Forbidden Desire

Forbidden Desire
Bab 49: Tidak Perlu Bertemu Lagi



Setibanya di parkiran, Robert menurunkan Joyce dari gendongannya. Joyce yang tersadar jika dirinya sejak tadi ternyata digendong mendudukkan kepalanya.


"Siapa yang melakukan ini semua pada mu?" tanya Robert khawatir.


Joyce mendongak, menatap kedua netra Robert. Ia lalu menggelengkan kepalanya.


"Katakan pada ku Joyce, siapa yang melakukannya? jangan membuatku marah," ucap Robert menahan rasa marahnya. Joyce menunduk, jika Ia mengatakannya, mungkin Robert juga tidak akan percaya. Robert dan Kyle sangat dekat.


Sementara di belakang mereka ada Kyle yang sedang menguping. Ia tampak menelan ludahnya, mulai ketakutan. Jangan sampai Joyce mengatakannya. Jika sampai itu terjadi Robert akan marah padanya.


"Joyce... apa yang terjadi.." timpal Kyle tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Joyce terbelalak saat melihat Kyle. Sorot matanya menunjukkan rasa takut. Tatapan itu tidak lepas dari penglihatan Robert.


"Kenapa kamu bisa seperti ini. Bukan mah kamu tadi hanya ingin ke toilet saja?" tanya Kyle pura-pura khawatir.


"A.. aku__"


"Kyle, sepertinya aku harus mengantar Joyce pulang," ujar Robert memotong perkataan Joyce.


"Ah baiklah..." balas Kyle tersenyum ramah.


"Joyce.. ku harap kamu baik-baik saja. Nanti aku akan menghubungi mu lagi," ujar Kyle nenyentuh pundak Joyce dan sedikit menekannya. Joyce tentu saja mengerti arti cengkraman tangan Kyle di bahunya.


Joyce dan Robert lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Kyle yang mengepalkan kedua tangannya.


"Apa yang melakukannya Kyle.." ucap Robert membuka pembicaraan mereka di dalam mobil. Joyce tersentak.


"Kau tau, bahkan jika kamu tidak mengatakannya aku bisa mencari taunya sendiri. Tapi aku lebih suka jika kamu sendiri yang mengatakannya," tukas Robert.


"Aku yang membuat Kyle marah hingga melakukan ini pada ku," ucap Joyce pelan.


"Jangan marah padanya Robert. Ini semua salah ku. Aku yang memulainya. Aku tidak ingin pertemanan kalian rusak," tukas Joyce melirik Robert.


"Jangan bilang bekas tamparan di wajah mu kemarin itu juga karena ulahnya," timpal Robert. Diamnya Joyce seolah mengatakan kebenarannya.


Robert mere.mas setir mobilnya dan menepikannya. "Apa yang kamu lakukan padanya hingga membuatnya marah?" tanya Robert menatap Joyce.


"Aku rasa Kyle mencintai mu Robert. Mungkin dia mengira jika aku akan mengambil mu darinya. Dia menganggap ku saingannya. Aku sudah katakan padanya jika kita tidak punya hubungan apa-apa padanya. Kyle tidak percaya," tukas Joyce.


"Aku harap setelah ini, kita tidak perlu bertemu lagi. Aku tidak ingin Kyle marah dan melukai ku lagi," tukas Joyce refleks membuat Robert membulatkan kedua matanya.


"Bagaimana jika aku bilang kita punya hubungan.." tukas Robert. Sontak Joyce melihat Robert.


"A.. apa mak__ mmmpptthhh.." Robert meraup bibir Joyce, tidak memberikan kesempatan untuk Joyce melanjutkan perkataannya. Jika dihitung-hitung, ini adalah ciuman ketiga mereka. Dan Robert lah yang selalu memulainya.


Joyce mencoba mendorong tubuh Robert, namun tenaga pria itu lebih kuat darinya. Robert menggigit bibir bawah Joyce hingga membuat Joyce meringis dan membuka mulutnya. Robert memanfaatkan kesempatan itu untuk menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Joyce. Kedua tangannya menahan kepala Joyce. Sejak tadi ia ingin mencium bibir Joyce. Bibir yang menjadi candunya sejak pertama kali ia menciumnya.


Robert yang merasakan Joyce mulai kehabisan nafas, akhirnya melepaskan ciumannya. Robert lalu menyatukan kening mereka. Ia bisa mendengar deru nafas Joyce yang tersenggal-senggal. Sebuah senyuman terukir di bibir Robert.