GIVE ME YOUR LOVE

GIVE ME YOUR LOVE
Episode 43



Di meja itu hanya terjadi keheningan yang canggung. Tidak ada yang bersuara, mereka hanya saling menatap.


Aqila dan Vina sama sekali tak memperdulikan hal itu. Dan melanjutkan kegiatan makan mereka.


"Qila, aku dengar kamu mengikuti ujian untuk ikut program pertukaran pelajar ya?"


Anna menatap Aqila bertanya. Aqila mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan yang di tanyakan untuknya.


"Iya. Aku hanya ingin mencobanya." balas Aqila dengan menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana? Apakah kamu berhasil, Qila?" Aqila menoleh pada Aulia yang bertanya padanya. Aulia terlihat sangat penasaran dengan hasil ujian Aqila. Matanya terus menatap pada kembarannya itu.


"Jangan terlalu bersedih jika kamu tidak berhasil Qila! Bagaimana pun ada banyak anak anak pintar yang juga ingin ikut program itu. Mungkin itu bukan rezekimu untuk mengikuti hal seperti itu!" ucap Anna menatap Aqila seperti mengasihaninya. Padahal Aqila belum menjawab apakah dia berhasil atau tidak. Dan Anna sudah menyimpulkannya sendiri seperti Aqila gagal dalam ujian itu.


Aulia, Vina dan Aqila melihat ke arah Anna secara bersamaan saat mendengar ucapannya. Wajah Aulia dan Vina berkerut. Aqila hanya memandang Anna santai dan terus menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Heh, boneka Annabelle!! Seenaknya aja Lo bilang. Emangnya sejak kapan Qila bilang dia gagal?"


Vina mendengus dan meletakkan sendok yang berada di tangannya. Dia menatap Anna kesal. Aqila saja belum menjawab pertanyaan Aulia. Dan dengan seenaknya boneka Annabelle yang seperti hantu ini bilang Aqila gagal?!! Beraninya dia!


"Aku juga tidak bilang Aqila gagal! Bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu?!"


Vina memutar matanya, dia terlihat sangat kesal mendengar sangkalan yang terucap dari Anna.


"Heh, semua orang juga pasti tau! Kalau ucapan mu itu seakan akan Aqila telah gagal dalam pertukaran pelajar. Kecuali dia orang bodoh, pasti tidak akan tau maksud dari ucapan mu itu!!"


"Apa menurut mu aku bodoh, hingga tidak mengerti arti dari ucapan mu tadi? Hah, benar benar menyebalkan!!"


Anna menundukkan kepalanya. Dia berkata, "Aku benar benar tidak bermaksud berkata seperti itu!"


"Kamu jangan merusak hubungan ku dengan Qila. Aku hanya bilang untuk tidak terlalu kecewa jika dia gagal. Hanya itu!!" Anna mengangkat wajahnya untuk menatap Vina. Ekspresi Anna seperti mengatakan bahwa dia tak terima dan merasa di tuduh dengan perkataan Vina tadi.


"Hasilnya baru keluar besok. Jadi, sekarang aku tidak tau hasilnya!" ucap Aqila dengan menatap Aulia. Yang berarti sedang menjawab pertanyaan yang Aulia ajukan tadi.


"Oh, aku harap kamu akan berhasil melakukan program itu." ucap Aulia tersenyum kepada adik kembarnya, Aqila.


"Aku juga berharap hal yang sama!"


Para laki laki yang ada di sana hanya menjadi pendengar percakapan yang terjadi antara Anna dan Vina atau antara Aqila dan Aulia. Tidak ada yang ingin menggangu pembicaraan mereka. Mungkin mereka sedang malas, karena habis selesai bermain basket. Mereka bahkan belum mengganti pakaian basket mereka. Juga tumben sekali El bahkan tidak membela Anna biasanya dia akan menjadi pembela Anna no dua setelah Aiden.


"Aku juga berharap kamu berhasil Qila!" ucap Anna tersenyum pada Aqila.


Huh, dia pari tidak akan lolos ujian. Bagaimana pun banyak siswa siswi pintar yang juga ingin mengikuti program tersebut! Hah, Aqila kamu pasti sedang bermimpi untuk tak akan bisa lolos dengan siswa siswi pintar yang juga mengikuti ujian itu. Anna tersenyum menghina di dalam hatinya.


"HM! Aku tau!"


Aqila menjawab tanpa menatap Anna. Dia meminum jus alpukat nya yang berada di atas meja.


"Halah! Dia hanya bilang itu di mulut. Tapi pasti di hati, dia pasti sedang meremehkan Qila!!"


Vina mencibir perkataan Anna dengan pelan sembari menunduk untuk memakan makanannya. Tapi hal itu tetap saja terdengar, karena kafetaria yang mulai sepi di sekitar meja mereka.


Vina sama sekali tidak peduli jika Anna mendengarnya atau tidak. Dia terus saja memakan nasi goreng yang tinggal sedikit. Nanti nafsu makannya akan hilang jika dia bertengkar dengan Anna lagi, makanya dia dengan cepat ingin menghabiskan nasi gorengnya.


Anna menggenggam erat roknya. Dia menatap jengkel pada Vina. Apa lagi sekarang tidak ada yang membelanya sama sekali termasuk Aiden. Dasar brengsek kalian!! Bisa bisanya kalian hanya diam dan tidak membelaku!! Batin Anna jengkel kepada El dan Aiden yang biasanya selalu ada di pihak dirinya.


El dan Aiden hanya menjadi pendengar yang baik. Entah apa yang merasuki mereka hingga tidak ada niatan untuk membela Anna sama sekali. Bian juga diam tanpa ikut campur, padahal dia juga biasanya selalu membela Anna jika ada yang mengatakan hal seperti itu.


Javier sedari tadi memainkan handphonenya tanpa ingin ikut campur dalam pertengkaran yang terjadi di mejanya. Dia sama sekali tak peduli. Dia hanya peduli dengan sahabat dan bukan orang lain. Dan yang dia anggap sahabat hanya Kaivan, Aulia, Bian, El, dan Aiden. Sedangkan Anna? Anna sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia, apa lagi menjalin persahabatan dengannya. Javier hanya menganggap Anna hanya orang luar dan adik dari sahabatnya. Jadi, dia tidak akan ikut campur dengan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan dia, apa lagi jika itu cuma gara gara hal sepele.


"Sudah! Lebih baik kita makan." ucap Aulia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana yang sedikit canggung.


Tepat sekali beberapa waiters datang dengan membawa nampan yang berisi makanan pesanan mereka.


Para waiters itu meletakkan makanan yang mereka bawa ke atas meja. Lalu segera pergi pergi dari sana usai meletakkan makanan di meja Aqila dan lainnya.


"Nah, selamat makan!!" ucap Aulia dengan mengangkat sendok di tangan kanannya.


"Selamat makan!" balas El dan Bian bersama dengan menatap berbinar pada makanan yang berada di depan mereka.


Anna hanya tersenyum tipis dengan masih mengepalkan tangannya yang berada di bawahnya meja. Dia benar benar kesal hari ini. Tidak ada yang memperhatikannya sedari tadi dan itu benar benar menjengkelkan. Dia menatap dengan amarah di matanya saat melihat semua orang dengan tenang mulai memakan makanan mereka. Dia sebisa mungkin memendam perasaan marah dan kesal yang dia rasakan dan segera memakan makanan pesanannya itu.


Sekarang di meja itu hanya ada keheningan yang menyesakkan bagi Anna. Dia benar benar merasa tidak nyaman untuk makan di meja itu. Sedangkan yang lainnya hanya diam dan memakan makanan masing masing dengan lahap. Menghiraukan suasana yang terjadi di sekitar meja mereka.