GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 15



Sekarang keluarga Abraham tengah melakukan sarapan pagi bersama. Pagi ini mereka akan berangkat ke kantor untuk mengerjakan pekerjaan mereka yang akan semakin menumpuk jika di tinggalkan.


"Aku berangkat dulu" Nikolas mencium istrinya lalu pergi dari sana menuju kantornya. Kanaya hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah semua pria pergi untuk bekerja, sekarang hanya tinggal wanita dan anak anak yang masih tinggal di dalam mansion.


Di Indonesia terlihat gedung gedung pencakar langit yang tinggi tinggi. Semua orang bergegas untuk masuk ke dalam gedung untuk melakukan pekerjaan mereka.


Salah satu gedung tertinggi yang namanya telah di kenal oleh dunia dia adalah AH Company. Perusahaan yang di miliki oleh Nikolas Abraham.


Di ruangan yang terlihat sederhana tapi memiliki kesan mewah di dalamnya, terdapat seorang pria yang duduk di kursi kebesaran dengan memegang dokumen di tangan kanannya. Di hidungnya yang mancung bertengger kaca mata baca yang menambah kesan dingin dan tampan, yang mampu membuat wanita menjerit menginginkannya.


Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar ruangan. Tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen yang sedang dia baca, "Masuk!." Perlahan pintu itu terbuka setelah mendapat persetujuan dari pemilik ruangan.


Seorang pria masuk dengan setelan jas lengkap, dasi dan rambut yang di tata rapi membuat orang merasa dapat mengandalkan orang itu.


"Ada apa?" tanyanya masih dengan mencoret dan menanda tangani dokumen dokumen yang berada di atas meja kerjanya.


"Pak Nikolas ada beberapa masalah dalam proyek konstruksi yang sedang kami jalankan." Nikolas menghentikan tangannya yang sedang menanda tangani dokumen lalu mengangkat kepalanya menatap wajah asistennya.


"Apa yang terjadi Ar?" sang asistennya yang bernama Arka Daniel terdiam sejenak. "Ada kecelakaan yang terjadi kemarin hingga mengakibatkan beberapa pekerja terluka parah, Tuan."


"Apakah ada korban yang meninggal?" Nikolas mengernyitkan keningnya saat mendengar penjelasan Arka.


"Tidak ada korban yang meninggal, Tuan." Arka langsung menjawab atasannya itu saat melihatnya mengernyitkan keningnya.


"Baiklah, nanti siang aku akan ke lokasi konstruksi sendiri!" putus Nikolas, Arka mengangguk dan pergi dari sana untuk menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan tuannya nanti.


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu siang tapi Nikolas masih saja berurusan dengan dokumen yang tak ada habisnya.


Ketukan pintu terdengar memasuki gendang telinga pria itu. "Masuk" Arka masuk ke dalam ruangan bos nya. "Tuan semuanya sudah siap" Nikolas mengangkat kepalanya dan mengangguk, melepas kaca mata bacanya, lalu berdiri dari kursi kebesarannya.


Banyak yang menundukkan kepalanya saat Nikolas lewat. Nikolas menaiki mobil yang sudah terparkir di depan pintu kantor.


Perjalanan Nikolas menuju lokasi konstruksi membutuhkan waktu empat puluh lima menit. Mobil Nikolas berhenti saat mereka telah sampai di lokasi konstruksi tersebut.


Supir membuka pintu mobil untuk Nikolas keluar. Nikolas berdiri di samping mobil dengan menggunakan kaca mata hitam, melihat sekeliling lokasi konstruksi yang berdebu dan banyak bahan bahan bangunan.


Mandor yang mengawasi lokasi konstruksi menghampiri Nikolas yang sedang melihat lihat dari samping mobilnya.


"Tuan" sapa mandor itu saat sudah berada di dekat Nikolas dengan sedikit membungkukkan badannya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Nikolas dengan berjalan menuju lokasi konstruksi tanpa menatap mandor yang bernama pak Tono yang berada di sampingnya.


"Baik tuan. Walaupun ada kecelakaan, tapi sekarang baik baik saja" jawab pak Tono dengan berkeringat dingin saat di tatap tajam oleh Nikolas.


"Baik tuan" mandor segera pergi setelah mengantarkan Nikolas ke ruang rapat. Kurang dari dua menit sebelum sepuluh menit tepat, para pekerja telah berada di ruang rapat.


Nikolas memulai rapat setelah para pekerja berkumpul. Rapat tersebut berlangsung selama dua jam penuh. Hari telah sore saat Nikolas keluar dari ruang rapat dengan pandangan datar, tangannya memegang kaca mata hitam yang tadi dia kenakan.


Sebelum pergi dari lokasi konstruksi, Nikolas berjalan berkeliling terlebih dahulu. Di sebelah samping kanannya terdapat sang asisten dan di sebelah samping kirinya terdapat mandor konstruksi, pak Tono.


Saat di melewati bahan pipa beton yang di tumpuk menjadi beberapa tumpukan, karena pendengarannya yang tajam Nikolas mendengar sesuatu saat melewatinya.


Dia menekuk satu kakinya untuk melihat lingkaran yang ada di tengah pipa beton tersebut. Arka dan pak Tono yang melihatnya menjadi bingung. "Tuan, apakah ada masalah?" tanya Arka.


Nikolas melihat anak kecil yang seumuran dengan anaknya sedang meringkuk di lingkaran tengah pipa beton di ujung yang lainnya.


"Siapa dia?" tanya Nikolas menghiraukan pertanyaan asistennya dengan masih di posisi tadi dengan tatapan yang masih mengarah pada ujung pipa beton.


Pak Tono yang di tanya kini melakukan hal yang sama dengan yang di lakukan Nikolas di ikuti oleh Arka. "Saya tidak tau, tuan. Apakah saya perlu mengusirnya?" tanya pak Tono dengan tatapan gelisah takut membuat kesalahan di depan bos besarnya ini.


"Bawa anak itu ke hadapan ku!!" perintah Nikolas yang di tunjukkan pada Arka, membuat Arka segera menuju ujung lain pipa.


Arka terlihat menggandeng tangan anak yang tidur di lingkaran tengah pipa beton. Dia terlihat kotor, kumuh dan berdebu tapi tetap imut.


Nikolas menatap anak itu dengan tatapan yang tajam dan dingin. Menatapnya dari atas ke bawah seperti menilai sebuah barang. Anak itu langsung gemetar saat matanya bertatapan dengan mata Nikolas.


"Siapa namamu?" tanya Nikolas kepada anak perempuan itu yang menundukkan kepalanya tak mau lagi bertatapan dengannya.


"A-anabella Naura" ucapnya menunduk tanpa mengangkat kepalanya dengan tubuh gemetar. Nikolas menatapnya sejenak tanpa berbicara seperti menimbang nimbang sesuatu. Arka dan pak Tono sudah ketakutan di tempat masing masing, mereka menghawatirkan anak itu dan bertanya tanya apakah anak itu akan di hukum oleh bos mereka, Nikolas.


"Bawa dia!" Nikolas langsung berjalan menuju arah mobilnya di ikuti oleh pak Tono dan Arka yang menggandeng tangan Anna dengan bingung. Apa yang akan tuannya ini lakukan pada anak ini pikir Arka.


"Paman, a-aku tidak mau ikut" ucap gadis itu pada Arka, saat dia akan membawanya pada orang itu.


"Tidak papa, tenanglah ini akan baik baik saja" ucap Arka menenangkan gadis kecil itu. Setelah merasa tenang Anna mengikuti Arka menyusul atasannya yang sudah berada di dalam mobil.


Nikolas menurunkan kaca mobilnya sedikit, lalu berkata, "Masuk!" Anna segera di bawa masuk ke dalam mobil, dia duduk di kursi belakang bersama Nikolas.


"Jalankan mobilnya! Kembali ke mansion!" supir segera menjalankan mobil untuk pulang ke kediaman Abraham. Pak Tono membungkukkan badannya saat mobil itu lewat di depannya sambil mengambil sapu tangan dari saku celananya untuk mengelap keringat di dahinya.


Di dalam mobil hanya ada suasana hening yang terasa. Anna yang duduk di sebelah Nikolas sangat gugup. Nikolas bahkan tak melihat anak itu sama sekali dan hanya fokus pada iPad-nya yang berada di pangkuannya.


Anna memandang keluar jendela mobil untuk mengalihkan rasa gugup dan takutnya pada orang yang berada di sebelahnya. Ah sungguh paman ini sungguh menakutkan pikirnya sambil meremas baju yang ia kenakan.