Forbidden Desire

Forbidden Desire
Bab 22: Memuja



Fiona terbangun dan menyadari seseorang yang sedang memeluknya dari belakang. Tentu saja ia tau siapa yang memeluknya. Tadi malam, Kendrick tidak melepaskannya hingga akhirnya ia tertidur. Fiona melirik jam weker di atas nakasnya yang sudah menunjukkan angka 3 dini hari.


Perlahan Fiona memindahkan tangan pria itu dari pinggangnya lalu memutar tubuhnya. Fiona terkejut saat melihat Kendrick yang ternyata sudah bangun, pria itu tidur menyamping dengan satu tangan menahan kepalanya.


"Terkejut hmm.." ucap Kendrick pelan. Fiona mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum salah satu tangan pria itu merayap di kepalanya dan mengelus rambut kepala Fiona dengan lembut. Entah mengapa gerakan tangan Kendrick di kepalanya membuatnya terbuai.


"Kita belum melanjutkan yang tadi," ucap Kendrick menarik salah satu sudut bibirnya.


"Ssshhh.." desis Fiona saat merasakan salah satu benda kenyalnya dire.mas oleh Kendrick. Entah sejak kapan tangan pria itu berpindah dari kepala ke dadanya. Kendrick kembali menindih tubuh Fiona dan mencium hendak bibir wanita itu. Untung saja Fiona lebih dulu menutup mulut Kendrick dengan kedua tangannya.


"Hentikan Ken," ucap Fiona


"Jangan lakukan ini. Aku bisa mengatakannya pada Bibi," ucap Fiona mengancam. Kendrick menyeringai, men.ji.lat telapak tangan Fiona. Sontak Fiona menjauhkan tangannya dari mulut Kendrick.


"Jangan terlalu percaya diri sayang. Bagaimana kalau Shopie tidak percaya pada mu," tukas Kendrick membuat Fiona menciut. Benar saja, kemungkinan besar, bibinya akan lebih percaya dengan Kendrick.


"Maka dari itu, akan lebih baik jika kamu tidak mengatakannya," ujar Kendrick mendekatkan bibirnya ke bibir Fiona. Wanita itu langsung memalingkan wajahnya.


"Kau tau kamu membuat ku tergila-gila Fiona, sejak pertama kali aku melihat mu. Aku tidak tau apa yang kamu lakukan pada ku hingga aku jadi seperti ini. Apa kamu tidak merasakannya, dekat dengan mu seperti ini saja, dia sudah mengeras," tukas Kendrick menekan miliknya yang sudah mengeras dan tentu saja Fiona tau apa yang Kendrick maksud. Ia bukan orang yang sangat polos yang tidak tau apa-apa. Fiona beberapa kali membaca novel dewasa.


"Milik ku tidak sabar ingin merasakan milik mu yang hangat itu," bisik Kendrick sensual meniup daun telinga Fiona.


"Aku sangat memuja mu Fiona," ucap Kendrick mengusap lembut paha Fiona.


"Aku tau jika kamu juga tertarik dengan ku," bisik Kendrick memberikan gigitan kecil di telinga Fiona. Wanita itu membulatkan kedua matanya, sepertinya perkataan Kendrick benar. Awalnya ia memang tertarik pada Kendrick sebelum ia tau jika Kendrick adalah suami Bibinya.


"Jadi.. mari kita bersenang-senang baby.." tukas Kendrick menahan kedua tangan Fiona di atas kepala wanita itu. Kendrick mulai mencium bibir Fiona. Meskipun Fiona berusaha menolaknya, Kendrick tidak putus asa. Ia memberikan ciuman yang lembut, menggoda Fiona. Ia tidak akan memberikan kesempatan pada Fiona untuk menolaknya. Meskipun ia yang memaksanya.


Ciuman Kendrick turun ke leher jenjang Fiona. Menggoda Fiona dengan lidahnya yang menjelajahi leher putih itu. Fiona merasakan desiran aneh dalam tubuhnya. Ia bergerak gelisah ditempatnya. Ingin menolak setiap perlakuan Kendrick pada tubuhnya namun sepertinya tubuhnya bereaksi lain. Sialnya, tubuhnya itu seolah meminta Kendrick memanjakannya dengan hal yang lebih. Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Kendrick menurunkan tali gaun tidur Fiona menampilkan salah satu gunung kembar miliknya. Pria itu mulai menggoda Fiona dengan bermain-main di puncak gunung itu. Mengecupnya dan mengulumnya.


"Sudah ku katakan bukan, kamu tidak akan bisa menolak ku sayang. Mulut mu memang menolak, tapi tubuh mu tidak," ucap Kendrick menggigit gemas puncak gunung milik Fiona.


"Ssshhh.. astagahh.... " desis Fiona menggelinjang, memejamkan kedua matanya. Mendengar suara sexy Fiona semakin menambah semangatnya. Kendrick meraup puncak dada Fiona dan menyesapnya seperti bayi kehausan. Anehnya Fiona menyukainya karena sejak pulang dari rumah sakit, ia merasakan puncak dadanya yang gatal. Fiona tak tahan, ia melepaskan tangannya dari cekalan Kendrick yang mulai melonggar.


"Akh.. Jangan me.re.masnya dengan kuat," pekik Fiona menjambak rambut kepala Kendrick. Dadanya terasa ngilu dan saat Kendrick menekannya dengan kuat, rasanya begitu sakit sekali.


"Apa aku sudah gila... seharusnya aku mendorongnya.." batin Fiona. Bukannya berusaha melepaskan diri, sekarang ia malah menikmatinya. Dasar bodoh. Tapi sungguh.. Fiona tidak bisa berpikir dengan jernih karena rasa nikmat yang menjalar di tubuhnya. Mulut Kendrick terus bermain di dada Fiona. Namun tangannya ia gunakan untuk melepas penutup bagian bawah Fiona.


Kendrick bangkit dan turun dari atas tempat tidur. Spontan membuat Fiona membuka matanya karena kehilangan sesuatu.


Kendrick terkekeh, "Sabar sayang.." ujarnya menunduk. Fiona sedikit mengangkat tubuhnya melihat Kendrick yang menunduk, dan menyingkap ke atas gaun tidurnya. Pria itu lalu menenggelamkan wajahnya di miliknya. Memainkan lidah dan bibirnya di sana membuat Fiona men.de.sahkan nama Kendrick.


Tak lama kemudian Fiona merasakan jika dirinya ingin meledak. Ia menjepit kepala Kendrick dengan kedua pahanya. Fiona bangkit, menekan kuat kepala Kendrick.


Kendrick mengangkat kepalanya setelah Fiona mencapai puncaknya. Wanita itu terlihat lemas dengan nafas yang memburu. Fiona menjatuhkan kepalanya di leher kendrick. Kedua tangannya melingkar di leher pria itu.


"Kau menyukainya?" tanya Kendrick mengusap rambut Fiona. Wanita itu hanya diam saja.


"Fiona.." panggil Kendrick. Tidak ada jawaban.


"Tertidur.." gumam Kendrick. Sial, bagaimana bisa Fiona tidur sementara dia belum di puaskan. Kendrick mengangkat tubuh Fiona dan menidurkannya di atas ranjang.


"Dasar curang.." tukas Kendrick menyentil kening Fiona. Wanita itu hanya meringis kecil.


Kendrick menarik selimut dan menutupi tubuh mereka. Tangannya kemudian menyusup ke dalam baju Fiona yang tidur membelakanginya.


"Aku akan memijatnya dengan pelan," bisik Kendrick mengecup kepala Fiona dengan tangan memijat lembut dada Fiona. Ia pikir dada wanita itu terasa ngilu karena efek dari induksi laktasi yang dilakukannya.