
Saat ini, seluruh anggota keluarga Abraham tengah berada di ruang keluarga untuk bersantai, setelah mereka menyelesaikan kegiatan makan malam. Lebih tepatnya hanya para wanita yang sedang bersantai dengan menonton tayangan yang berada di televisi sedangkan para pria masih memegang laptop di masing masing pangkuan mereka.
Terlihat Aiden dan Andra yang tengah menatap tablet untuk memainkan game di dalamnya. Annabella, Aulia dan Aqila sedang duduk bersama di sofa panjang. Dengan posisi duduk Aulia yang berada di tengah antara Annabella dan Aqila.
"Lia, diam lah!" ucap Anna melihat Aulia tertawa kecil, tanpa berniat berhenti. Interaksi mereka membuat para wanita melihat ke mereka berdua.
"Ada apa? Kenapa kamu tertawa Lia?" tanya Kanaya. Aulia mengendalikan tawanya, kemudian dia berkata, "Anna Mom. Tadi dia bil-" Anna langsung menerjang tubuh Aulia untuk menutup mulutnya.
Aulia meronta ronta saat Anna menutup mulutnya. Anna yang melihat itu segera melepaskan tangannya pada mulut Aulia.
"Ish, hampir saja aku sesak napas!" ucap Aulia menatap kesal kepada Anna yang hanya tersenyum canggung.
"Ya, maaf" ucapnya sambil memajukan bibirnya sedikit.
"Huh!" Aulia memalingkan kepalanya kesamping yang kebetulan bertatapan dengan Aqila. Aulia melihat kembarannya itu menatapnya datar. Entah karena apa.
Anna yang melihat respon Aulia tersentak dan menundukkan kepalanya. Para wanita yang berada di sana cemas melihat pertengkaran mereka.
"Lia sudah ya, Anna tadi tidak sengaja." ucap Emily menengahi perkelahian di antara mereka berdua. Perkataan Emily membuat Aulia mengalihkan pandangannya dari tatapan datar saudaranya kembarnya pada dirinya.
Dia menatap Emily sejenak dan menatap Anna yang menundukkan kepalanya menyesal. Aulia merasa bersalah melihat Anna yang menunduk, niatnya tadi hanya bercanda dan dia tidak serius marah dengan saudara angkatnya ini. Mana bisa dia bertengkar dengan Anna yang imut dan lucu seperti itu.
Aulia segera memeluk Anna dengan erat. "Maaf. Aku tidak bermaksud marah padamu, aku tadi hanya bercanda!." ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya, aku tau. Maafkan aku tadi ya?" ucap Anna memeluk erat kembali saudaranya itu. Aulia hanya menganggukkan kepalanya, memaafkan perbuatan Anna kepadanya.
Para wanita bahkan para laki-laki termasuk Aiden dan Andra yang berada di sana tersenyum tipis melihat ke dekatan mereka, walaupun mereka hanya saudara angkat tapi mereka sangat dekat. Aqila hanya memandang mereka datar dan tak ada yang memperhatikan wajahnya. Ah, atau lebih tepatnya mereka menghiraukan keberadaannya lagi!.
"Baiklah ini sudah malam. Kembalilah ke kamar kalian masing masing!" ucap David. Segera para anak anak berdiri dan mencium semua orang yang berada di sana lalu mengucapkan selamat malam pada mereka semua dan kembali ke kamar masing masing.
Aqila sekarang sedang berada di depan wastafel setelah membasuh buka dan menggosok giginya sebelum tidur, itu merupakan kebiasaan yang di terapkan oleh Kanaya padanya.
Dia menatap pantulannya wajahnya yang berada di cermin, entah kemana pikirannya melayang sekarang karena dia hanya menatap kosong ke pantulan wajahnya yang berada di cermin.
Aqila mengerjakan matanya berkali kali setelah tersadar dari lamunannya. Dia segera mengganti bajunya dengan baju tidur bermotif beruang. Tersenyum ke arah dirinya sendiri yang ada di cermin, melihat dirinya sendiri yang tampak cantik dan manis.
Dengan perasaan bersemangat dia bersenandung, membuka pintu kamarnya untuk menuju kamar Aulia. Aulia telah berjanji padanya tadi siang untuk tidur bersama malam ini untuk menebus karena tadi dia tidak bisa bermain bersamanya yang membuatnya sangat sangat senang dan bersemangat, saking bersemangatnya dia bahkan tidak pernah melunturkan senyumannya.
Saat ini, dia berada di depan pintu Aulia. Dia mengetuk pintu Aulia sedikit keras. Karena tak segera di buka, Aqila mengetuk pintu itu lebih keras lagi. Karena lelah terus mengetuk pintu, dia mencoba membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci.
Dia merenggut sebal, kalau tau dari tadi pintu itu tidak di kunci, dia akan langsung membukanya tanpa menunggu. Aqila masuk ke dalam kamar Aulia, melihat sekeliling kamar yang sangat sepi.
Kamar mandi dan ruang pakaian Aqila buka tapi tetep tak dapat menemukan saudara kembarnya. Raut panik tergambar jelas di wajahnya. Dia keluar dari kamar itu yang kebetulan berpapasan dengan dua pelayan yang keluar dari kamar Anna.
"Tunggu sebentar, apa kalian melihat Aulia?" pertanyaan Aqila membuat ke dua pelayan itu saling berpandangan.
"Ada apa?" tanya Aqila lagi saat melihat respon ke dua pelayan itu. "Maaf, nona tapi non Aulia berada di kamar non Anna. Katanya mereka akan tidur bersama malam ini. Dan memanggil kamu untuk membawakan beberapa camilan." ucap salah satu pelayan sambil menundukkan kepalanya.
Terdiam sejenak Aqila mendengar perkataan pelayan itu. "Baiklah, terima kasih. Kembalilah!" Aqila berkata sambil tersenyum tipis kepada ke dua pelayan yang membungkukkan badannya dan berlalu pergi meninggalkannya sendiri menatap pintu kamar Anna.
Akhirnya Aqila memutuskan untuk mengetuk pintu Anna. Setelah ketukan ke tiga dia mendengar pintu yang di buka dari dalam.
"Qila ada apa? Kenapa malam malam kamu ke kamar ku?" tanya Anna pada Aqila yang berada di depan pintu kamarnya tanpa menyuruhnya masuk.
"Aku ingin melihat Lia. Dimana dia?" tanya Aqila dengan menatap Anna yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Kenapa kau lama sekali?! Filmnya sudah akan di mulai!" Aulia terlihat muncul dari balik pintu setelah melemparkan pertanyaan ke Anna.
"Katanya Aqila ingin melihatmu!" ucap Anna dengan menengok ke belakangnya yang terdapat Aulia di sana.
Aulia dan Aqila saling bertatap sejenak, setelah itu Aqila pergi tanpa mengatakan apa pun. Aulia tertegun dia lupa jika, dia memiliki janji untuk tidur bersama adik kembarnya malam ini. Itu pasti akan membuat Aqila kecewa jika dia mengingkari janjinya.
Langkah Aulia yang akan menyusul Aqila terhenti saat tangannya di genggam oleh Anna. "Ada apa, Lia? Bukankah kita akan melihat film bersama, apakah kau ingin meninggalkanku sendirian?" ucap Anna cemberut.
"Aku harus menyusul Qila! Aku telah berjanji untuk tidur bersamanya malam ini." ucap Aulia berhadapan dengan Anna.
"T-Tapi aku juga ingin kau tidur bersamaku!?" Aulia mengernyitkan dahi saat mendengar perkataan Anna.
"Kau tau kan aku tidak bisa tidur kalau tidak ada orang yang ku kenal di dekatku?" Anna langsung melanjutkan perkataannya saat melihat respon Aulia terhadap perkataannya tadi.
"Kau sudah tiga bulan di sini, masa kamu masih takut? Bagaimana kalau kita sudah besar nanti, pasti kita tidak akan lagi berbagi tempat tidur." Perkataan Aulia membuat Anna menundukkan kepalanya.
"Bukankah itu sama dengan Qila, tapi kenapa kau ingin menemaninya? Apakah karena aku anak angkat sehingga kau tidak ingin menemani aku tidur lagi?" tanya Anna dengan kepala tertunduk.
Aulia tersentak mendengar perkataan Anna. Dia tidak menganggap Anna sebagai saudara angkatnya tapi sudah seperti saudara sama seperti kembarannya sendiri. Dari mananya dia berpikir dia menganggapnya saudara tiri saat dia bahkan mengutamakannya dalam segala hal.
Memang selalu tiga bulan ini Aulia dan Anna selalu tidur bersama karena Anna yang memintanya. Selama itu juga hubungan mereka menjadi dekat, bahkan dalam beberapa hal mereka sama. Sehingga dia seperti menganggap Anna adalah saudara kembarnya dari pada Aqila yang terlalu pendiam dan penyendiri.
Air mata Anna turun membasahi pipinya yang membuat Aulia langsung memeluknya merasa bersalah. Aulia terlihat mengatupkan rahangnya, sebelum berkata, "Baiklah, jangan aku tidak akan jadi tidur dengan Qila. Aku akan menemanimu tidur!"
Anna langsung mengangguk dalam pelukan Aulia. Dia menatap Aulia yang juga tengah menatapnya, Aulia mengusap air mata yang akan jatuh di pipi saudaranya itu.
"Baiklah, ayo masuk!" ucap Anna bersemangat dengan tersenyum. Aulia mengangguk melihat pintu kamar Aqila yang tertutup. Sungguh dia menyesal karena telah berjanji seperti itu kepada kembarannya tapi tak dapat dia tepati, membuatnya merasa sesak.
"Maaf" ucap Aulia dengan menundukkan kepalanya sebelum memasuki kamar saat mendengar Anna memanggilnya.