GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 19



Aqila yang masih berada di belakang pintu mendengar semua apa yang mereka ucapkan. Pada awalnya dia berharap Aulia akan mengetuk pintunya untuk tidur bersama.


Tapi hal itu tak mungkin terjadi karena Aulia lagi dan lagi lebih mementingkan Anna dari pada dirinya. Dia meluruhkan badannya di pintu saat mendengar keputusan Aulia yang membuatnya sangat kecewa.


Aqila menekuk ke dua kakinya, lalu memeluk ke dua kakinya erat, menyusupkan kepalanya di sana. Tanpa terasa air mata membasahi pipinya, buru buru dia membersihkan air matanya yang turun.


Aqila mendongakkan kepalanya menatap ke arah depan. Ia menatap tepat pada foto mereka bertiga yang tergantung di dinding kamarnya. Di sana mereka bertiga tersenyum bahagia karena bisa pergi ke pantai bersama. Dia ingin saat saat itu kembali lagi, saat saudaranya masih sangat memperdulikannya.


Melihat jam, Aqila segera naik ke atas kasur saat jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Melihat langit langit kamarnya sebentar sebelum dia jatuh tertidur tanpa dia sadari.


Aqila terbangun jam setengah tujuh tepat. Matanya terbelalak terkejut melihat pukul berapa sekarang. Ia segera berlari turun tanpa mengganti pakaian tidurnya.


"Kenapa kakek tidak menunggu ku?" tanya Aqila setelah dia sampai di meja makan dengan napas tersengal sengal. David sedikit tersentak, dia benar benar lupa akan cucunya ini.


"Maaf Qila. Tadi aku udah laper banget, jadi aku suruh kakek untuk memulai sarapan paginya lebih dulu." Sebelum David dapat menjawab Anna lebih dulu menjawab pertanyaan Aqila.


Aqila mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Anna. "Aku bertanya kepada kakek, kenapa kau yang menjawab?"


Anna menurunkan pandangan membuat seluruh anggota keluarga berempati padanya. "Qila, Anna benar! Dia sangat lapar tadi jadi kita sarapan terlebih dahulu. Kau tau kan jika dia memiliki sakit maag? Jadi dia tidak bisa telat makan!." ucap Kanaya memberikan pengertian kepada anaknya.


"Benar apa kata Mommy mu Qila." ucap Alina membenarkan perkataan kakaknya, Kanaya.


"Tapikan kalian bisa memanggil pelayan untuk membangunkan ku supaya aku dapat cepat bersiap!" balas Aqila menatap semua orang yang berada di sana.


"Itu akan lama dan mungkin maag Anna dapat kambuh!" jawab Aiden dengan nada datarnya menatap Aqila tanpa ekspresi.


"Setidaknya kalian menyuruh pelayan untuk memberitahu ku terlebih dahulu, kalau kalian tidak ingin menghampiri ku!! Setelah itu kalian mau makan dulu atau apapun terserah!!!" ucap Aqila menatap keluarganya dengan dingin.


"Kalau seperti ini kalian seperti melupakan keberadaan ku sepenuhnya yang berada di mansion ini juga!!. Aku masih keluarga kalian gak sih di sini?!" Mata Aqila terlihat sangat dingin tapi ada kilatan amarah dan kekecewaan di dalam matanya.


Hening. Ruangan itu sangat sunyi setelah Aqila mengucapkan kata katanya. Terlihat Nikolas, Felix dan David mengatupkan bibirnya menahan amarah atas apa yang di katakan Aqila.


Dan para wanita di sana menatapnya sedih serta Aiden yang memalingkan wajahnya ke arah lainnya. Dia merasa sakit atas perkataan yang Aqila ucapkan.


Para pelayan yang berdiri di pinggir ruang makan untuk menyiapkan permintaan makanan yang tuannya inginkan menjadi panas dingin di tempat mereka berdiri.


"Cukup Qila!!" ucap Felix menghentikan Aqila untuk membuka mulutnya lagi.


"Kami tidak bermaksud begitu!" ucap Felix menyangkal perkataan Aqila tadi.


"Kenapa? Kenapa Papa juga membelanya?!" ucap Aqila tak terima dengan menunjuk Anna yang menampilkan raut bersalah pada Aqila.


"Cukup Aqila! Kau terlalu berlebihan!" ucap Nikolas akhirnya angkat bicara karena tidak tahan dengan semua perkataan putrinya.


"Berlebihan dari mana Dad? Kalian yang berlebihan!! Kalian terlalu memanjakannya sejak dia di angkat menjadi anakmu!" ucap Aqila kesal. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


"Oke, cukup Qila. Mari kita lanjutkan sarapan pagi ini!" ucap David tegas sekaligus menengahi perkelahian yang akan terjadi pada ayah dan anak itu.


Ya, mereka semua belum menyelesaikan kegiatan sarapan pagi mereka saat Aqila datang ke ruang meja makan.


"Tidak perlu, aku akan makan di kamar." ucap Aqila menatap Anna yang duduk di kursi miliknya.


"Kenapa lagi Qila? Bukankah kau ingin makan bersama, kenapa kau selalu memperumit segalanya?" ucap Aiden jengah dengan kelakuan kembarannya ini.


Tadi mereka bertengkar karena dia tidak bisa makan bersama mereka dan sekarang saat mereka telah membiarkan dirinya makan bersama dia tak menginginkannya. Sebenarnya apa maunya?.


"Bagaimana aku bisa makan dengan kalian kalau dia saja menempati tempat duduk ku?" ucap Aqila tak terima dengan perkataan Aiden yang seakan akan dia adalah pembuat onar di sini.


Mendengar perkataan Aqila membuat semua orang berpaling menatap kursi yang biasanya di tempati Aqila. Anna menundukkan kepalanya saat dia di tatap semua orang yang berada di sana.


"Qila, kau bisa duduk di sini kalau kau mau? Aku akan mencari kursi lain" ucap Anna dengan menatap Aqila tapi masih tetap duduk di kursi itu tanpa ingin pergi dari sana.


"Tak perlu!! Kau berkata seperti itu seperti aku yang akan merebut sesuatu yang kau miliki, padahal akulah pemilik kursi itu dulu dan kau yang merebutnya dariku!!" ucap Aqila sambil mendengus menatap Anna remeh.


"Cukup Aqila!! Jangan memulai pertengkaran lagi!" ucap David tak tega dengan cucu angkatnya yang di sudut kan oleh cucu kandungnya itu.


"Lihat!!! Kalian selalu tak tega kepadanya padahal sudah jelas jelas dia yang salah!!" Aqila memutar matanya malas saat mendengar ucapan kakeknya, terkesan menyalahkan. Anna hanya bisa memegang alat makannya dengan erat untuk melampiaskan amarahnya.


"Kakak kau bisa duduk di samping kursiku" ucap Andra menawarkan tempat duduk yang berada di sampingnya. Aqila akhirnya mengiyakan untuk duduk dan makan bersama mereka di sana.


Mereka pun segera melanjutkan sarapan pagi yang tertunda karena keributan yang Aqila lakukan pagi ini. Hawa suram memenuhi ruangan itu, membuat para pelayan semakin menundukkan kepalanya merasa tercekik dengan hawa yang di keluarkan oleh majikannya.


Sarapan pagi itu berjalan lancar tanpa adanya pertengkaran yang tidak perlu lagi. Karena hari ini hari libur Nikolas, Felix dan David berada di rumah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga mereka.


Usai sarapan mereka pergi dari sana, ada yang ke kamar, ruang keluarga, taman dan halaman depan mansion.


Aqila segera pergi dari sana untuk membersihkan dirinya. Saat dia bangun tadi, dia tergesa gesa untuk sarapan bersama sehingga dia tidak mandi terlebih dahulu. Sekarang dia merasa gerah jadi dia memutuskan untuk mandi.


Sekitar lima belas menit, Aqila keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bath robe berwarna putih dengan rambut tergerai di belakang.


Dia menuju walk in closet untuk menggunakan pakaiannya. Sekarang dia mengenakan atasan berwarna biru dengan renda putih di lengan dan dadanya. Rok pendek hitam putih dengan motif kotak kotak. Dia menguncir rambutnya dengan kuncir kuda yang menurutnya praktis dan dia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Lalu dia memakai gelang berwarna putih dengan manik manik berwarna biru yang di tengahnya terdapat gantungan bulan di tengahnya. Tidak lupa dia mengenakan parfum di seluruh bagian tubuhnya supaya selalu harum.


Aqila menatap dirinya di cermin untuk terakhir kalinya memastikan dirinya sudah sempurna sebelum keluar dari pintu kamarnya. Dia tersenyum lebar saat merasa dirinya telah cantik dan membuka pintu kamarnya untuk keluar dari sana, mencari di mana keluarganya sekarang berada.