiba tiba saja ada satu pelayan yang menghalangi jalannya.


"Apa yang kau lakukan? Minggir aku akan pergi keluar!!" ucap Aqila dengan raut wajah datar.


"Maaf nona, tapi bolehkah saya tau anda ingin kemana?" tanya pelayan itu sambil membungkukkan badannya.


"Lancang!! Apakah sekarang semua pelayan harus tau urusan majikannya?!" ucap Aqila kejam.


Pelayan itu terlihat meremas pakaiannya. Aqila menatap remeh pelayan yang berada di depannya. "Sebaiknya, kau minggir dari sana!! Oh, atau kah kau ingin aku melakukan sesuatu padamu?!"


Perkataan Aqila membuat pelayan itu meremang, ketakutan. "Maafkan saya nona. Maafkan saya."


Aqila hanya mendengus dan melanjutkan langkahnya, "Sebaiknya kau sadari posisimu disini! Kau pikir, kau dapat berbuat seenaknya padaku hanya karena kau pelayan Anna? Heh! Sungguh lelucon!!"


Ya, pelayan itu merupakan pelayan pribadi Anna. Dia bernama Mila. Dia termasuk pelayan yang sangat setia kepada Anna. Dia akan melakukan apapun yang Anna perintahkan padanya hanya untuk mendapatkan uang lebih banyak. Tapi dia juga pelayan yang paling boros.


Setelah mengatakan hal itu kepada Mila, Aqila lanjut berjalan melewati pintu masuk mansionnya. Mila mengangkat kepalanya untuk menatap punggung Aqila yang perlahan menjauh dengan tatapan yang kejam. Berani sekali kau! Lihat saja jika nona Anna kembali, aku akan membalas mu!! batin Mila.


Sekarang Anna telah naik mobil pesanannya. Dia memandang jalanan yang dia lewati melalui jendela mobil.


"Nona, kita telah sampai." ucap supir itu. Aqila langsung melihat ke arah depannya untuk memastikan kata katanya.


"Baiklah, ini uangnya. Kembaliannya untuk paman saja." ucap Aqila sebelum keluar dari mobil itu.


"Nona, terima kasih." ucap supir itu berteriak setelah membuka jendela mobilnya.


Aqila hanya mengangguk dan tersenyum, lalu melanjutkan langkanya menuju kafe yang berada di depannya. Kafe ini merupakan kafe paling populer di kalangan anak remaja. Padahal kafe ini baru buka sekitar satu bulan yang lalu.


Saat Aqila membuka pintu kafe itu, dia melihat betapa ramainya kafe yang dia kunjungi sekarang. Di sini benar benar seperti tempat berkumpulnya anak anak muda jaman sekarang. Mungkin karena dekorasi yang sering berganti ganti sehingga hal itu tidak membuat pelanggan bosan atas suasana kafe.


"Nona!!" Aqila mengangguk mendengar sapaan pelayan kafe yang selesai membersihkan salah satu meja di sana.


"Halo!" pelayan itu segera mendekatinya. "Nona silahkan lewat sini!"


"Nona kita telah sampai. Apakah anda membutuhkan bantuan saya yang lain?"


"Tidak perlu, terima kasih" pelayan itu mengangguk, lalu pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya, meninggalkan Aqila berdiri di depan pintu berwarna coklat muda sendirian.


Tanpa mengetuk pintu, Aqila langsung membuka pintu untuk memasuki ruangan yang berada di dalamnya.


"Siapa yang beran-" ucapan pemilik suara itu langsung berhenti ketika melihat siapa orang yang membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Apa kabar Laila?" ucap Aqila santai dengan berjalan ke arah sofa yang berada di ruangan orang bernama Laila tadi.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Laila sembari berjalan untuk duduk di depan Aqila.


"Aku ada janji dengan seseorang disini. Tapi dia belum datang sehingga aku menyempatkan waktuku yang berharga untuk mengunjungi mu"


Laila membuat wajah seolah olah ingin muntah mendengar perkataan Aqila. "Waktumu yang berharga? Padahal kau hanya akan tidur di mansion mu dan tidak melakukan apapun"


Aqila mendengus tanpa membalas ucapan Laila kembali. "Kafemu sangat ramai sekarang!" ucap Aqila mengganti topik pembicaraan mereka.


"Ya benar, ini semua berkatmu!" ucap Laila mengangguk menyetujui perkataan Aqila.


"Berkatku apa? Ini semua berkat usaha mu sendiri!" ucap Aqila dengan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


"Iya tentu saja itu karena usaha ku sendiri. Tapi itu tidak luput dari bantuanmu yang membuat kafe ini tetap berjalan. Andai saja kau tak meminjamkan uang itu, mungkin sudah lama kafe ini tutup karena aku yang ceroboh!" ucap Laila bernostalgia dengan perjalanan untuk mengembangkan kafe yang tadinya hampir bangkrut hingga menjadi ramai seperti ini.


"Meminjamkan uang apa? Aku berinvestasi kepadamu dan hasilnya sungguh tidak mengecewakan ku!"


"Iya iya, terima kasih" Aqila hanya mengangguk sambil menutup matanya. Dia merilekskan tubuh sambil menyenderkan punggungnya di sandaran sofa.


Laila menatap Aqila. Jika saja dulu dia tidak bertemu dengan Aqila, entah apa yang akan terjadi pada kafe peninggalan orang tuanya dan dirinya. Kalau saja Aqila tidak ada mungkin kafe ini telah di jual oleh pamannya yang seorang pemabuk. Untung saja Aqila ada di sana waktu itu dan membantunya merebut kembali sertifikat kafe miliknya. Dia sangat bersyukur untuk semua yang Aqila lakukan untuknya.


"Jangan menatapku seperti itu!!" ucap Aqila pada Laila sambil membuka matanya. Dia merasa sangat tidak nyaman saat Laila tak kunjung berhenti menatapnya intens.


"Hahaha... Iya maaf, lanjutkan saja istirahat mu. Aku akan melanjutkan pekerjaannya ku" Aqila mengangguk lalu kembali ke posisinya tadi.


Laila hanya menggeleng kepala, lalu beranjak dari duduknya menuju meja kerjanya guna menyelesaikan pekerjaan yang akan segera menumpuk jika dia abaikan.