
Dengan perlahan Aqila terlihat menuruni tangga satu persatu untuk menuju lantai satu mansionnya. Dia berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapannya sendiri. Karena seluruh pelayan telah pergi, kembali ke rumah masing masing sampai Nikolas dan yang lainnya kembali, dua minggu.
Hari ini mansion Abraham benar benar sunyi, sepi. Di dalam mansion hanya terlihat Aqila dan beberapa bodyguard yang berjaga di luar mansion.
Aqila membawa masakannya yang hanya ada telur goreng dengan nasi ke meja makan. Dia memakan makanannya dengan sesekali menatap sekitar. Sungguh mansionnya ini sedikit menyeramkan jika hanya dia yang tinggal di sana.
Aqila membawa piringnya kembali ke dapur untuk mencucinya. Sekarang dia harus terbiasa melakukan semuanya sendiri selama dua minggu ini. Aqila membuka freezer, dia mengeluarkan buah anggur, melon, apel, pir, stroberi dan buah lainnya untuk membuat salad buah.
Aqila dengan telaten mencuci dan mengupas satu persatu buah buahan itu. Dia memotong motong buah dengan ukuran yang sama tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar untuk di masukkan ke dalam mulutnya.
Dia menambahkan keju dan menuangkan susu cair yang banyak. Dia membawa itu ke ruang keluarga. Menyalakan televisi terlebih dahulu sebelum dia mendudukkan dirinya ke sofa.
Aqila menikmati salad buah yang dia buat dengan menonton televisi. Tapi di dalam hatinya, dia merasa sangat kesepian. Dia tidak menyukai perasaannya yang gelisah dan tidak tenang seperti ini. Dia menaruh salad buahnya yang tinggal sedikit di atas meja.
Aqila terus mencari channel televisi yang menurutnya menarik untuk di tonton. Karena kesal, Aqila akhirnya membanting remote televisi ke sofa yang berada di sampingnya. Akhirnya Aqila menonton channel berita yang menurutnya tidak penting. Tidak ada yang menarik dari seluruh tayangan yang di siarkan dalam televisi yang membuatnya semakin jengkel.
Aqila membaringkan tubuhnya di lengan sofa. Dia menutup matanya dengan menggunakan satu lengan. Dia memindahkan lengannya untuk menatap televisi dengan tatapan kosong.
"Hah!! Kupikir ini mimpi. Kapan kalian pulang? Aku tidak ingin sendirian di sini." ucap Aqila dengan meringkukkan badannya.
"Hiks cepatlah kembali hiks..." Aqila menangis di sana tanpa ada yang memperhatikannya. Yah, tidak ada siapapun di mansion, tentu saja tidak ada yang memperhatikannya. Dia sendiri sekarang dan dia merasa ketakutan.
"Mommy Daddy hiks... Aulia Aiden hiks.." ucap Aqila dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.
Selama beberapa menit Aqila menangis di ruangan itu. Televisi dia nyalakan dengan suara yang keras untuk meredam suara tangisannya.
Aqila membersihkan wajah lalu mematikan televisi. Dia menuju ke arah dapur untuk meletakkan salad buahnya yang belum habis ke dalam freezer.
Aqila berjalan dengan tatapan kosong sampai dia berada di depan pintu kamar. Dia melihat nama yang tergantung di pintu itu "Kamar Anna. Ketuk dulu baru masuk. Kalau gak Anna ngambek".
Aqila menatap jijik pada gantungan yang berada di depannya. Dia ingin berbalik pergi, tapi memilih tetap di sana. Memandang pintu itu dengan wajah ragu ragu.
Dengan perlahan dia membuka pintu kamar Anna. Mata Aqila sedikit melebar saat pintu kamar Anna dapat dia buka. Apakah dia lupa mengunci pintunya pikir Aqila bingung. Karena biasanya Anna selalu mengunci pintu kamarnya sebelum keluar, bahkan tidak ada yang di perbolehkan masuk tanpa izin darinya tak terkecuali keluarganya yang lain.
Entah apa yang membuatnya melakukan itu. Memangnya apa yang dia sembunyikan di kamarnya itu hingga dia bertindak berlebihan untuk menjaga kamarnya itu. Tapi karena keluarganya yang lain sangat menyayanginya, mereka tidak memaklumi hal itu. Mungkin pikir mereka karena Anna ingin memiliki privasinya sendiri.
Dengan ragu ragu dia memasuki kamar Anna. Aqila langsung memejamkan matanya saat memasuki kamar Anna.
"Sungguh kenapa semua barang di kamarnya berwarna seperti ini?" ucap Aqila sembari membuka matanya lagi.
Kalau di tanya alasannya, dia sendiri pun tidak tau kenapa muak dengan warna pink. Hanya muak, tapi dia tidak membenci warna pink.
"Dia ini benar benar kekanak kanakan." ucap Aqila sembari berjalan untuk melihat lihat isi kamar Anna. Di pojok dinding ada lemari kaca untuk boneka bonekanya, tidak hanya satu lemari kaca tapi beberapa lemari kaca hanya untuk boneka. Di sampingnya lagi juga ada lemari kaca untuk mainan barbie dengan harga mencapai jutaan rupiah.
"Dia sungguh boros!," ucap Aqila sambil menggelengkan kepalanya saat melihat semua barang entah itu boneka atau pun mainan barbie milik Anna. Kamar yang tadinya luas sekarang terlihat sempit, bahkan kamarnya juga saudara kembarnya kalah luas dari kamar Anna.
Aqila menatap iri saat melihat harga boneka boneka milik Anna. Keluarganya sungguh sangat royal membelikan semua boneka dan mainan yang harganya jutaan hingga ratusan juta hanya untuk Anna. Sedangkan dia? Dia yang statusnya adalah anak kandung mereka dan keluarga sedarah tidak mendapatkan sebagian pun dari milik Anna.
Dia harus menunggu dan menabung untuk mendapatkan apa yang dia inginkan sedangkan Anna, dia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, karena keluarganya akan mendapatkan semua yang dia inginkan saat itu juga. Sesayang itu keluarganya kepada Anna.
Kadang dia berharap, dia yang menjadi Anna. Walaupun hanya satu hari saja, itu sudah sangat cukup untuknya. Karena Anna tidak pernah kekurangan kasih sayang dari keluarganya walau satu hari pun.
Maka dari itu dia ingin menjadi Anna walau hanya satu hari, dan dalam satu hari itu dia bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarganya yang selalu dia impi impikan.
Aqila menghela napas saat rasa iri mulai menenggelamkannya. Dia berbalik ingin pergi dari sana, tapi tanpa sengaja kakinya terantuk kaki meja belajar Anna. Sehingga ada salah satu buku Anna yang ikut terjatuh, membuat lembaran lembaran di dalamnya berhamburan.
"Aduh, sakitnya!!" ucap Aqila dengan mengelus elus kakinya yang terantuk kaki meja. Setelah kakinya merasa baikan Aqila mengambil buku yang tadi tidak sengaja terjatuh.
Dia mulai mengambil satu persatu lembaran lembaran yang tersebar di lantai. Tapi salah satu lembaran kertas itu menarik perhatiannya.
"Nona Aqila?!" Aqila langsung menyatukan lembaran itu dengan lembaran lainnya dan menaruhnya di meja. Dia menengok ke arah pintu Anna. Di sana ada satu pelayan perempuan yang tadi mengagetkannya.
"Iya bi, ada apa?" pelayan itu terkejut melihat Aqila berada di sana. Pelayan tersebut buru buru menuntun Aqila keluar dari kamar Anna.
"Aduh non. Jangan masuk ke kamar non Anna,nanti saya di marahin." ucap pelayan itu dengan muka memelas.
"Oh itu, aku tidak sengaja melihat kamar Anna terbuka. Karena takut ada barang Anna yang hilang, jadi aku masuk untuk mengeceknya, mungkin saja ada malingkan!!" ucapan Aqila membuat pelayan itu ketakutan.
"Maaf non, saya teledor hingga lupa mengunci pintu kamar non Anna." pelayan itu membungkukkan badannya sembari meminta maaf pada Aqila.
"Iya bi, gak papa. Tapi lain kali jangan diulangi!!"
"Iya non, saya mengerti" ucap pelayan itu dengan mengangguk.
Aqila pergi dari hadapan pelayan itu yang mulai mengunci pintu kamar Anna. Dia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sebelum benar benar menutup pintu kamarnya, Aqila menyempatkan diri untuk melihat pelayan tadi.