Forbidden Desire

Forbidden Desire
Bab 45:Balkon



Sean menangis membuat Kendrick harus menghentikan kegiatan kesukaannya. Fiona tertawa pelan melihat raut wajah masam Kendrick. Baru saja 5 menit pria itu memainkan dua gundukan besar milik Fiona dan Sean sudah bangun.


"Ck..." decak Kendrick menutup matanya dengan bantal. Ia bahkan belum puas, putranya selalu saja menjadi saingannya.


Fiona turun dari atas tempat tidur sembari merapikan pakaiannya. Mengambil Sean yang sedang tengkurap di dalam box bayi.


"Cup.. cup.. cup... anak ganteng mommy sudah bangun ya..." ucap Fiona. Kata itu hanya akan di ucapkan nya saat Fiona sedang tidak bersama Shopie dan yang lainnya. Kecuali Kendrick. Pria itu bahkan selalu mengatakan pada Sean untuk memanggil Fiona sebagai mommy nya meskipun Sean belum mengerti.


"Mau minum ya sayang..." tukas Fiona. Anak berusia 4 bulan itu menepuk-nepuk dada Fiona seolah tidak sabar lagi untuk mencicipi sumber makanannya.


"Ken.. apa kamu ingin makan sesuatu? aku akan membuatkannya untuk mu," tukas Fiona sembari menyu.sui Sean di kursi meja riasnya.


"Aku ingin memakan mu saja bagaimana?" goda Kendrick menatap Fiona.


"Mesum.. kalau begitu tidak jadi," ucap Fiona merona.


"Ayolah.. apa kamu tidak ingin aku sembuh? aku akan sembuh jika sudah memasuki mu, membuat stamina ku pulih kembali," timpal Kendrick.


"Sudahlah.. sebaiknya kamu istirahat sekarang," tukas Fiona berjalan menuju balkon rumahnya.


"Sepertinya di balkon juga menyenangkan sayang. Bagimana jika kita mencobanya nanti malam," timpal Kendrick membuat Fiona membelalakkan matanya. Fiona memilih mengabaikan Kendrick karena ia tai jika ia menjawabnya, Kendrick tidak akan berhenti menggodanya.


***


Malam harinya, Fiona tidak mengira jika Kendrick akan benar-benar melakukannya di balkon kamarnya. Kendrick memang selalu membuat Fiona spot jantung. Fiona bahkan harus menutup mulutnya agar suaranya tidak keluar. Fiona mati-matian menahan suaranya agar mereka tidak ketahuan. Kendrick sengaja mematikan lampu di balkon dan membuka tirai kamar Fiona. Cahaya lampu dari kamar memantul hingga ke balkon.


"Auuchh.. shhh.." de.sah Fiona.


"Ken..." pekik Fiona dengan suara tertahan saat mencapai puncaknya. Nafasnya tersenggal-senggal memeluk tubuh Kendrick. Sungguh, Fiona selalu menikmati percintaan mereka. Kendrick benar-benar hebat. Bahkan saat sakit sekalipun, rasanya tenaga pria itu tidak berkurang.


"Sekarang giliran ku sayang.." bisik Kendrick sensual.


"Ken.. bisakah kita melakukannya di kamar, aku takut ada yang melihat kita," gumam Fiona dengan nafas yang belum teratur. Kendrick terkekeh. Ia lalu bangkit dari sofa, refleks Fiona melingkarkan kakinya di pinggang Kendrick agar tidak jatuh. Kendrick masuk ke dalam kamar tanpa melepas penyatuan mereka.


"Brukk.."


Keduanya ambruk di atas ranjang. Kendrick kembali memompa miliknya.


"Sshh.. sayang... kenapa kamu nikmat sekali..." desis Kendrick menggerakkan pinggulnya maju mundur. Tangannya ia gunakan untuk me.remas kedua gundukan milik Fiona. Benda bulat, besar dan kenyal yang menjadi favoritnya.


"Ahhh.. Ken.. lebih cepat," pinta Fiona. Kendrick menyeringai dan mempercepat gerakannya. Bunyi penyatuan tubuh mereka terdengar mengisi seluruh ruangan kamar. Kendrick semakin tidak sabaran. Ia menghentak kuat miliknya. Ia ingin mencapai pelepasannya.


"Sayang.. Fiona ahhh..." pekik Kendrick kuat saat keduanya mencapai pelepasan bersama. Kendrick memeluk erat tubuh Fiona. Merasakan degup jantung mereka yang ritmenya berlarian. Miliknya masih tertanam di sana. Sesekali ia hentakkan demi menuntaskan pelepasannya.


"Aku benar-benar kecanduan dengan mu. Kau selalu nikmat dan memuaskan sayang," bisik Kendrick menge.cupi leher Fiona.


Fiona merona mendengar kalimat pujian dari bibir pria itu.