GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 51



Di ruangan Anna tampak ramai dengan kedatangan El, Bian, Kaivan dan Javier yang berkunjung.


Sedangkan anggota keluarganya yang lainnya sedang bekerja. Jadi, Anna hanya di temani oleh saudara saudaranya dan teman teman Aiden yang tiba tiba saja berkunjung untuk menjenguk Anna.


Terlihat Aiden, El dan Bian yang sedang memainkan game di handphonenya masing masing. Ke tiganya membuat ruangan Anna tampak ramai, karena teriakan teriakan mereka. Bahkan sesekali umpatan akan keluar dari mulut mereka saat memainkan game.


Sedangkan Javier terlihat sedang chatting dengan seseorang, entah siapa yang chatting-an dengannya, bahkan Aiden, El dan Bian maupun Kaivan tidak tau. Karena Javier sangat memperhatikan privasinya sendiri. Sehingga kalau itu tidak ada hubungannya dengan yang lain dan hanya merupakan urusannya sendiri, dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun tau.


Di sana juga ada Andra dan Aulia. Andra duduk di samping brankar Anna. Dia sedang mengupas dan memotong motong buah apel untuk dia berikan kepada Anna, walaupun sesekali dia akan memakannya sendiri.


Kaivan duduk di sofa dengan Aulia yang berbaring di pahanya. Dia sesekali menghirup aroma rambut Anna. Dia mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


Aulia yang di perlakukan seperti itu tidak merasa terganggu sama sekali. Dia terlihat menatap ke arah handphonenya dengan sangat serius. Saking seriusnya, dia bahkan sampai mengerutkan dahinya.


Kaivan mengelus dahi Aulia setiap melihat kekasihnya ini melakukan hal itu. Aulia menatap ke atas, ke arah Kaivan yang juga sedang menatapnya. "Ada apa?"


Aulia hanya menunjukkan handphonenya kepada Kaivan tanpa mengatakan apa pun. Kaivan mengangkat alisnya bingung. Dia menatap ke arah Aulia, lalu mengambil handphone yang Aulia sodorkan padanya.


Di handphone itu terdapat dua orang, satu laki laki dan satu perempuan. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Terlihat dari tatapan laki laki itu yang menatap ke arah perempuannya dengan senyuman tulus yang terpatri di bibirnya, walaupun itu hanya senyuman kecil.


Tapi Kaivan yang sesama laki laki tau bahwa laki laki itu sangat menyayangi dan mencintai perempuan itu dengan tulus sepenuh hati.


Kaivan langsung tau apa yang membuat Aulia mengerutkan keningnya setelah melihat gambar yang ada di handphone Aulia.


Perempuan yang ada di handphone itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aqila, kembaran dari kekasihnya, Aulia. Ternyata saat Aulia iseng melihat lihat instagram. Dia juga melihat instagram Aqila, dia menemukan foto itu yang baru saja di upload empat puluh lima menit yang lalu.


"Kenapa hal ini membuatmu kesal?" Kaivan menunjukkan gambar itu kepada Aulia sembari bertanya.


"Tentu saja kesal. Bukankah dia di sana untuk belajar, tapi apa apaan ini?! Dia malah berpacaran!!! Dia bahkan tidak mengabari apa pun sejak dia di sana! Ini bahkan sudah lima bulan sejak dia berada di sana!!" ucap Aulia dengan nada kesal.


Karena nada bicara Aulia yang sedikit meninggi, sehingga membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap ke arah Kaivan dan Aulia termasuk El, Bian dan Aiden.


El, Bian dan Aiden mengira jika Kaivan dan Aulia sedang bertengkar sehingga mereka bertiga melanjutkan permainan mereka. Ke tiganya tidak ingin ambil pusing dengan pertengkaran yang terjadi antara Aulia dan Kaivan. Lagian mereka hanya sebatas teman dalam hubungan ke duanya. Jadi, jika ada pertengkaran seperti itu mereka harus menyelesaikannya sendiri.


"Ada apa, Lia? Kau terlihat kesal dan marah." Anna dengan nada suara yang masih lemah bertanya kepada Aulia.


Aulia berusaha menahan rasa kesalnya saat akan menjawab pertanyaan Anna. Bagaimana pun Anna masih sakit. Jadi, dia harus menjaga saudaranya ini.


"Tidak papa, aku hanya merasa kesal dengan Aqila yang tidak mengabari kami sama sekali sejak dia melakukan program pertukaran pelajar itu!" ucap Aulia dengan wajah di tekuk.


Perkataan Aulia membuat Aiden yang sedang memainkan gamenya tertegun begitupun dengan Andra. Mungkin karena terlalu fokus menjaga dan merawat Anna, mereka melupakan kehadiran salah satu keluarga mereka. Jika saja Aulia tidak membicarakan hal itu, mereka mungkin akan benar benar melupakan keberadaan Aqila yang juga merupakan anggota keluarga Abraham.


Aiden segera mengabaikan game yang sedang dia mainkan dan menatap Aulia dengan serius. "Jadi, apa yang membuatmu kesal seperti itu? Tidak mungkin hanya karena hal itu kan?!"


"Iya. apa Qila menyinggung perasaan mu?!" tanya Anna dengan mata yang terfokus ke arah Aulia.


Mereka yang di sana mulai menaruh fokus mereka ke arah Aulia. El dan Bian juga segera mengabaikan game yang mereka mainkan. Kecuali Kaivan yang terlihat tidak begitu peduli dan Javier yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari handphone yang dia pegang sejak berada di ruangan itu.


Aulia menghembuskan napasnya untuk meredam perasaan kesal dan marahnya kepada Aqila. Dia pun mulai menjelaskan alasan mengapa dia merasa kesal kepada Aqila.


"Yah, kalian benar. Tadi aku melihat instagram Qila, ternyata ada foto yang dia upload beberapa menit yang lalu. Jadi, aku iseng melihat foto itu."


"Lalu apa masalahnya? Bukankah itu hanya sekedar foto?!" tanya Bian tak mengerti.


Memangnya ada apa dengan foto itu hingga membuat Aulia sekesal dan marah seperti itu?


El, Aiden, Andra, dan Anna diam saja tapi di dalam hati, mereka juga menanyakan hal yang sama dengan yang Bian pertanyakan.


Perkataan Aulia membuat El, Bian, Andra, Anna dan Aiden mengerti. Tapi setelah mendengar perkataan Aulia yang menggebu gebu seperti itu semakin menambah rasa kesal di hati mereka masing masing untuk Aqila.


"Um. Mungkin Qila ingin membuat kita marah, karena saat itu kita tidak jadi mengantar ke berangkat nya ke bandara saat itu. Andai saja, aku tidak jatuh sakit waktu itu, pasti Qila akan sangat senang." ucap Anna yang terlihat merasa bersalah. Dia menundukkan kepalanya ke bawah terlihat sangat sedih dengan hal itu.


Perkataan Anna membuat Andra, Aulia dan Aiden sedikit terkejut pasalnya mereka sama sekali tidak mengingat hal itu jika Anna tidak mengungkitnya.


Waktu itu seharusnya mereka sekeluarga mengantar ke berangkat Aqila ke bandara. Tapi karena Anna yang tiba tiba sakit dan harus segera di bawa ke rumah sakit, mereka langsung panik dan meninggalkan Aqila sendirian di mansion. Padahal waktu itu mereka semua telah berjanji untuk mengantarnya. Tapi lagi lagi mereka mengingkari janji itu, yang sangat membuat Aqila kecewa.


"Tidak. Itu bukan salahmu. Lagian siapa juga yang menyangka jika kamu akan tiba tiba sakit seperti itu. Jadi, jangan terlalu merasa bersalah!" ucap Aulia untuk mengurangi rasa bersalah Anna kepada Aqila.


Aulia juga merasa sedikit bersalah dengan kembarannya itu. Karena dia yang marah marah tidak jelas hanya karena Aqila berpacaran di sana. Dia hanya sedang frustasi dan kebetulan foto Aqila membuat dia bisa menumpahkan amarah dan kekesalannya.


"Ya, Anna jangan terlalu dipikirkan. Jika hanya begitu saja Aqila kecewa berarti dia benar benar kekanak kanakan dan tidak dewasa. Bagaimana pun kamu juga tidak menginginkan hal itu terjadi. Jadi, saat itu pasti paman dan bibi mementingkan menyelamatkan nyawa seseorang terlebih dahulu dari pada hanya mengantarkan Aqila ke bandara. Lagi pula Aqila juga sudah dewasa jadi, dia pasti bisa berangkat ke bandara sendiri. Kamu tidak perlu merasa bersalah untuk hal itu!" ucap Aiden menenangkan perasaan bersalah yang Anna rasakan.


"Iya, aku mengerti. Terima kasih karena telah memprioritaskan ku terlebih dahulu dari pada Aqila." ucap Anna dengan tersenyum lemah di bibirnya yang pucat.


"Mungkin bagi kalian janji yang kalian ingkari itu tidak penting. Tapi mungkin saja bagi Aqila janji itu bisa membuatnya senang selama beberapa hari!"


Perkataan yang tiba tiba membuat semua orang yang ada di sana memusatkan perhatian mereka ke arah orang yang bersuara tadi. Dia adalah Javier. Javier yang merasakan semua tatapan mata mengarah padanya, membuat dia mengalihkan pandangannya dari handphone. Mereka menatap ke arah Javier dan Javier menatap ke arah mereka, jadi mereka saling bertatapan.


"Apa maksudmu?!" Aiden mengerutkan keningnya mendengar perkataan Javier.


"Apa? Mungkin saja benar begitu! Jika saja saat itu kalian tidak hanya berfokus pada Anna, kalian tidak akan membuat Aqila kecewa karena hanji yang kalian ucapkan. Bukankah kalian bisa mengantar Aqila terlebih dahulu sebelum menyusul ke rumah sakit? Lagi pula sudah ada paman Nikolas dan bibi Kanaya serta anggota keluarganya lainnya yang menemani Anna ke rumah sakit. Jadi, kenapa tidak kalian saja, sebagai saudaranya yang mengantar Aqila ke bandara?"


Perkataan Javier membuat Aiden, Aulia, Andra, dan Anna terdiam. Ruangan itu sangat hening, tanpa ada seorang pun yang berbicara.


"Satu hal lagi!! Mungkin Aqila memilih mengikuti program pertukaran pelajar itu karena ingin pergi sebentar dari kalian yang selalu mengecewakannya. Dia hanya ingin menghindar dari kalian yang selalu mengabaikannya dan selalu melupakan kehadirannya."


"Lagi pula kalian juga tidak menanyakan kabar atau mengirim pesan kepada Aqila kan? Jadi, kenapa kalian merasa marah saat dia tidak menanyakan kabar kalian di sini? Bukan kah itu konyol!!! Jadi, jangan menganggap kalian yang paling tersakiti hanya karena Aqila tidak menanyakan kabar kalian, karena kalian juga bahkan tidak menanyakan kabarnya di sana!!"


"Aku juga yakin kalian pasti telah melupakannya selama ini. Jika saja Aulia tidak melihat instagram Aqila, pasti kalian semua telah melupakannya kehadirannya dari keluarga kalian!!"


Javier tersenyum remeh menatap ke arah Aiden, Anna, Andra dan Aulia yang terdiam, tanpa bisa membalas perkataannya.


Anna menatap saudaranya yang terdiam. Hal itu membuat Anna menggertakkan giginya diam diam. karena perkataan Javier yang berhasil mempengaruhi Aiden, Andra dan Aulia. Dia juga mengepalkan ke dua tangannya yang berada di balik selimut.


"Sudahlah, kalian pikirkan hal itu baik baik!" ucap Javier yang berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju ke arah pintu.


"Mau kemana kamu?" tanya Aiden setelah terdiam sejenak mencerna semua perkataan yang Javier ucapkan.


"Pulang!!" hanya itu yang Javier ucapkan tanpa membalikkan badannya untuk menatap Aiden. Dia membuka pintu itu dan langsung pergi dari sana.


El dan Bian pun segera tersadar dari lamunan mereka. Dan buru buru menyusul kepergian Javier.


"Er, tungguin!!" ucap El dan Bian bersama sambil berteriak.


"Kita pulang dulu ya Den. Lain kali kita mampir lagi kalau ada kesempatan!!"


Aiden hanya membalasnya dengan menganggukkan kepalanya. Melihat balasan Aiden, El dan Bian segera berlari untuk menyusul Javier yang telah pergi duluan. Kaivan pun yang merasa tidak seharusnya ada di sana juga segera berpamitan untuk pergi.


"Aku juga pergi dulu, baby! Kalau ada sesuatu kamu dapat menghubungi ku." ucap Kaivan dengan mencium pipi Aulia sebelum pergi dari sana.


Sekarang hanya ada saudara saudara Abraham yang berada di ruangan Anna. Ruangan itu tampak sangat hening usai kepergian El, Bian, Kaivan dan Javier. Suasana di ruangan itu terlihat serius dan sedikit ada suasana tertekan di dalamnya.