
"Ngghh.. Ken.." lenguh Fiona mere.mas rambut kepala Kendrick yang sedang mengulum puncak dadanya.
"Ken.. itu milik Sean.. " ujar Fiona saat merasakan mulut Kendrick menyedot sumber makanan Sean dari dadanya.
Kendrick tidak peduli, pria itu kembali mengulum puncak dada Fiona yang lainnya. Satu tangannya merayap ke dalam gaun tidur Fiona, melepaskan CD wanita itu dengan perlahan dan mengantonginya. Kendrick kembali meraup bibir Fiona sembari menggesekkan miliknya yang sudah keras ke inti Fiona.
Tak tahan lagi, Kendrick menurunkan celananya, hingga menampilkan miliknya yang besar dan panjang. Fiona terbelalak, ternyata benda itu bisa muat di dalam miliknya. Kendrick menuntun miliknya menuju milik Fiona.
"Ngghh.." Fiona melenguh, memeluk leher Kendrick saat merasakan milik Kendrick mencoba menerobos ke dalam intinya. Rasanya begitu sesak. Kendrick kembali meraup puncak dada Fiona dan memainkannya. Fiona melenguh kenikmatan saat mulut Kendrick memainkan puncak dadanya. Fiona sangat suka kala Kendrick memainkan dadanya. Tangannya bergerak menekan kepala Kendrick.
Kendrick mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan yang lembut dan pelan membuat Fiona mengerang, menyebut nama pria itu. Kendrick tersenyum menyeringai mendengar suara erangan kuat dari Fiona.
"Kecilkan suara mu sayang. Apa kamu ingin orang lain mendengarnya dan melihat kita," bisik Kendrick mengecup bibir Fiona.
"Ahhh.. kau.. sangat... sempit Fiona... ssshhh.." rancau Kendrick mere.mas bokong Fiona.
Ditengah-tengah erangan mereka terdengar suara langkah kaki, berjalan mendekati dapur. Fiona dan Kendrick seketika terkejut. Fiona takut, mungkinkah mereka akan kedapatan. Jantungnya berdegup dengan cepat.
"Kamu takut?" tanya Kendrick menatap wajah pucat Fiona. Sial, pertanyaan apa itu. Fiona ingin sekali meninju wajah Kendrick yang tidak terlihat takut sedikit pun. Fiona belum siap, berharap ini hanya mimpi saja.
Kendrick mengangkat tubuh Fiona dari atas meja tanpa melepaskan penyatuan mereka, berjalan menuju sudut ruangan, dan bersembunyi di samping lemari yang ada di dapur. Tempat itu terlihat gelap karena pencahayaan yang tidak sampai ke sana. Fiona memeluk tubuh Kendrick dengan erat karena ketakutan. Punggungnya bersentuhan dengan dinding dapur yang dingin.
Bayangan itu semakin mendekat lalu berhenti, "kenapa aku merasa seperti mendengar suara orang tadi," gumam Norah. Wanita paruh baya itu terbangun karena merasa haus dan terpaksa harus turun ke bawah untuk mengambil air minum karena air minum di kamarnya sudah habis.
Fiona terbelalak saat Kendrick kembali menggerakkan pinggulnya. Pria itu sudah gila. Tidak ada takutnya sama sekali.
"Ken.. berhentihh.." bisik Fiona sangat pelan. Kendrick menyeringai, ia semakin bersemangat untuk menggerakkan tubuhnya, menggoda Fiona.
Norah mengambil gelas dan menuang air minum ke dalam gelasnya dan meneguknya.
"Sshh.. ahhh.. Ken.." de.sah Fiona menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak menimbulkan suara. Awas saja, setelah ini dia akan marah pada pria itu.
"Kamu sangat nikmat sayang..." bisik Kendrick mengecup telinga Fiona.
Setelah Norah menghabiskan air minumnya, ia kemudian kembali ke kamarnya dengan membawa teko kacanya ke kamar.
Kendrick semakin mempercepat tempo gerakannya saat merasakan milik Fiona berkedut, siap untuk meledak.
"Ken... akuhh.. tidak tahan lagi...aku ingin keluar.." ucap Fiona.
"Keluarkan sayang... keluarkan untuk ku."
Fiona akhirnya meledak, Kendrick berhenti sejenak. Membiarkan wanitanya menikmati puncaknya.
"Sekarang giliran ku baby.." ucap Kendrick kembali bergerak. Fiona merancau, melenguh dan menyebut nama pria itu dengan tangan menutupi mulutnya.
"Ouhhhh sayang... aku akan sampai.." rancau Kendrick mempercepat temponya hingga akhirnya sampai.
"Fiona.. " pekik Kendrick mencapai pelepasannya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fiona.
"Terima kasih sayang..." ucap Kendrick mengecup leher Fiona.