GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 21



"Ayo Lia, kita ke time zone!" seru Anna bahagia. Aulia hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalanya pasrah karena tangannya sedari tadi di tarik ke sana sini oleh Anna.


"Hati hati, jangan berlarian!" Kanaya tersenyum melihat Anna dan Aulia bahagia.


"Ya, Mom" Anna menjawab Kanaya dengan tersenyum di bibirnya. Kanaya dan Nikolas berjalan mengikuti ke dua putrinya dari belakang. Nikolas memeluk pinggang Kanaya untuk lebih dekat padanya.


Aiden yang sedang berjalan di samping ke dua orang tuanya pun memutar bola matanya malas, melihat kelakuan Daddy-nya. Dia mempercepat jalannya mengikuti Anna dan Aulia yang telah berada di time zone.


Ya, sekarang mereka berada di mall terbesar yang ada di Jakarta untuk menghibur Anna. Alina, Felix dan Andra berjalan di sekitar toko pakaian wanita untuk mencarikan Alina pakaian.


Mila, David dan Emily berpencar mencari barang barang yang mereka inginkan. Mereka berjanji akan berkumpul di restauran Jepang saat makan malam, yakni restauran yang berada di samping pintu masuk mall sebelum mereka berpisah.


"Ayo Aiden, waktunya tinggal sedikit lagi itu!" Aulia menyemangati Aiden yang sedang bermain memasukkan bola basket ke ring. Anna hanya diam dan bertepuk tangan saat Aiden memasukkan bola basket masuk ke dalam ring.


Aiden menggeram pelan, matanya fokus untuk membuat bola basket masuk ke dalam ring sampai waktu permainan selesai. Dan kenapa pula kembarannya ini begitu berisik hingga bisa membuatnya kehilangan fokus bermain.


"Diam lah, kau menggangguku!!" Aulia cemberut mendengar perkataan Aiden. Mereka kan hanya menyemangatinya untuk masukkan lebih banyak bola ke dalam ring. Apa salahnya melakukan itu?


"Huh!" Aulia melipat tangannya di dada melihat sekitar tidak ingin melihat Aiden. Anna hanya tersenyum melihat ke dua saudaranya.


"Aiden mungkin tidak bisa fokus jika kita berteriak seperti itu. Jadi dia menyuruh kita diam, Lia" Anna berkata dengan memegang tangan Aulia.


"Tapi kan ak-" Aulia tidak jadi berbicara saat melihat Aiden tersenyum sombong. Aulia segera melihat ke arah papan skor permainan itu yang berhasil membuat Aiden besar kepala.


"Wow, skor mu sangat tinggi Aiden!!" Anna berseru kagum melihat skor yang Aiden dapat dari permainan bola basket itu. Aiden yang mendengar seruan kagum dari Anna mengangkat kepalanya tinggi dengan senyum sombong yang terpatri di bibirnya.


"Sombong!!" Aiden hanya memutar matanya dan menatap Aulia datar.


"Jelas!!. Memangnya kamu bisa mendapat skor lebih tinggi dariku? Tadi saja saat bermain skor mu tidak sampai setengah dari skor ku!" Aulia menghentakkan kakinya kesal, menatap Aiden tajam. Aiden mengulas senyum tipis saat melihat Aulia marah.


"Oke, oke, bagaimana jika kita bermain permainan yang lain?" tawar Anna saat melihat tatapan permusuhan Aulia pada Aiden yang hanya menatap santai kembarannya.


Mereka memainkan semua permainan yang ada di time zone hingga puas. Nikolas dan Kanaya sedang duduk di depan area time zone menunggu anak anak mereka selesai bermain.


Kanaya melihat sekitar, matanya berbinar saat melihat sesuatu, "Aku akan pergi sebentar"


Nikolas menoleh ke hadapan Kanaya lalu mengangguk. Kanaya dengan antusias menuju stan makanan yang dia lihat tadi.


Kanaya duduk di sebelah Nikolas dengan makanan crepe di tangannya. Nikolas menolehkan kepalanya saat Kanaya kembali. Melihat tatapan Nikolas, Kanaya memotong sedikit crepe nya.


"Ini, buka mulutmu" Nikolas membuka sedikit mulutnya untuk memakan crepe yang ada di tangan Kanaya.


"Bagaimana, enak kan?" Nikolas mengangguk. Kanaya senang dengan respon Nikolas. Dia memakan kembali makanannya dengan sesekali menyuapi Nikolas hingga crepe itu habis.


Sementara itu, di mansion Abraham tepatnya di ruang makan. Terlihat Aqila yang sedang menunggu seseorang sambil terus menatap jam di ruangan itu.


"Nona, apakah akan makan malam sekarang?" pelayan menghampirinya saat dia memperhatikan jam. Aqila mengangguk saat dia rasa orang yang di tunggunya tidak akan kembali.


Dia menundukkan dengan tangan menggenggam alat makan di tangannya dengan erat. Aqila menatap pelayan yang berada di sampingnya, "Apakah Daddy, Mommy dan yang lainnya tidak akan makan malam di rumah?"


Pelayan yang berada di sampingnya tertegun sejenak, "Maaf nona, tuan Nikolas dan nyonya Kanaya berkata akan makan malam di luar hari ini"


Aqila melanjutkan makannya setelah mendengar perkataan pelayan itu. Suasana sepi dan suram memenuhi ruang makan.


"Aku akan ke kamar" Aqila meninggalkan ruangan itu setelah memakan makanannya setengah. Para pelayan segera membereskan meja makan setelah Aqila pergi dari sana.


Aqila merebahkan tubuhnya di kasur dengan memejamkan mata. Tak terasa setetes air mata jatuh di pipinya. Dia sangat sedih, keluarganya meninggalkan dirinya di rumah sendirian sedangkan mereka mengajak Anna yang notabenenya hanya anak angkat untuk pergi jalan jalan ke mall.


Tak lama kemudian isak tangis lirih memenuhi ruangan itu. Sejak kedatangan Anabella membuat keluarga seakan melupakannya yang merupakan anak bungsu dari keluarga Abraham. Mereka begitu memanjakan dan menjaga Anna selayaknya putri dan bungsu keluarganya. Hal itu membuatnya sakit hati, rasa perih dan keengganan dia rasakan.


Lama dia menangisi perubahan yang terjadi di keluarganya, entah itu perubahan sifat ataupun perilaku mereka.


Lama kelamaan isak tangis itu berhenti. Aqila bangun dari rebahannya, menuju kamar mandi untuk membersihkan jejak air mata di wajahnya.


Aqila melihat dirinya di kaca, sekarang dia tambah kacau dengan mata merah dan sebab sehabis menangis. Walaupun telah membersihkan wajahnya dengan air matanya yang merah tetap tidak bisa di sembunyikan.


Aqila menghela napas berkali kali untuk mengatur emosi dan suasana hatinya. Keluar dari kamar mandi, Aqila berdiri di pintu balkon menatap pemandangan di luar pintu itu.


Dia berdiri di sana selama tiga jam yang artinya sudah jam sepuluh malam, dia tetap berada di sana tanpa berpindah tempat sedikitpun. Tak lama dia melihat dua mobil berwarna hitam menuju halaman mansion nya dari arah luar gerbang.


Dia melihat Kanaya, Nikolas dan Aiden keluar dari mobil hitam yang pertama. Di susul dengan keluarnya Emily, Mila, David, Alina, dan Felix dengan Andra yang tertidur di gendongannya.


Kanaya membuka pintu mobil belakang untuk menggendong Anna yang tertidur dan Aulia yang di gendong oleh Nikolas. Mereka memasuki mansion bersama.


Aqila menatap pemandang itu dari pintu balkonnya, lalu berdiri di depan pintu kamarnya. Terdengar suara berisik dari lantai bawah menuju ke lantai dua. Dia mendengar pintu kamar di sebelahnya di buka.


"Bagaimana keadaan mansion?" Nikolas bertanya pada pelayan yang mengikutinya ke lantai dua setelah membaringkan Aulia di atas kasur.


"Baik tuan tidak ada masalah apapun, tapi..." Nikolas yang melihat pelayan itu yang ragu ragu memerintahkannya untuk melanjutkan perkataannya lewat matanya yang tajam menatap pelayan itu.


"Tadi nona Aqila menunggu anda dan yang lainnya untuk makan malam, tapi anda tak kunjung datang yang membuat suasana hati nona sedih." Nikolas terdiam sejenak mendengar perkataannya.


"Apa dia memakan makanannya?" tiba tiba ada suara dari arah belakang pelayan yang ternyata adalah Kanaya.


"Ya nyonya, nona memakan makanannya namun nona hanya memakan makanannya setengah saja" Kanaya mengangguk mendengar ucapan pelayan itu.


"Baiklah kau boleh pergi" pelayan itu menundukkan kepalanya sebelum pergi dari hadapan Nikolas dan Kanaya.


"Ayo kita segera tidur" ucapan Kanaya membangunkan Nikolas dari lamunannya. Nikolas mengangguk lalu menggandeng tangan Kanaya menuju kamar mereka.


Aqila yang mendengar pembicaraan mereka dari pintu kamarnya merasa senang karena orang tuanya masih peduli dan menanyakan apakah dia sudah makan atau tidak. Aqila menuju kasurnya dengan masih tersenyum, lama kelamaan dia akhirnya tertidur.