GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 46



Bandar Udara Internasional Incheon.


Banyak orang yang terlihat memakai pakaian formal dengan tas kerja di tangan mereka, serta koper di sisi lainnya.


Ada banyak orang yang pergi naik pesawat entah itu untuk perjalanan bisnis ataupun liburan. Tapi tak sedikit turun dari pesawat untuk melakukan tugas mereka masing masing di negeri Ginseng ini.


Salah satunya Aqila dan Vina. Pesawat yang mereka naiki baru saja mendarat dengan rombongan siswa siswi pertukaran pelajar yang lain.


"Wow, sumpah ini seperti mimpi!! Aku tidak percaya akan pergi ke Korea Selatan. Semoga saja aku menemukan suamiku!!" ucap Vina sembari berkhayal.


Aqila yang berada di sampingnya memutar matanya malas dengan tingkah temannya yang satu ini. Dia meraup muka Vina yang terlihat sedang berkhayal itu.


Vina menepis tangan Aqila. Dia mengelap mukanya, lalu memelototi Aqila yang berada di sampingnya.


"Suami suami! Sadar, mereka aja gak tau kalau kamu hidup! Kalau mau halu jangan di sini. Ngerepotin nanti kalau sampai di kira orang gila!!"


Vina memegang dadanya, merasa sakit hati dengan perkataan Aqila yang memang benar adanya.


"Ugh, kamu benar benar menyakiti hati kecil ku, Qila! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal kejam seperti itu?! Benar benar membuat hati ku ini terluka!" balas Vina dengan berpura pura mengelap sudut matanya.


Aqila hanya bisa menggeleng kepalanya. Dia pun segera berjalan mengikuti rombongannya dari pada meladeni drama Vina. Dia benar benar sangat malas meladeni drama dadakan yang di buat oleh Vina. Jika dia mengikuti drama Vina yang ada mereka tidak akan pernah pergi dari bandara ini nantinya. Jadi, dia harus segera menjauh saat Vina telah bertingkah seperti itu, alasan lainnya dia juga merasa malu dengan tingkah Vina.


"Eh eh! Kok aku di tinggal sih? Qila tungguin!!!" teriak Vina dengan berteriak tanpa mengindahkan sekitarnya. Teriakan itu berhasil menarik perhatian beberapa orang di sana untuk melihat ke arah Vina yang sedang berlari menuju Aqila.


Lalu beberapa orang itu segera fokus kembali melakukan tugas mereka masing masing yang tertunda karena teriakan Vina yang menarik perhatian mereka semua.


Aqila segera bergabung dengan rombongan dan berpura pura tidak mendengar teriakkan Vina. Dia benar benar merasa malu sekarang! Bisa bisanya Vina berteriak sekencang itu di tempat ramai seperti ini?! Sepertinya urat malu Vina telah benar benar putus, sehingga dia melakukan hal seperti itu.


Vina terus berlari untuk menjangkau Aqila yang sudah berada di depannya bersama rombongan mereka yang lain.


"Huh huh huh. Bentar... Tunggu bentar Qila.... Huh aku capek," ucap Vina saat sudah memegang pundak Aqila.


Aqila menyingkirkan tangan Vina yang berada di pundaknya, lalu dia berkata, "Untuk apa kamu berteriak seperti itu?!" Aqila berkata dengan suara tertahan pada Vina yang berada di hadapannya.


"Ish! Kalau aku tidak berteriak, kamu tidak akan mendengarnya! Tadi saja walau aku sudah berteriak kamu sama sekali tidak menoleh ke arahku sedikitpun!!" Vina melipat ke dua tangannya dengan wajah cemberut dengan mata yang melirik Aqila dari sudut matanya.


Aqila menepuk dahinya. Dia benar benar tak habis pikir dengan tingkah Vina. Ada saja yang dia lakukan. Bukannya dia tidak ingin menunggu Vina. Hanya saja dia malu saat Vina berteriak sekencang itu hingga menarik perhatian orang orang sekitar, apa lagi ini di negara asing dan bukannya negara sendiri.


"Teriakan mu itu membuatku malu. Kalau mau berteriak lihat kondisi sekitarmu dulu!!" balas Aqila yang menatap sebal Vina.


"Yah, salah sendiri, kamu malah meninggalkan ku. Kan aku refleks teriak supaya kamu berhenti!" ucap Vina dengan menggaruk pipinya, merasa sedikit bersalah. Dia tiba tiba saja tersadar kalau mereka sekarang masih di tempat umum, sehingga berteriak di keadaan yang seperti itu sungguh memalukan.


Aqila hanya menampilkan wajah datar dengan tangan yang terlipat di dadanya. Dia mengalihkan perhatian pada guru pembimbing mereka yang sedang menjelaskan hal hal yang akan mereka lakukan selama di sini.


Melihat Aqila yang tidak menanggapinya, dia pun juga memusatkan perhatiannya pada penjelasan yang sedang di berikan oleh guru pembimbing mereka.


Sedangkan di rumah sakit, Jakarta. Di salah satu ruangan VIP yang sangat besar dan memiliki fasilitas mewah, di sana sedang terbaring seorang perempuan berwajah pucat dengan ke dua matanya yang tertutup.


Di sekeliling ruangan itu terdapat beberapa orang yang bisa kita katakan keluarga dari perempuan yang terbaring di brankar.


Yap benar, mereka adalah keluarga Abraham yang sedang menunggu Anna. Terlihat wajah wajah khawatir keluarga Abraham yang berada di ruangan itu.


"Bagaimana? Bagaimana keadaan Anna Nik?" tanya Kanaya kepada suaminya yang baru saja masuk usai berbincang tentang penyakit Anna dengan dokter.


Nikolas menghela napas sejenak sebelum memberitahu keluarganya tentang hal yang ia dan dokter bicarakan. Helaan napas Nikolas membuat seluruh orang yang berada di sana menahan napas mereka.


"Sekarang Anna telah naik baik saja, tapi..."


"Syukurlah!" ucap Kanaya memotong perkataan Nikolas yang belum selesai.


Seluruh keluarga juga terlihat sedikit lega dengan kabar yang baru saja Nikolas sampaikan.


"Tapi apa kakak ipar?" tanya Alina yang masih penasaran dengan lanjutan dari perkataan suami kakaknya.


Seluruh keluarga juga segera memusatkan kembali perhatian mereka kepada Nikolas yang terlihat kesulitan untuk menyampaikan kabar berikutnya.


"Tapi .... Tapi kita harus segera menemukan jantung yang cocok dengan Anna. Karena jantung Anna sudah rusak cukup parah dan dapat mengancam hidupnya. Jadi, kita harus segera melakukan operasi transplantasi jantung!!"


Perkataan Nikolas bagaikan petir yang mengguncang seluruh dunia mereka. Wajah wajah keluarga Abraham terlihat pucat mendengar kabar yang baru saja Nikolas ucapkan.


"Bagaimana ini Nik? Aku... Aku sama sekali tidak ingin kehilangan putriku!!" ucap Kanaya dengan menutup mulutnya dengan ke dua tangan. Air mata terus menetes dari ke dua matanya tanpa bisa dia cegah.


Nikolas segera mendekat pada Kanaya, lalu dia memeluk tubuh istrinya yang bergetar. Anggota keluarganya yang lainnya juga terlihat menangis tersedu sedu mendengar kabar itu.


"Tenanglah!! Anna itu kuat, dia pasti bisa bertahan dari penyakitnya ini. Kamu juga harus kuat supaya dapat mendukung Anna!!!" Nikolas berkata dengan lembut sembari mengelus punggung istrinya.


Dia juga merasa sangat sedih ketika dokter menyampaikan kabar itu padanya. Tapi dia adalah tulang punggung keluarga, jika dia sedih siapa yang akan memberikan dukungan kepada istri dan anaknya? Siapa yang akan memenangkan mereka? Hal itu lah yang membuatnya bertahan saat ini.


Suasana di dalam ruangan itu sungguh menyesakkan. Suasana sedih dan tertekan sangat terasa jelas di ruangan VIP itu.


"Apa... Apa aku tidak akan bisa hidup lebih lama lagi?"


Pertanyaan yang tiba tiba saja datang, membuat seluruh keluarga Abraham mengalihkan perhatian mereka ke asal suara.


Di brankar terlihat Anna yang menatap pada keluarganya dengan mata berkaca kaca. Dia mendengar perkataan Nikolas yang menyatakan bahwa hidupnya akan terancam, jika tidak segera mendapatkan pendonor jantung yang cocok untuk dirinya. Dia benar benar merasa sedih dan marah.


Seluruh keluarga Abraham langsung bergegas mendekat ke arah brankar Anna untuk mengecek keadaannya.


"Sayang, semua akan baik baik saja! Jangan khawatir kakek, ayah dan papa mu akan mencarikan pendonor jantung yang cocok untukmu. Jadi, tenanglah dan beristirahat saja!!" ucap David menenangkan cucunya itu.


"Be.... Benarkah kakek?! Kakek akan segera menemukan pendonor jantung untukku?!"


"Ya, tentu saja. Jadi, jangan khawatirkan apa pun!" balas Felix dengan mengelus rambut Anna dengan penuh kasih sayang.


"Ya, kakak. Jangan terlalu memperdulikan hal itu! Yang penting sekarang menjaga tubuhmu akar tetap sehat!!" ucap Andra dengan tersenyum. Matanya memerah menahan tangis. Dia harus kuat agar kakaknya ini juga tidak menyerah dengan kondisinya yang sekarang.


"Terima kasih, karena kalian selalu menjagaku dan merawat ku seperti ini. Aku benar benar merasa senang dengan kehadiran kalian dalam hidupku!" ucap Anna menatap keluarganya dengan matanya yang memancarkan ketulusan hatinya.


Kanaya dan Nikolas serta yang lainnya tidak dapat berkata apa apa setelah mendengar perkataan Anna yang sangat tulus itu. Mereka merasa akan menangis jika mereka membuka mulutnya saja.


Bagaimana bisa tuhan memberikan penyakit seperti itu pada anak sebaik ini?


Pikir seluruh keluarga Abraham yang merasa kasihan dengan kondisi Anna yang sekarang benar benar sangat lemah. Mungkin itu karena jantungnya yang hampir kehilangan fungsinya yang membuatnya seperti itu.


"Kamu juga sangat beruntung bisa memilikimu di keluarga ini!" balas Kanaya dengan tersenyum dan memeluk tubuh Anna erat. Anna pun membalas pelukan Mommy nya ini dengan ke dua mata yang terpejam, menikmati pelukan Kanaya.