Forbidden Desire

Forbidden Desire
Bab 70: Rosaline dan Mark



Mark membawa Rosaline pulang ke rumah mereka setelah masalah mereka dengan Shopie selesai. Keduanya tiba di depan rumah mereka dan turun dari dalam mobil.


"Sweetheart, aku akan menghubungi dokter kandungan mu untuk memeriksa bayi kita. Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita," ucap Mark mengusap perut buncit Rosaline. Usia kandungan Rosaline sudah menginjak 5 bulan. Berdasarkan hasil USG jenis kelamin anak pertama mereka adalah perempuan.


"Tidak perlu Mark. Dia baik-baik saja," balas Rosaline karena ia tidak merasakan apapun dengan kandungannya.


"No Sweetheart.. aku tidak yakin sebelum dokter memeriksanya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan mu," kata Mark mengambil ponselnya dan menghubungi nomor dokter kandungan Rosaline. Rosaline lalu mengangguk.


Perjalan cinta mereka juga tidak mudah. Pernikahan keduanya baru 7 bulan. Mark mati-matian mengejar cinta Rosaline selama 4 tahun. Rosaline pergi meninggalkannya tidak lama setelah wanita itu memutuskan hubungan mereka. Ayah Rosaline juga tidak merestui hubungan mereka. Ayahnya tidak percaya jika Mark benar-benar mencintai Rosaline setelah mengetahui penyebab hubungan mereka berakhir. Hingga akhir ini, hubungan Mark dengan ayah Rosaline masih kaku. Orang tua itu masih tidak percaya jika Mark bisa mencintai putrinya dengan tulus dan membahagiakannya.


Selama 3 tahun Mark tidak henti-hentinya mencari keberadaan Rosaline. Hidupnya terasa hampa dan hampir menyerah hingga ia mendengar kabar jika Rosaline sudah kembali. Mark sangat bahagia. Ia langsung menemui wanita itu ke rumahnya. Namun sayang, Rosaline tidak ingin bertemu dengannya. Mark tidak menyerah begitu saja. Berkali-kali ia datang ke sana berharap Rosaline berbaik hati untuk melihatnya. Setiap hari ia akan datang kesana dan dilanda rasa cemburu saat melihat Rosaline pergi dengan teman laki-lakinya. Mark ingin marah, tapi itu hanya akan membuat Rosaline membencinya. Ia menahan semuanya demi mendapatkan kembali hati Rosaline. Mark bahkan tidak perduli jika ia akan berdiri di depan rumah Rosaline seharian dengan perut kosong. Asalkan dia memaafkannya. Mark tau jika Rosaline sesekali mengintip dari balik gorden jendela kamarnya untuk melihatnya. Saat pandangan mata mereka bertemu, Rosaline langsung menutup kembali gorden kamarnya. Mark tau Jika Rosaline masih mencintainya. Beberapa kali saat Rosaline keluar dari rumahnya, ia melihat wanita itu masih memakai kalung pemberiannya.


Berbulan-bulan ia akan berdiri disana berharap Rosaline memaafkannya. Kedua orang tua Mark bahkan marah padanya karena terlalu berharap pada Rosaline. Tapi apalah daya, Mark sangat mencintai Rosaline. Ia tidak peduli dengan perkataan kedua orang tuanya ataupun orang lain.


Mark tidak menyadari jika kegiatan yang ia lakukan selama beberapa bulan itu membuat kondisi tubuhnya drop hingga ia di rawat di rumah sakit. Dan selama itu Rosaline juga tidak menjenguknya membuat Mark semakin putus asa. Ia semakin yakin jika Rosaline tidak mencintainya lagi. Mark terlalu percaya diri selama ini. Hampir satu bulan ia di rawat di rumah sakit dan kondisinya semakin hari semakin memburuk. Mark selalu diam dan melamun di kursi rodanya.


Rosaline tidak tau jika Mark sedang masuk rumah sakit. Ia pikir Mark sudah menyerah. Sebenarnya perasaannya masih belum berubah. Ia mencintai pria itu. Hanya saja Rosaline takut hubungan mereka tidak berhasil. Ayahnya juga melarangnya untuk menemui Mark karena rasa trauma yang masih menghantui pikirannya. Dulu, Rosaline kehilangan kakak perempuannya karena terlalu mencintai pria brengsek yang hanya ingin mempermainkannya saja. Kakak iparnya ternyata tukang selingkuh dan membuatnya depresi hingga bunuh diri.


Pikiran Rosaline tentang Mark yang sudah menyerah ternyata salah. Kedua orang tua Mark menemuinya dan memohon padanya untuk menemui Mark yang sedang di rawat di rumah sakit. Rosaline tentu saja terkejut dan khawatir. Ia ingin melihat pria itu namun Rosaline takut jika ayahnya akan marah dan kecewa padanya.


Entah apa yang dikatakan ibunya pada ayahnya hingga membuat ayahnya mengizinkannya untuk melihat Mark.


Selama tiga hari Rosaline menemani Mark di rumah sakit. Keadaan pria itu pulih dengan cepat. Karena memang Rosaline adalah obatnya.


Mark berjalan masuk kedalam kamarnya dan Rosaline. Mark terkejut saat melihat koper kecil di atas tempat tidur mereka. Seketika Mark khawatir Ia lalu mencari keberadaan Rosaline.


"Sweetheart... sweetheart kamu dimana."


"Sayang... " panggil Mark. Rosaline keluar dari ruang ganti pakaian. Ia baru saja menyelesaikan ritual mandinya.


"Sweetheart.. kamu tidak sedang marah karena aku memaksa mu untuk meminum susumu tadi bukan?" tanya Mark memeluk Rosaline.


"Jangan pergi, ku mohon..." ucap Mark. Setengah jam yang lalu Mark memang memaksa Rosaline untuk meminum susu hamilnya karena beberapa kali Rosaline melewatkannya dan berbohong padanya jika ia sudah minum susunya. Hingga membuat nada suara Mark sedikit meninggi tadi.


"Maaf jika aku membentak mu tadi. A.. aku... aku hanya ingin bayi kita baik-baik saja di sana sweetheart..." kata Mark lirih. Rosaline hanya terkekeh mendengar perkataan Mark yang mengiranya pergi. Mark memang sangat sensitif akhir-akhir ini. Tengah malam, saat mereka akan tidur. Mark beberapa kali menangis sambil mengatakan jika ia akhirnya bisa bersama dengannya dan menceritakan apa yang dialaminya saat dirinya pergi jauh dari Mark.


"Siapa yang mau pergi Mark. Aku hanya ingin membongkar pakaian lama ku yang ada di sana. Entah mengapa aku ingin memakainya," kata Rosaline membuat Mark terkejut.


"Aku pikir kamu marah karena aku sudah berbicara dengan nada suara yang tinggi tadi," ucap Mark kembali memeluk tubuh Rosaline dengan erat.


"Aku tidak marah Mark. Aku yang salah karena sudah berbohong. Aku hanya tidak menyukai susunya saja," kata Rosaline membalas pelukan Mark. Mana mungkin ia meninggalkan Mark yang begitu tulus padanya.


"Besok kita akan mengganti susunya dengan rasa yang lain," balas Mark menggendong tubuh Rosaline ala bridal style dan membawanya ke atas tempat tidur. Rosaline lalu mengangguk. Ia kemudian membuka kopernya dengan Mark yang duduk dibelakangnya sembari memeluk tubuhnya.