
Robert mengecup singkat bibir Joyce. "Bagaimana jika kamu menjadi kekasih ku sekarang," ujar Robert mengecup kembali bibir Joyce. Wanita itu membulatkan kedua matanya mendengar penuturan Robert. Wajahnya merona dengan detak jantung yang menggebu-gebu.
Joyce memalingkan wajahnya, meyakinkan dirinya jika ia tidak salah dengar.
"Kamu belum menjawab ku Joyce.." ujar Robert memutar kepala Joyce.
"Ka.. kamu bilang a..apa tadi.." tukas Joyce gugup. Seketika otaknya terasa kosong.
"Aku ingin kita menjadi sepasang kekasih Joyce. Aku menyukai mu," ujar Robert.
Joyce tampak meneguk ludahnya, rasa gugup menghampiri dirinya.
"A... aku__"
"Mari kita buktikan..." pungkas Robert mencium bibir Joyce. Kali ini ciumannya begitu lembut, membuat Joyce terbuai hingga akhirnya ia mencoba membalas ciuman Robert. Dalam hatinya robert merasa senang. Kini wanita itu mulai bisa membalas ciuman itu. Keduanya saling me.*****. Satu tangan pria itu bergerak mengusap paha Joyce.
Cukup lama keduanya berciuman. Robert melepaskan bibirnya kala merasakan Joyce hampir kehabisan nafasnya. Robert kembali menyatukan kening mereka, menatap wajah merona Joyce. Robert menghapus sisa salivanya dibibir Joyce.
"Kau membuat ku hampir mati.." tukas Joyce dengan nafas tersenggal-senggal. Robert menyeringai.
"Bagaimana? aku pikir cara mu membalas ciuman ku tadi sudah membuktikannya," pungkas Robert membuat Joyce seolah tersadar dan membelalakkan matanya. Betapa bodohnya dirinya yang terbawa suasana sehingga membalas ciuman pria itu. Oh astaga... jantungnya berdetak tak karuan sekarang. Ingin rasanya cepat-cepat tiba di apartemennya.
"A.. aku ingin pulang Robert.." tukas Joyce memalingkan wajahnya.
"Baiklah kita akan pulang sekarang dan kita resmi pacaran bukan," balas Robert mengecup pipi Joyce. Tidak.. jangan lagi. Joyce terpaku, perlakuan Robert membuatnya diam seribu bahasa.
"Joyce tolong jawab. Aku ingin sebuah kepastian," tukas Robert.
Joyce menatap Robert, "Aku merasa tidak cocok untuk mu Robert. Aku takut keluarga mu tidak akan menyetujuinya. Lagi pula kita sangat jauh berbeda. Aku hanya orang miskin dan tidak berpendidikan. Aku tidak ingin mempermalukan kalian," ujar Joyce menunduk. Walau dalam hatinya ia ingin sekali menerima pernyataan cinta dari pria yang sudah lama di idam-idamkannya.
"Joyce, kamu tidak perlu khawatir. Ada aku di samping mu," balas Robert menggenggam tangan Joyce.
"Beri aku waktu 2 hari untuk memastikannya," tukas Joyce membuat Robert sedikit kecewa. Tapi ia tidak ingin memaksa Joyce.
Dalam perjalanan Joyce hanya diam saja. Ia juga tidak melarang Robert yang sedang mengenggam satu tangannya dan sesekali mengecupnya. Pria itu tidak segan-segan lagi untuk menyentuh Joyce sejak ia mengungkapkan perasaannya.
*******
New York
"Ken.. kamu haru kembali ke kamar mu. Biarkan Sean di sini. Aku yang akan menjaganya," ucap Fiona menyugarkan rambut Kendrick ke belakang. Nafas keduanya masih saling memburu setelah percintaan panas mereka.
"Aku masih menginginkan mu," ucap Kendrick menyesap puncak dada Fiona.
"Ken.. kembali atau kita tidak akan pernah melakukannya lagi," ucap Fiona. Kendrick berdecak lalu turun dari atas tubuh Fiona dan memakai kembali pakaiannya.
Fiona bangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, mengamati Kendrick yang sedang memakai pakaiannya.
"Sayang.. aku masih merindukan mereka," pungkas Kendrick duduk di tepi ranjang, me.remas salah satu gundukan Fiona dari balik selimut.
" Lima menit lagi ya. Aku masih merindukan mainan ku," ucap Kendrick dengan wajah memelas, tanganya bahkan sudah masuk ke dalam selimut memainkan benda bulat kesukaannya.
"Ken..!!" ujar Fiona memperingati Kendrick. Pria itu menghela nafasnya dan melepaskan tangannya dengan berat hati.
"Baiklah... selamat malam sayang.." ucap Kendrick mengecup singkat bibir Fiona lalu pergi.
Kendrick keluar dari kamar Fiona setelah melakukan kegiatan panas mereka. Selama satu jam Kendrick menggempur Fiona tanpa memberinya istirahat. Bahkan sekarang saja ia belum puas. Tapi karena Fiona mengancamnya, terpaksa ia harus kembali ke kamarnya.
"Ken.. kenapa kamu lama sekali," timpal Shopie yang melihat suaminya baru saja keluar dari kamar Fiona.
"Sean rewel, aku tidak tega membiarkan Fiona mendiamkannya sendirian. Akhir-akhir ini Sean rewel sekali," balas Kendrick berbohong.
"Jadi bagaimana dengan Sean sekarang? apa dia sudah diam," tukas Shopie. Kendrick mengangguk.
"Aku sudah mengantuk, sebaiknya kita kembali ke kamar," ucap Kendrick melangkahkan kakinya menuju kamar mereka. Shopie berjalan mengikuti Kendrick. Ia merasa semakin kesini, rasanya Kendrick banyak perubahan.