
Di mansion Abraham terlihat suasananya sangat mencekam dan menakutkan. Sejak Anna sakit, suasana mansion selalu seperti itu. Sama sekali tidak ada kehangatan yang terpancar dari mansion itu.
Aqila memandang ke atas, menatap bangunan indah dan megah seperti istana. Dia menatap bangunan yang ada di depannya dengan penuh kerinduan.
Aqila sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan telepon dari Mommy-nya, Kanaya. Apa lagi suara Kanaya yang terdengar cemas saat menelponnya yang membuatnya saat khawatir dengan keadaan keluarganya.
Kanaya menelpon Aqila untuk segera pulang, kembali ke Indonesia. Hal itu makin menambah rasa cemas dan khawatir di hati Aqila saat Kanaya tidak memberitahukan alasan kenapa dia harus segera pulang.
Aqila mengira terjadi sesuatu pada keluarganya, saat dia mendengar suara yang terdengar sangat risau dari sebrang telepon. Jadi, tanpa pikir panjang Aqila langsung membeli tiket penerbangan ke Indonesia yang tercepat hari itu.
Vina tidak setuju, saat dia mendengar bahwa Aqila akan pulang lebih awal. Vina merasa perasaannya tidak enak. Dia merasa takut jika Aqila kenapa kenapa. Apa lagi sekarang dia berada di Korea Selatan. Jadi, tidak mungkin dia bisa membantu Aqila saat terjadi sesuatu di keluarganya nanti.
Meskipun Vina terus membujuk untuk pulang setelah menyelesaikan studinya di sini. Tapi Aqila kekeh dengan keputusannya. Apa lagi Aqila terlihat tergesa gesa saat menyimpan barang barang untuk di bawa pulang. Hal itu membuat Vina menghela napas pasrah dan tidak membujuk Aqila lagi.
Daniel, Vina, Laura dan Vincent mengantarkan Aqila ke bandara. Mereka saling berpelukan satu sama lain dan berjanji akan segera menemuinya saat mereka telah menyelesaikan studinya di sini.
Aqila menatap Vincent dengan mata berkaca kaca, dia sebenarnya sedikit enggan meninggalkan Vincent. Bagaimana Vincent adalah kekasih pertamanya dan cinta pertama. Oleh karena itu, dia tidak ingin di pisahkan dari Vincent.
Apa lagi selama di sini mereka selalu bersama, mungkin kalau pun terpisah itu hanya di sekolah saja. Selain di sekolah mereka selalu bersama. Dan lagi ke duanya tinggal di atap yang sama membuat Aqila merasa bahwa Vincent dan dirinya seperti pasangan yang resmi. Tanpa Vincent Aqila merasa sedikit kesepian.
Vincent memandang kekasihnya sejenak, lalu dia memeluknya dengan erat. Walau pun cuek Vincent dan seakan tidak peduli, tapi sebenarnya Vincent sangat mencintai dan menyayangi Aqila. Bahkan dia merasa sedikit kecewa dan sedih mendengar keputusan kekasihnya itu yang ingin segera pulang.
Tapi dia tahu saat melihat kekasihnya yang cemas dan khawatir usai menerima telepon dari keluarga itu, pasti Aqila ingin melihat sendiri keadaan keluarganya sekarang. Vincent memendam rasa sedih dan kecewanya dalam dalam. Dia akhirnya membantu Aqila membereskan barang barangnya. Dan ikut mengantarnya ke bandara.
Aqila memeluk tubuh Vincent tak kalah erat. Dia merasa ini terakhir kalinya dia dapat melakukan hal itu dengan kekasihnya ini. Dan entah kenapa Vincent juga merasakan hal yang sama.
Mereka berdua saling mengeratkan pelukan masing masing. Hal itu membuat Daniel, Vina dan Laura merasa heran dengan sepasang kekasih itu.
"Sampai kapan kalian akan terus berpelukan seperti itu?" tanya Vina dengan memutar ke dua bola matanya.
Mendengar perkataan Vina membuat Vincent dan Aqila melepaskan pelukan mereka. Aqila menatap wajah Vincent dengan tangan kanan yang memegang sisi wajahnya.
Vincent memegang tangan kanan Aqila yang berada di wajahnya. "Semua akan baik baik saja. Tidak akan terjadi apapun. Kita pasti akan bertemu lagi"
Perkataan Vincent membuat hati Aqila terasa lega. Tapi di sisi lain hatinya dia merasa itu tidak akan mungkin terjadi. Aqila mencoba menepis jauh jauh perasaan itu.
"Iya, tentu saja. Aku akan menunggumu di sana!!" ucap Aqila sambil tersenyum.
Vincent balas tersenyum tipis lalu mencium ke dua pipi Aqila. Karena tindakan Vincent membuat Aqila tertegun sejenak. Bahkan Daniel, Vina dan Laura tercengang.
Aqila tersadar dan tersenyum lebar menatap Vincent. Dia juga membalas dengan melakukan hal yang sama kepada ke dua pipi Vincent. Tindakan Aqila membuat Vincent tersenyum.
"Udah sana!! Jangan mesra mesraan di sini dong!"
Aqila menatap Daniel, Vina, Laura dan Vincent orang yang paling dia sayangi. Aqila menatap teman temannya itu sejenak.
"Baiklah, aku akan masuk ke pesawat sekarang!!" ucap Aqila.
Laura dan Vina memeluk Aqila sebelum dia pergi dari hadapan mereka. Daniel dan Vincent juga ikut memeluk mereka bersama.
Bahkan Aqila, Laura dan Vina meneteskan air mata. Mereka merasa tidak rela untuk berpisah. Walaupun mereka tahu akan bisa bertemu Aqila lagi, tapi mereka sedikit enggan mengirim Aqila intim kembali kekeluargaannya.
Bagaimana pun sebagai teman baik selama beberapa bulan ini, membuat mereka semua saling mengetahui kondisi keluarga masing masing. Jadi, pertemanan di antara mereka sangat erat dan akrab tanpa ada yang di sembunyikan satu dengan yang lainnya.
"Hati hati! Jika terjadi sesuatu, tolong hubungi kami!!" ucap Laura dengan air mata yang menetes.
"Ya, tentu saja. Kalian juga Baim baik di sini. Jaga kesehatan kalian!!"
Usai percakapan itu, Aqila segera masuk ke dalam pesawat. Karena sebentar lagi pesawat itu akan lepas landas.
Daniel, Vina, Laura dan Vincent menatap pesawat Aqila hingga tak terlihat lagi dari jangkauan mata mereka.
"Entah mengapa aku merasa ini terakhir kalinya kita bisa bertemu Aqila!" ucap Laura tiba tiba dengan mata yang masih menatap langit.
"Apaan sih!? Jangan ngomong yang aneh aneh deh!!" ucap Vina menepuk lengan Laura keras, memprotes perkataan Laura tadi.
"Ish, sakit tahu!!"
"Udah lah. Jangan mikir yang aneh aneh, kita pasti bisa bertemu Aqila lagi!!" ucap Daniel menengahi.
Mendengar perkataan Daniel membuat Vina dan Laura segera menghentikan pertengkaran mereka.
Sebenarnya di dalam hati mereka semua membenarkan perkataan Laura. Bagaimana pun mereka juga merasakan hal yang sama yang di rasakan oleh Laura. Tapi sebisa mungkin mereka menyangkalnya dan berusaha memikirkan hal hal positif.
"Udah, ayo pulang!"
Akhirnya mereka semua berbalik dan pergi dari bandara. Vincent menatap ke belakan lagi sebelum pergi. Lalu tanpa mengatakan hal apapun dia menyusul langkah yang lainnya yang sekarang sudah ada di depannya.
Dan di sini lah Aqila, di depan pintu utama mansionnya. Suasana di sekeliling mansion itu tampak suram dan menyeramkan.
Aqila membuka pintu utama mansionnya. Dia berjalan dengan menatap sekeliling yang masih sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Kecuali, suasana yang sangat hening ini.
Biasanya akan ada pelayan yang sedang membersihkan rumah, tapi sekarang mansionnya ini sangat sepi. Sehingga dia dapat mendengar suara langkah kakinya sendiri.
Saat akan berjalan ke kamarnya, Aqila melihat semua keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga. Dengan perasaan rindu dan senang, dia menghampirinya keluarganya di ruang keluarga.