
Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga, di sana terlihat Aqila yang sudah tampak segar dan cantik setelah dia mandi. Dia berhenti di anak tangga terakhir sambil melihat sekitarnya yang sepi.
Aqila berjalan ke arah ruang keluarga, di sana terdengar ramai bahkan suaranya terdengar di telinga mereka Aqila.
Di ruang keluarga terlihat Aiden yang sedang membujuk Anna supaya mau berbicara dengannya lagi.
"Kenapa kau mendiami ku seperti ini Anna? Apa kesalahanku?" ucap Aiden dengan menunjukkan raut sedihnya yang dia buat buat di depan Anna.
Anna yang melihat itu pun merasa kasihan pada kakaknya ini. "Aku ingin makan es krim! Kenapa kakak melarangnya? Pahala aku sudah sangat lama menginginkannya."
"Kapan aku melarang mu?" Aiden menatap Anna dengan menunjukkan raut bingung, tidak mengerti.
"Kemarin!! Waktu kita olahraga bersama!" ucap Anna kesal dengan mata yang mulai berembun. Aiden yang melihat itu segera membujuknya untuk tidak menangis, kalau Anna sudah menangis dia juga yang susah.
"Baiklah, jangan menangis!! Aku akan membelikannya untukmu nanti." Anna menatap berbinar pada Aiden.
"Benarkah?!" tanya Anna dengan mata memincingkan curiga menatap Aiden. Aiden hanya mengangguk kepalanya mengiyakan.
Anna tersenyum sangat senang dan memeluk Aiden erat, Aiden membalas pelukan itu dengan bibir yang tersenyum tipis.
Langkah Aqila terhenti sejenak melihat pemandangan itu. Dia lalu melanjutkan langkanya di samping Aiden, Anna, Andra dan Aulia yang duduk di karpet untuk duduk di sofa sebelah Felix.
Dia mengambil tablet miliknya yang berada di laci samping sofa untuk memainkannya. Karena akan canggung jika dia ikut bermain bersama saudara kembarnya saat hubungan mereka memburuk.
Yah, kehadirannya pun seperti tidak di anggap oleh yang lainnya, mungkin mereka masih masih dengan pertengkaran yang dia lakukan di pagi hari tadi.
Mereka benar benar menganggapnya tidak terlihat atau bahkan tidak ada? Entahlah dia tidak tau. Tidak ada yang mengajaknya bicara, membuatnya terus terfokus ke pada tablet yang berada di tangannya dari pada melihat interaksi yang mereka lakukan seperti keluarga cemara tanpa ada dia di dalamnya.
Tiba tiba sebuah tangan mengambil tablet yang berada di tangannya. Dia mendongak untuk melihat Aiden yang berada di depannya dengan tabletnya yang berada di tangan kanannya.
Aqila menatap tajam Aiden yang mengganggu dia bermain. "Kenapa lagi sekarang?" Aiden menghela napas dalam menahan emosinya saat mendengar pertanyaan Aqila.
"Apa kau tidak mendengarnya atau kau pura pura tuli sekarang? Anna bertanya padamu!" Aqila memandang Anna yang bertatapan dengannya lalu menurunkan pandangan seolah olah dia takut padanya. Ck menyebalkan.
"Lalu?" Aqila memandang Aiden lagi dengan mengerutkan alisnya, tak mengerti. Aiden yang kesabarannya semakin menipis menghadapi kembarannya ini hanya bisa mengatupkan bibirnya.
Helaan napas keluar dari bibir Aqila. Mungkin dia terlalu banyak berpikir tadi sehingga tidak mendengar pertanyaan yang di ajukan Anna padanya.
"Maafkan aku. Aku benar benar tidak mendengarnya." ucap Aqila dengan menatap Aiden yang juga menatapnya.
Tidak ada yang menghentikan pertengkaran yang mereka lakukan. Semua orang hanya duduk dan menonton yang di lakukan Aiden padanya.
Aiden menatapnya datar lalu mengembalikan tabletnya kembali. Dia duduk lagi di karpet dengan tenang.
"Kenapa?" tanya Anna padanya. Aqila dengan bingung menaikkan alisnya. "Kenapa Qila harus membuat Aiden marah? Apa Qila iri pada Anna? Kenapa Qila pura pura tak mendengar pertanyaan Qila hanya untuk membuat Aiden marah? Kenapa-" ucapan Anna di potong Aqila.
"Stop!! Apa maksudmu aku pura pura tuli hanya untuk memancing amarah Aiden? Dan kenapa pula aku harus iri padamu?! Sungguh tak masuk akal!!" ucap Aqila dengan nada mencibir Anna.
"K-karena semua orang memperhatikan Anna dan mengabaikan Qila. Makanya Qila iri pada Anna karena tidak mendapatkan perhatian mereka lagi." ucap Anna memandang Aqila dengan merasa bersalah pada nya, berbeda sekali dengan apa yang dia ucapkan.
Aqila mengepalkan tangannya sebentar lalu melepaskannya lagi. ucapan Anna membuatnya merasa marah, benar dia iri padanya karena mendapat semua perhatian dan kasih sayang itu, tapi dia tidak akan memperlihatkannya pada Anna yang akan membuat saudara angkatnya ini puas karena kemenangannya.
"Heh!! Aku iri padamu?" ucap Aqila dengan ujung bibirnya yang naik lalu mendekatkan dirinya pada telinga Anna. "Bermimpi lah!!."
Anna mematung di tempatnya mendengar jawaban Aqila apa lagi senyuman itu yang seakan meremehkannya, membuatnya kesal.
Aqila lanjut berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat, dia merasa sangat marah dan kesal sekarang.
"Anna tidak papa. Qila mungkin sedang dalam mood yang buruk" ucap Aulia dengan menuntun Anna untuk duduk.
Anna hanya mengangguk saja dengan pandangan ke bawah. "Hm, bagaimana jika kita ke mall saja? Bukankah Anna ingin es krim?" ucapan Nikolas membuat Anna mengangkat kepalanya menatap Nikolas semangat.
"Benarkah Daddy?" Nikolas mengangguk menatap Anna dengan tersenyum. "Ayo Daddy. Ayo ke mall!!" ajak Anna dengan memegang tangan Nikolas untuk berdiri dari kursinya.
"Tunggu, kami juga akan ikut" ucap Mila di setujui seluruh keluarga.
"Kami akan mengganti pakai terlebih dahulu" ucap Kanaya dengan membawa Anna ke atas untuk membantunya bergantian pakaian.
Sekarang yang berada di ruang tamu hanya ada Felix, Nikolas, David, Andra, dan Aiden. Ruangan itu hening karena mereka hanya diam tanpa mengatakan apapun dengan pandangan ke arah smartphone masing masing sambil menunggu para wanita datang.