GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 26



Tak terasa dia telah sampai di depan gerbang mansionnya berada. Gerbang itu terbuka dengan sendirinya, setelah penjaga gerbang menekan tombol untuk membuka gerbang itu yang membuatnya bisa masuk ke dalam halaman mansion.


Aqila perlu beberapa menit hingga sampai di depan pintu mansionnya. Dia membuka pintu masuk mansionnya untuk dapat masuk ke dalam.


Plak


Tiba tiba pipinya terasa panas setelah membuka pintu itu. Dia mendongak untuk melihat Daddy-nya yang telah berada tepat di depannya.


"Kenapa Daddy menamparku?" ucap Aqila menatap Nikolas dengan salah satu tangan yang berada di sekitar pipi kanannya. Bekas tamparan dari Daddy-nya.


Dia benar benar bingung di sini. Lagi pula dia baru saja pulang dan langsung mendapatkan tamparan? Bukankah ini gila? Kenapa Daddy menamparnya padahal dia tak melakukan apapun yang bisa membuat Daddy-nya ini marah. Ini membuatnya sedikit marah pada Daddy-nya.


Ini adalah pertama kali baginya untuk di tampar oleh keluarganya sendiri. Walaupun biasanya mereka mengabaikannya dan menganggap tidak ada, tapi mereka tidak akan main tangan padanya.


Dan ini terasa lebih menyakitkan dari pada lukanya akibat di benturkan oleh Elvano. Tamparan dari Daddy-nya ini benar benar membuat hati dan pipinya sangat sakit.


"Kamu masih bertanya?! Kenapa kau membully Anna!!" bentakan dari Nikolas membuat tubuh Aqila seketika tegang, dia sedikit terkejut dengan bentakan Nikolas padanya.


Di belakang Nikolas dia melihat saudaranya, Mommy, Papa Felix, Mama Alina, Andra, Kakek, Nenek dan Oma nya berdiri di sana.


"Kapan? Kapan aku membully nya? Aku tak pernah melakukan itu!" ucap Aqila dengan sedikit meninggikan suaranya.


Dia melihat Anna yang di kelilingi oleh seluruh keluarganya. Anna juga terlihat sangat menyedihkan, dia bahkan tidak berani menatap ke arahnya dan memilih menatap lantai. Itu membuat dia seakan akan takut padanya.


Plak


Sekali lagi tamparan Nikolas mendarat di pipi sebelah kiri Aqila. Darah terlihat mengalir dari sudut bibir Aqila, membuktikan betapa kuatnya Nikolas menampar Aqila.


Aqila menundukkan kepalanya setelah tamparan Nikolas yang ke dua kalinya. Tanpa sadar Aqila membuka sedikit bibirnya. Dia sungguh tercengang dengan tindakan Nikolas hari ini padanya.


"Jangan sekali kali kamu meninggikan suaramu di hadapan ku!!" ucap Nikolas dengan menggeram marah.


Aqila mengatupkan rahangnya, menahan amarah yang berada di dalam hatinya. "Ya Dad. Maaf, karena telah membentak mu" ucap Aqila dengan menurunkan pandangannya sekaligus mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Yah, ini mungkin robek.


"Jadi, katakan kenapa kau membully Anna hari ini!!" Aqila mengangkat kepalanya untuk melihat Nikolas yang berada di depannya.


"Aku tak melakukan apapun padanya hari ini Dad. Percayalah padaku!!" ucap Aqila dengan mata yang menatap Nikolas sedih.


Nikolas yang melihat tatapan sedih dari putrinya membuat hatinya sedikit goyah. Dia merasa keterlaluan kali ini, karena telah main tangan dengan putrinya.


"Sudah Dad. Ini bukan salah Qila, ini salahku sendiri karena tidak berhati hati saat berjalan" ucap Anna berjalan menghampiri Nikolas.


"Lukanya juga sudah baik baik saja, Dad. Jadi, tak perlu mempermasalahkan ini lagi" lanjutnya dengan menggandeng lengan Nikolas.


Melihat luka di dahi Anna membuat Nikolas merasa kasihan padanya. Dia juga telah berjanji di hatinya, agar bisa adil memperlakukan putrinya yang satu ini. Supaya Anna tidak merasa di perlakukan berbeda meski dia hanya putri angkatnya.


"Daddy tidak mempercayai ku? Aku tidak melakukan apapun padanya, Dad" ucap Aqila dengan mengepalkan ke dua tangannya di samping badan.


"Daddy mempercayaimu Qila. Tapi tidak ada salahnya bukan, jika kamu meminta maaf pada Anna!!"


Perkataan Nikolas telak menghancurkan hatinya. Kalau Daddy-nya ini benar benar mempercayainya, seharusnya dia tak akan memintanya meminta maaf pada Anna atas perbuatan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan.


Dia mencoba melihat ke belakang untuk menatap seluruh keluarganya. Tapi sayang sekali, mereka semua menghindari tatapannya. Tidak ada yang mempercayainya.


Kenapa? Kenapa kalian lebih mempercayai ucapan Anna dari pada aku? Bahkan kalian tidak memperhatikan jika aku mempunyai luka yang sama dengan Anna. Kalian bahkan tidak menanyakan apapun tentang kondisiku!!.


"Kalau Qila tidak mau minta maaf, tidak papa aku mengerti" ucap Anna dengan pandangan seolah olah mengerti keadaannya.


Ah, dia melihat seluruh anggota keluarganya mengerti tidak puas atas keterdiamannya untuk meminta maaf kepada Anna.


"Qila!!" ucap Nikolas penuh peringatan. seluruh keluarganya menyuruhnya menundukkan kepalanya kepada Anna dan meminta maaf padanya. Ini sungguh membuatnya muak.


"Dad, aku tidak papa. Kalau Qila tidak ma-"


"Aku minta maaf" tiba tiba Aqila memotong perkataan Anna. Anna hanya tersenyum dengan mengerutkan keningnya.


"Ya Qila? Apa? Maaf aku tidak mendengarnya" perkataan Anna membuat Aqila menatap tajam padanya dengan mengerutkan keningnya.


"Aku minta maaf, karena telah membuatmu terjatuh" ucap Aqila sedikit menaikan suaranya dengan gigi terkatup marah.


"Iya Qila tidak papa, aku memaafkan mu" ucap Anna dengan tersenyum menjijikan di matanya. Dia sungguh muak dengan senyuman saudara angkatnya ini.


Aqila melihat rasa kemenangan di mata Anna. Anna benar benar membuatnya seperti antagonis dalam cerita yang dia buat sendiri. Tapi yang paling menyebalkannya lagi adalah dia yang tidak dapat melakukan apapun untuk membalas dendam.


"Baiklah, karena ini telah selesai sebaiknya kita semua masuk ke dalam" ucap Kanaya dengan menggandeng tangan Nikolas dan Anna untuk masuk ke dalam mansion.


Dia menatap keluarganya dengan tatapan kacau, cemas, marah, gelisah menjadi satu. Dia melihat Kanaya menggandeng Anna dengan penuh kehangatan untuk memasuki mansion.


Dia berharap Kanaya ataupun keluarganya yang lain membalikkan badan mereka untuk memanggilnya masuk ke dalam mansion bersama. Walau pun itu hanya sebuah panggilan ajakan tanpa menggandeng tangannya seperti yang mereka lakukan pada Anna.


Dia merasa baik baik saja dengan itu, karena kalau salah satu dari mereka memanggilnya berarti masih ada yang cukup peduli dengan ke hadirannya di dalam keluarga itu. Sungguh itu cukup untuknya, dia tak akan berani untuk mengharapkan lebih dari ini. Tapi sayang sekali harapannya tidak terkabulkan, karena mereka terus berjalan ke depan tanpa berniat membalikkan badan untuk memanggilnya.


"Hah, apa yang kamu harap kan Qila? Jangan mengharapkan apapun pada merek!! Mereka tidak lagi memperdulikan mu!!!" Aqila melihat punggung seluruh keluarganya yang memunggunginya.


Aqila langsung membalikkan badannya tidak ingin masuk ke dalam mansion ini. Dia ingin pergi dari sana. Tapi di satu sisi dia tidak ingin kehilangan keluarganya. Walaupun dia hanya menjadi pengamat dalam keharmonisan keluarganya.


Ah, sepertinya dia harus pergi sebentar untuk menenangkan dirinya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan keluarga terutama di depan Anna. Dia tidak ingin melihat Anna menang saat melihatnya seperti ini.