
Fiona baru saja ke luar dari kamarnya, ia berjalan menuruni tangga. Fiona bangun sedikit terlambat karena kegiatan panas yang dilewatinya bersama Kendrick. Fiona melihat Shopie yang sedang duduk di sofa ruang tengah sembari menggendong Sean.
"Selamat pagi Bibi Shopie," ucap Fiona menyapa Shopie.
"Pagi Fio, tumben sekali kamu bangun lama," ujar Shopie melihat Fiona. Wanita itu terperanjat.
"Sepertinya tubuhku sedang kelelahan makanya bangun sedikit terlambat Bibi. Apa Sean tidak menangis?" ujar Fiona mencari alasan.
"Tidak, tumben sekali Sean tidak bangun untuk minum ASI seperti biasanya. Mungkin Sean tau jika ku sedang kelelahan," ujar Shopie mengecup pipi gembul putranya.
"Sayang.. kamu juga sudah bangun?" tanya Shopie saat melihat Kendrick baru saja turun dari tangga.
Tadi pagi saat bangun, ia terkejut melihat Kendrick yang tiba-tiba ada di kamar. Shopie tidak tega membangunkannya karena tau jika Kendrick pasti sedang kelelahan setelah perjalanan bisnis selama 1 minggu.
"Kalian sebaiknya sarapan saja sekarang. Aku tadi sudah sarapan," ucap Shopie.
Di meja makan, Fiona sangat serius menikmati sarapannya. Perutnya sudah kelaparan sejak tadi.
Kendrick melirik Fiona sejenak. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya sebuah ide sedang muncul di otaknya. Kendrick menurunkan satu tangannya ke bawah meja. Tangan itu lalu menyentuh paha Fiona.
Fiona yang merasakan sesuatu di pahanya melihat kebawah.
"Ken..." ucap Fiona pelan. Menatap dengan was-was ke arah Shopie yang sedang duduk membelakangi mereka.
"Lepaskan tangan mu dari sana Ken," ujar Fiona takut. Kendrick hanya diam saja dan tersenyum menyeringai. Tangan pria itu semakin naik hingga menemukan titik sensitif Fiona.
"Ken..." bisik Fiona melotot pada Kendrick.
"Apa kamu sudah gila, lepaskan tangan mu," ucapnya pelan, menarik tangan Kendrick dari sana. Fiona yakin jika pria itu sengaja melakukannya.
"Bagaimana jika lain kali kita melakukannya di dapur," bisik Kendrick membuat wajah Fiona merona.
"Diam lah Ken, sebaiknya kamu makan saja."
"Ken.. jangan bermain-main. Ada Bibi Shopie di sana." Kendrick sepertinya tidak mendengarkannya. Pria itu tidak ada takutnya.
"Lain kali aku tidak akan mau lagi jika kamu memintanya," ucap Fiona. Kendrick seketika menghentikan kegiatannya dan melanjutkan sarapannya. Ancaman Fiona sangat manjur.
Satu harian ini Kendrick menemani putranya seperti janjinya tadi malam. Norah, ibu Kendrick juga datang berkunjung ke sana.
******
Saat tengah malam, setelah Fiona menyu.sui Sean dan mengantarnya ke kamar Kendrick. Fiona pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Saat malam hari, pencahayaan di dapur temaram karena sebagian lampu dimatikan. Fiona melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin.
"Uhukk..." Fiona terbatuk karena terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang dengan tiba-tiba. Fiona menoleh ke belakang dan melihat wajah Kendrick yang tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ken.. apa yang kamu lakukan di sini," ucap Fiona melihat sekelilingnya. Khawatir jika ada orang di sana dan melihat mereka.
"Aku menginginkan mu," bisik Kendrick mere.mas dada Fiona.
"Tidak.. tidak.. lepaskan Ken. Kamu harus kembali ke kamar mu," tukas Fiona mencoba melepaskan tangan Kendrick.
"Kalau begitu berikan aku satu ciuman," ucap Kendrick memutar badan Fiona agar menghadapnya. Kendrick mendekatkan wajahnya, menyisakan sedikit jarak di antara mereka.
Fiona memalingkan wajahnya karena gugup, wajahnya sudah memanas.
"Ken.. sepertinya a.. aku harus pergi," tukas Fiona hendak pergi. Kendrick menarik tangannya hingga tubuh Fiona menabrak badan Kendrick. Tanpa aba-aba Kendrick langsung meraup bibir Fiona.
"Mmppptthhh.." Fiona memukul dada Kendrick, mencoba melepaskan diri. Fiona sangat takut jika ada orang yang tiba-tiba datang dan melihat mereka.
Kendrick menahan kepala Fiona dengan kedua tangannya mencium bibir Fiona dengan lembut. Fiona akhirnya hanyut dalam ciuman itu. Kendrick sangat lihai dalam menaklukkannya. Kendrick mengangkat tubuh Fiona, wanita itu refleks melingkarkan kakinya di pinggang Kendrick.
Kendrick membawa Fiona berjalan menuju meja island marmer. Kendrick mendudukkan wanita itu di atas meja tanpa melepaskan ciuman mereka.